Ada satu jenis lelah yang tidak bisa disembuhkan tidur. Kamu bangun dan sudah merasa tertinggal. Pekerjaan yang dulu bikin kamu tertarik sekarang rasanya seperti berjalan menyeret kaki di pasir basah. Kamu jadi lebih cepat ketus ke orang lain dari yang seharusnya, dan sedikit malu soal itu setelahnya. Kamu terus bilang ke diri sendiri akan istirahat kalau masa sibuk ini sudah lewat, tapi masa sibuk itu tidak pernah benar-benar berakhir.
Kalau ada yang kamu rasakan seperti itu, kamu bukan lemah dan bukan gagal. Kamu sedang kehabisan sesuatu yang nyata. Orang-orang yang mengalami burnout justru sering adalah yang paling peduli dan paling banyak memberi, yang jadi semacam ironi yang menyakitkan. Semakin pintar kamu menopang beban orang lain, semakin mudah kamu justru menyeret dirimu sendiri sampai jatuh.
Ini bukan tulisan soal melakukan lebih sedikit karena kamu pantas istirahat, walaupun mungkin memang begitu. Ini soal kenyataan yang lebih praktis. Energimu adalah sumber daya yang menjalankan semuanya. Ketika energi habis, penilaianmu ikut hilang, kesabaranmu ikut hilang, begitu juga kestabilan yang diandalkan orang-orang di sekitarmu. Menjaga energi bukan egois. Itu bagian dari pekerjaan yang tidak pernah tertulis di deskripsi tugas.
Sebenarnya, apa itu burnout?
Penting untuk lebih tepat, karena kata "burnout" sering dipakai untuk apa saja, dari minggu yang berat sampai keruntuhan yang sungguhan. World Health Organization mendefinisikannya secara spesifik sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik. Mereka menjelaskan tiga bagian: penurunan energi yang dalam atau kelelahan, rasa jarak atau sinisme yang makin membesar terhadap pekerjaan, dan perasaan tidak menyelesaikan apa-apa, seperti kamu kehilangan keefektifanmu.
Perhatikan apa yang tidak dikatakan di sini. Bukan "kamu tidak cukup kuat." Ini soal sesuatu yang kronis. Stres yang terus-menerus, tanpa pemulihan yang sungguhan di antaranya, sampai akhirnya kering. WHO dengan sengaja menyebutnya fenomena pekerjaan, bukan kondisi medis, dan ini pembeda yang penting: ini terjadi pada orang-orang yang mampu, di dalam kondisi kerja mereka, bukan karena ada yang salah pada diri mereka.
Pembalikan sudut pandang ini penting karena begini cara burnout biasanya diperlakukan. Orang menunggu sampai benar-benar hancur, lalu menyalahkan diri sendiri untuk itu. Padahal kelelahan itu sejak awal adalah data. Ia sedang memberi tahu kamu bahwa kecepatan dan tuntutan sudah melampaui kemampuanmu untuk pulih, dan ada sesuatu yang harus mengalah.
Bukan waktu yang jadi sumber daya. Tapi energi.
Kebanyakan dari kita mencoba mengatasi kelebihan beban dengan mengatur waktu. Kita membuat jadwal yang makin rapat, bangun makin pagi, memepatkan setiap sela waktu. Tapi waktu itu tetap. Kamu tidak akan pernah punya lebih dari dua puluh empat jam, dan mencoba menang dengan menghabiskan lebih banyak waktu justru membuat orang bekerja sampai tengah malam dan tetap merasa tertinggal.
Dalam artikel Harvard Business Review yang banyak dikutip, Tony Schwartz dan Catherine McCarthy berpendapat bahwa tumpuan yang lebih baik adalah energi, bukan waktu. Poin yang layak diingat adalah ini: energi bisa diperbarui. Energi datang dari beberapa sumber berbeda, tubuhmu, emosimu, fokusmu, rasa maknamu, dan masing-masing bisa terkuras dan terisi kembali. Waktu hanya bisa berkurang. Energi bisa kembali, kalau kamu memberinya kesempatan.
Perubahan sudut pandang ini mengubah arti "menjaga diri sendiri" sepenuhnya. Itu bukan lagi hadiah yang kamu dapat setelah pekerjaan selesai. Itu jadi perawatan yang membuat pekerjaan bisa selesai sama sekali. Jalan kaki sebentar yang membuat pikiranmu jernih bukan waktu yang dicuri dari harimu. Itu yang membuat dua jam berikutnya lebih berarti dari dua jam sebelumnya.
Ke mana sebenarnya energimu bocor?
Masalahnya, penguras energi terbesar jarang yang dramatis. Biasanya bukan satu rapat yang berat. Tapi rembesan yang stabil dan tak terlihat.
Mayo Clinic, dalam kajiannya tentang burnout kerja, menunjuk beberapa penyebab yang muncul lagi dan lagi. Beberapa layak disebutkan karena begitu kamu melihatnya, kamu bisa mulai melakukan sesuatu:
- Kehilangan kendali. Tidak punya suara yang nyata atas beban kerja, jadwal, atau cara pekerjaan dilakukan, itu merusak dengan cara yang berbeda dari sekadar banyaknya pekerjaan. Orang bisa memikul beban yang besar kalau mereka merasa punya sedikit kendali atasnya. Ambil kendali itu, dan beban yang biasa saja mulai menghancurkan.
- Ekspektasi yang tidak jelas. Kalau kamu tidak benar-benar tahu apa yang diharapkan darimu, atau tujuannya terus berubah, kamu menghabiskan banyak energi hanya untuk menebak-nebak. Kamu tidak pernah merasa selesai karena kamu tidak pernah yakin seperti apa "selesai" itu.
- Tidak ada batas antara bekerja dan tidak bekerja. Saat pekerjaan merembes ke setiap malam dan setiap akhir pekan, tubuhmu tidak pernah menerima sinyal bahwa keadaan darurat sudah berakhir. Tubuh tetap dalam kesiapan yang rendah dan diam-diam terus membakar bahan bakar sepanjang hari, bahkan ketika kamu scroll ponsel sambil berpura-pura santai.
Kamu tidak akan bisa memperbaiki semua ini sendiri, dan memang seharusnya tidak perlu. Tapi mengenali mana yang paling terasa buatmu adalah langkah awal. Solusi untuk ekspektasi yang tidak jelas (obrolan langsung dengan atasanmu) benar-benar berbeda dari solusi untuk tidak adanya batas (garis tegas di penghujung hari). Menganggap semuanya sebagai satu kabut besar bernama "stres" hanya membuatmu tetap terjebak.
Menjaga energi dengan sengaja
Menjaga energimu sebagian besar soal kebiasaan kecil yang tidak mentereng, tapi dilakukan secara konsisten. Beberapa yang benar-benar membantu:
- Pilih satu batas yang nyata dan pegang itu. Bukan sepuluh. Satu saja. Mungkin itu tidak membalas email setelah jam tertentu, makan siang jauh dari meja kerja, atau satu malam dalam seminggu yang benar-benar milikmu, apapun yang terjadi. Satu batas yang benar-benar kamu jaga lebih baik daripada lima cita-cita yang kamu langgar sebelum hari Selasa.
- Lindungi waktu pemulihanmu seperti itu adalah sebuah rapat. Masukkan jalan kaki, olahraga, atau makan siang ke dalam kalender dan pertahankan itu seperti kamu mempertahankan panggilan dengan klien terpentingmu. Kalau tidak dijadwalkan, itu yang pertama kali akan tergerus.
- Bicarakan soal beban kerjamu sebelum kamu tenggelam. Kebanyakan orang menunggu sampai sudah benar-benar tenggelam untuk minta bantuan, padahal saat itu energi mereka untuk memperjuangkan diri sendiri justru paling sedikit. "Minggu ini aku bisa menyelesaikan A dan B dengan baik, tapi C harus menunggu atau dialihkan ke orang lain" adalah kalimat yang wajar, bukan pengakuan gagal.
- Perhatikan apa yang mengisi ulang energimu, bukan hanya apa yang menguras. Sadari bagian pekerjaan mana yang membuatmu merasa bertenaga, bukan terkuras, dan condongkan dirimu ke arah itu kalau bisa. Energi bukan hanya soal pengurangan.
- Biarkan sebagian hal cukup dilakukan dengan baik saja, tidak harus sempurna. Sebagian besar kelelahan datang dari memoles sesuatu yang sebenarnya tidak perlu bersinar. Simpan kesempurnaan untuk yang benar-benar layak, dan biarkan sisanya sekadar cukup.
Tidak ada satu pun dari ini yang dramatis. Itu justru intinya. Burnout terbangun perlahan, dari seribu kelebihan usaha kecil, jadi burnout juga dibongkar perlahan, dari perlindungan-perlindungan kecil yang kamu ulangi sampai jadi cara kamu bekerja sehari-hari.
Bagaimana kalau sudah melewati sekadar kebiasaan?
Kadang hal-hal kecil tidak cukup, dan penting untuk jujur pada dirimu sendiri soal batas itu.
Kalau kelelahan tidak juga hilang meski sedang libur, kalau kamu sudah berhenti peduli pada pekerjaan yang dulu terasa bermakna, kalau kamu lebih mudah tersinggung atau lebih menarik diri dari biasanya, tidur buruk, atau merasakan kehampaan yang datar dan terus mengikutimu sampai pulang, itu tanda-tanda yang perlu ditanggapi serius, bukan sekadar ditahan. Panduan Mayo Clinic jelas soal ini: bicaralah dengan tenaga profesional kesehatan atau profesional kesehatan mental. Burnout yang berkepanjangan bisa bertumpang tindih dengan depresi dan kondisi lain yang benar-benar bisa membaik dengan dukungan yang tepat, dan klinisi yang baik bisa membantumu membedakannya.
Meminta bantuan bukan pengakuan bahwa kamu tidak bisa menghadapinya. Orang-orang paling tangguh yang kamu kenal pun pernah menabrak tembok yang sama. Yang membedakan mereka yang berhasil pulih dengan baik bukan ketahanan. Tapi mereka minta bantuan sebelum tembok itu makin membesar.
Orang-orang yang bergantung padamu tidak butuh kamu yang berjalan dengan sisa-sisa tenaga. Mereka butuh kamu di sini, stabil, untuk jangka panjang. Menjaga energimu sendiri adalah cara kamu tetap jadi orang itu. Mulai dengan satu batas kecil minggu ini, dan pertahankan itu.
Sumber
- World Health Organization, Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases
- Harvard Business Review, Manage Your Energy, Not Your Time (Tony Schwartz and Catherine McCarthy)
- Mayo Clinic, Job burnout: How to spot it and take action