Ada satu jenis "iya" yang sudah kamu sesali bahkan saat kata itu masih keluar dari mulutmu. Seseorang minta satu hal lagi, dan kamu mendengar dirimu sendiri menyetujui sebelum sempat mengecek apakah kamu punya ruang untuk itu. Rasa lega di wajah mereka langsung terlihat. Rasa legamu datang belakangan, jauh belakangan, saat kamu duduk di meja kerja jam sembilan malam, mengerjakan hal yang tak pernah sempat kamu kerjakan, sambil bertanya-tanya kenapa kamu bisa berakhir di situasi ini lagi.
Di situlah sebenarnya banyak burnout berawal. Bukan pada satu krisis besar. Tapi pada tumpukan kecil. Sebuah tolong-menolong di sini, rapat yang sebenarnya tidak perlu kamu hadiri, proyek yang kamu ambil karena tidak ada yang lain mau, pesan yang kamu balas tengah malam karena terasa lebih mudah daripada menanggung rasa bersalah menunggu sampai pagi. Masing-masing kecil. Kalau digabung, itulah keseluruhan masalahnya.
World Health Organization kini memperlakukan burnout sebagai fenomena okupasional resmi, dan deskripsinya layak direnungkan sejenak. Menurut definisinya, burnout adalah sindrom yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Ada tiga tanda yang muncul: kelelahan yang mendalam, sinisme atau rasa jarak yang makin besar terhadap pekerjaan, dan perasaan yang perlahan tumbuh bahwa kamu sudah tidak becus lagi di pekerjaanmu. Baca lagi bagian terakhir itu. Orang yang tenggelam dalam burnout sering merasa gagal, justru di saat mereka sedang bekerja paling keras. Ironi kejam itu salah satu alasan kenapa banyak dari kita menanggapi burnout tahap awal dengan mengambil lebih banyak beban, bukan menguranginya.
Mengatakan tidak adalah remnya. Bagi banyak orang, itu juga hal tersulit dalam daftar ini.
Kenapa "tidak" begitu sulit diucapkan?
Kalau mengatakan tidak itu mudah, tidak ada dari kita yang akan kelelahan. Ada alasan nyata di balik kesulitan ini.
Sebagian karena rasa takut. Kamu khawatir "tidak" akan berharga mahal, bahwa kamu akan terlihat tidak berkomitmen, bahwa kesempatan itu tidak akan datang lagi, bahwa orang yang meminta akan memandangmu lebih rendah. Sebagian lagi soal jati diri. Kalau kamu sudah membangun reputasi sebagai orang yang bisa diandalkan, orang yang selalu ada, setiap kata "tidak" terasa seperti pengkhianatan kecil terhadap dirimu sendiri. Dan sebagian lagi murni soal kebaikan hati. Kamu memang ingin membantu. Mengatakan "iya" terasa murah hati, dan mengatakan "tidak" terasa seperti mengecewakan seseorang.
Ada hal yang mudah terlewat kalau kamu sedang berada di tengah situasi itu. Setiap "iya" juga sekaligus sebuah "tidak". Ketika kamu bilang "iya" untuk komite tambahan, kamu sedang bilang "tidak" pada pekerjaan mendalam yang sudah kamu rencanakan, atau makan malam bersama keluarga, atau waktu tidur. Kamu tidak bisa lolos dari pertukaran itu. Kamu hanya bisa memilih apakah pertukaran itu terjadi dengan sengaja atau tanpa sadar. Saat ini, bagi banyak orang yang bebannya sudah berlebihan, itu terjadi sepenuhnya tanpa sadar, dan yang kalah adalah hal-hal yang diam, yang tidak pernah meminta apa-apa.
Penulis Joseph Grenny menegaskan hal ini dengan tajam di Harvard Business Review. Mengatakan tidak pada ajakan, tulisnya, adalah cara kamu melindungi kemampuanmu untuk mengatakan iya pada hal-hal yang paling penting. Seorang pematung membentuk sosoknya dengan mengurangi batu. Kamu membangun kehidupan kerja dengan cara yang sama, lewat apa yang kamu tolak.
Batasan adalah versi yang bertahan lama
Mengatakan tidak pada saat itu juga adalah sebuah keterampilan. Menetapkan batasan adalah sistem yang membuatmu tidak perlu terlalu sering memakai keterampilan itu.
Batasan hanyalah aturan yang sudah kamu tentukan lebih dulu tentang bagaimana kamu akan menggunakan waktu dan energimu, supaya kamu tidak perlu memutuskan ulang setiap kali. "Aku tidak menerima rapat sebelum jam sepuluh." "Aku tidak membalas pesan kerja setelah makan malam." "Aku tidak menambah proyek tanpa melepas satu proyek lain." Ketika aturan itu sudah ada sejak awal, keputusan sulitnya sudah selesai diambil. Kamu tidak sedang mengumpulkan kemauan keras di tengah situasi. Kamu sedang mengikuti garis yang kamu buat saat kamu tenang dan berpikiran jernih, yang merupakan satu-satunya saat orang bisa membuat garis batas yang baik.
Riset mendukung manfaatnya. American Psychological Association, dalam tulisannya tentang burnout di tempat kerja, menyebut sejumlah kecil hal yang benar-benar melindungi orang, dan salah satu yang teratas adalah izin untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan selama rentang waktu tertentu. Bukti-bukti yang sama mengaitkan burnout kronis dengan sejumlah dampak berat, mulai dari depresi hingga penyakit fisik, dan itulah alasan tak glamor kenapa ini penting. Batasan bukan trik produktivitas atau keunikan kepribadian. Batasan lebih mirip perawatan untuk satu-satunya tubuh dan pikiran yang kamu miliki.
Mayo Clinic, saat meneliti apa yang sebenarnya memicu burnout kerja, menunjuk beberapa penyebab yang sudah familier: terlalu sedikit kendali atas pekerjaanmu sendiri, ketidakjelasan tentang apa yang diharapkan darimu, dan pekerjaan yang menelan begitu banyak waktu dan energi hingga tak tersisa apa pun untuk orang-orang yang kamu sayangi. Perhatikan berapa banyak dari itu yang langsung dijawab oleh sebuah batasan. Batasan adalah cara mengambil kembali sekeping kendali. Batasan membuat yang tersirat menjadi tersurat. Dan batasan mengukir ruang yang, kalau dibiarkan, akan selalu coba diisi habis oleh pekerjaan.
Bagaimana cara mengatakannya tanpa membuat musuh?
Rasa takut di balik kebanyakan "tidak" yang tak pernah diucapkan adalah bahwa kejujuran akan merusak hubungan. Kebanyakan hal itu tidak akan terjadi, asal kamu melakukannya dengan sedikit kehati-hatian. Berikut beberapa hal yang membantu.
Hangat, jelas, lalu berhenti bicara
"Tidak" yang baik itu singkat. "Makasih sudah memikirkan aku untuk ini. Aku belum bisa ambil ini sekarang." Itu kalimat lengkap dan jawaban lengkap. Dorongan untuk melunakkannya dengan lima paragraf pembenaran biasanya justru berbalik jadi bumerang, karena penjelasan panjang terbaca sebagai undangan untuk bernegosiasi, dan setiap alasan yang kamu berikan jadi pintu yang bisa dicoba dibuka orang lain. Kehangatan plus keringkasan lebih berhasil daripada kehangatan plus pembelaan diri.
Sampaikan alasanmu, bukan permintaan maafmu
Ada beda antara menjelaskan prioritasmu dan meminta maaf atas prioritas itu. Poin Grenny di HBR adalah, kalau kamu memang membagikan alasan, buatlah tentang apa yang sedang kamu lindungi, bukan tentang betapa menyesalnya kamu. "Aku sedang menjaga pagiku tetap kosong untuk persiapan peluncuran" memberi tahu orang lain apa yang kamu hargai. "Maaf banget, aku lagi banyak banget urusan" justru mengundang orang lain berdebat bahwa urusan mereka lebih penting. Yang satu menetapkan batasan. Yang lain membuka tawar-menawar.
Tawarkan pintu yang lebih kecil, kalau kamu mau
Kalau sebenarnya kamu ingin membantu tapi tidak bisa mengerjakan semuanya, katakan apa yang bisa kamu lakukan. "Aku enggak bisa memimpin ini, tapi aku bisa mengecek draf-nya sekali." "Aku enggak bisa ikut rapat rutin, tapi kirim aku catatannya dan aku akan kasih masukan." Ini bukan trik untuk melunakkan penolakan. Ini "iya" yang jujur dan lebih sempit, yang tetap menjaga hubungan sekaligus melindungi waktumu.
Putuskan sebelum menjawab
Sebagian besar penyesalan muncul karena menjawab secara reflek. Buat jeda. "Coba aku cek dulu kesibukanku, nanti aku kabari sebelum akhir hari" memberimu beberapa menit yang kamu perlukan untuk bertanya pada dirimu sendiri pertanyaan yang paling penting: kalau aku mengiyakan ini, aku sedang menolak apa? Kamu akan membuat keputusan yang sangat berbeda dengan pertanyaan itu di depan mata, dibanding tanpanya.
Bagaimana kalau batasannya di tempat kerja dan kamu tidak bisa begitu saja pergi?
Banyak saran soal batasan diam-diam mengasumsikan kamu punya semua kendali, padahal kebanyakan dari kita tidak begitu. Atasanmu yang memberi tugas. Budaya kerja yang menghargai orang-orang yang membalas pesan tengah malam. Mengatakan tidak pada atasan tidak sama dengan menolak ajakan makan malam teman, dan berpura-pura sebaliknya tidak ada gunanya.
Yang lebih berhasil adalah membuat batasanmu terlihat dan terasa wajar, bukan dramatis. Cleveland Clinic, dalam tulisannya tentang batasan di tempat kerja, membingkai banyak hal ini sebagai norma kecil yang dinyatakan: memberi tahu orang lain bahwa biasanya kamu tidak membalas pesan setelah jam tertentu, benar-benar mengambil waktu makan siangmu alih-alih makan sambil terus mengetik, memutuskan apa yang akan dan tidak akan kamu bicarakan di kantor. Kekuatan hal-hal ini bukan pada satu momen tertentu. Tapi pada konsistensinya. Batasan yang kamu pegang sembilan puluh persen dari waktu akan melatih orang-orang di sekitarmu. Batasan yang kamu umumkan lalu kamu tinggalkan justru mengajarkan hal sebaliknya, bahwa garis batasmu bisa bergeser kalau mereka mendesak.
Ketika masalahnya benar-benar soal beban kerja, percakapannya bergeser dari sekadar "tidak" menjadi soal prioritas. Alih-alih menolak mentah-mentah suatu tugas, kamu bisa meletakkan konsekuensinya di meja, agar atasanmu harus melihatnya. "Aku bisa ambil ini, tapi berarti laporannya mundur ke minggu depan. Mana yang lebih ingin Bapak/Ibu aku kerjakan lebih dulu?" Itu bukan pembangkangan. Itu menjadikan kapasitasmu sebagai fakta yang jujur dan dibagi bersama, bukan beban pribadi yang kamu pikul sendirian sampai akhirnya kamu jebol. Kebanyakan atasan yang masuk akal akan lebih suka mendengar itu, daripada tiga minggu kemudian menyadari semuanya dikerjakan asal-asalan karena tidak ada yang mengaku bahwa semuanya memang tidak bisa dikerjakan dengan baik sekaligus.
Kalau kamu memimpin orang lain, ini berlaku dua arah, dan perilakumu berbicara lebih keras daripada kata-katamu. Tim akan memperhatikan apa yang sebenarnya dilakukan atasan. Kalau kamu mengirim email jam sebelas malam dan bangga tidak pernah benar-benar "log off", maka izin yang kamu ucapkan untuk beristirahat tidak ada artinya, karena kamu sudah menunjukkan aturan yang sebenarnya. Batasan paling berguna yang bisa ditetapkan seorang pemimpin sering kali adalah yang ia terapkan pada dirinya sendiri.
Rasa bersalah itu pajaknya, dan kamu bisa membayarnya lebih sedikit
Bagi banyak orang, mengatakan "tidak" bukan bagian tersulitnya. Rasa bersalah setelahnya yang berat. Kamu menolak sesuatu yang sebenarnya wajar, lalu menghabiskan satu jam berikutnya memutar ulang kejadiannya, menyusun permintaan maaf yang sebenarnya tidak perlu kamu kirim, setengah berharap mereka akan bertanya lagi supaya kamu bisa bilang iya dan merasa lebih baik.
Rasa bersalah itu layak dipahami, karena ia berbohong. Ia bilang bahwa melindungi waktumu itu egois, bahwa orang baik pasti akan mencari cara, bahwa kamu sudah merusak sesuatu. Biasanya tidak begitu. Orang yang meminta tadi sudah move on dalam waktu sekitar sembilan puluh detik dan menemukan orang lain, atau mengerjakannya sendiri, atau memutuskan itu ternyata tidak sepenting itu. Krisis yang kamu bayangkan hampir tidak pernah benar-benar terjadi. Rasa bersalah itu perasaan, bukan ramalan.
Ada juga biaya yang lebih diam-diam kalau kamu terus-menerus mengabaikan rasa bersalah itu. Setiap kali kamu mengiyakan sesuatu bertentangan dengan penilaianmu sendiri hanya untuk menghindari ketidaknyamanan rasa bersalah, kamu mengajari dirimu sendiri bahwa batasanmu tidak berarti apa-apa. Kalau ini terjadi terus-menerus, kamu bahkan berhenti menyadari di mana batasanmu berada, dan itu jalan tersendiri menuju burnout. Menahan sedikit rasa bersalah yang sementara adalah harga dari sebuah batasan yang bertahan. Rasa itu akan memudar. Kekesalan yang menumpuk dari sebuah "iya" yang tidak kamu maksudkan, tidak akan memudar.
Ini berlaku sama pentingnya di rumah maupun di kantor. Batasan dengan keluarga, dengan teman, dengan grup chat yang berbunyi sepanjang hari, mengikuti aturan yang sama. Kamu boleh saja tidak bisa dihubungi setiap saat. Kamu boleh bilang bahwa berkunjung bulan ini tidak memungkinkan, atau bahwa kamu tidak bisa terus jadi orang yang selalu mengatur segalanya. Orang-orang yang menyayangimu bisa menerima kejujuranmu jauh lebih baik daripada menerima dirimu yang perlahan-lahan memendam kekesalan dan tidak pernah mengatakan yang sebenarnya.
Apa yang dibuka oleh "tidak"?
Ada cerita yang beredar tentang orang-orang yang menetapkan batasan, bahwa mereka kaku, egois, tidak bisa diajak kerja sama. Kenyataannya sering justru sebaliknya. Orang yang mengatakan "tidak" dengan tegas dan benar-benar bermaksud begitu jauh lebih mudah diajak kerja sama dibanding orang yang selalu bilang "iya" ke semua hal lalu diam-diam mengesalkan, kehilangan tenggat waktu, atau burnout lalu menghilang selama tiga bulan. "Tidak" yang bisa diandalkan adalah bentuk kejujuran. Orang jadi percaya padanya, karena mereka tahu "iya"-mu memang sungguhan.
Dan ruang yang kamu lindungi itulah inti persoalannya. Pekerjaan mendalam yang hanya terjadi ketika kamu tidak diganggu. Hubungan-hubungan yang layu ketika pekerjaan melahap setiap malammu. Versi dirimu yang tidak lelah, tidak sinis, dan tidak yakin bahwa kamu sedang gagal. Hal-hal itu tidak berebut perhatianmu. Mereka menunggu, dengan tenang, sampai kamu memilih mereka. Mengatakan "tidak" adalah caramu memilih mereka.
Semua ini bukan berarti kamu harus bertahan sendirian. Kalau kamu sudah berada di tengah situasi berat, kalau kelelahannya tidak juga hilang bahkan di akhir pekan, kalau kamu sudah berhenti peduli pada pekerjaan yang dulu kamu cintai, kalau sinisme sudah mulai merembes ke bagian lain hidupmu, itu patut ditanggapi serius dan dibicarakan dengan dokter atau terapis. Batasan itu melindungi, tapi bukan obat untuk burnout yang sudah terlanjur dalam. Kadang, "tidak" yang paling penting adalah yang kamu ucapkan pada gagasan bahwa kamu harus menghadapi semua ini sendirian.
Sumber
- World Health Organization, Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases
- American Psychological Association, Employers need to focus on workplace burnout: Here's why
- Harvard Business Review, How to Say "No" at Work Without Making Enemies (Joseph Grenny)
- Cleveland Clinic, How To Set Personal Boundaries at Work