Ada rasa kecewa tertentu yang sering menyergap orang tanpa aba-aba. Kamu akhirnya mendapatkan hal yang selama ini dikejar. Promosi, jabatan, angka di rekening, rumah dengan ruangan yang selalu kamu inginkan. Selama satu atau dua minggu, rasanya seperti sudah "sampai". Lalu perasaan itu menipis, garis finish diam-diam bergeser ke depan, dan kamu mendapati dirimu mengulurkan tangan ke hal berikutnya, sedikit bingung kenapa yang kemarin tidak bertahan.
Kebingungan itu layak direnungi, karena biasanya itu berarti kamu sedang mengejar definisi sukses yang sebenarnya tidak pernah kamu pilih sendiri.
Kebanyakan dari kita menyerap gagasan tentang "berhasil" seperti menyerap logat bahasa. Dari orang tua yang mengukur nilai diri lewat kestabilan, setelah masa kecil yang serba pas-pasan. Dari budaya yang memberi angka pada segala hal. Dari rekan kerja yang lebih dulu naik jabatan, teman yang hidupnya kelihatan mudah di media sosial, versi dirimu yang kamu bayangkan waktu umur dua puluh dua. Saat kamu cukup dewasa untuk mempertanyakan semua itu, papan skor itu sudah terasa seperti hukum alam. Permanen. Sudah jelas. Tidak bisa didebat.
Padahal bisa didebat. Dan orang-orang yang paling baik menjalani karier panjang, yang masih berdiri dan masih jadi diri sendiri belasan atau puluhan tahun kemudian, biasanya sudah lebih dulu melakukan kerja yang tidak keren, yaitu menentukan aturan permainannya sendiri, sebelum menghabiskan hidup untuk memainkannya.
Papan skor pinjaman
Ketika Boris Groysberg dan Robin Abrahams meneliti bagaimana para profesional menilai hidup mereka sendiri, mereka menarik garis antara dua jenis ukuran. Ukuran objektif adalah penanda yang mudah dihitung: jabatan, gaji, prestise logo di kartu namamu, sekolah tempat anak-anakmu diterima. Ukuran subjektif lebih sulit dimasukkan ke dalam spreadsheet: kepuasan menyelesaikan masalah yang sulit, orang-orang yang bekerja bersamamu, apakah kamu senang saat melangkah masuk ke rumah.
Penanda objektif punya daya tarik yang jelas. Mereka mudah dibaca. Semua orang paham arti sebuah jabatan. Tidak perlu menjelaskan gaji ke siapa pun. Kamu bisa membandingkannya antar-orang dalam waktu setengah detik, dan justru itulah yang membuatnya begitu mudah diadopsi dan begitu diam-diam merusak. Papan skor yang bisa dibaca sekilas adalah papan skor yang dibuat agar orang lain bisa membacamu.
Semua ini bukan berarti uang atau jabatan tidak penting. Mereka penting. Riset yang jujur soal pendapatan justru lebih menarik daripada slogan "uang tidak bisa membeli kebahagiaan". Dalam sebuah studi cermat yang akhirnya menjawab perdebatan panjang di bidang ini, Matthew Killingsworth, Daniel Kahneman, dan Barbara Mellers menemukan bahwa bagi kebanyakan orang, kebahagiaan sehari-hari terus naik seiring bertambahnya pendapatan, tanpa titik batas yang jelas di mana kenaikan itu berhenti. Tapi ada jebakan yang tersembunyi di balik rata-rata itu. Untuk kelompok orang yang paling tidak bahagia, uang lebih banyak sebagian besar membeli kelegaan dari hal-hal yang membuat hidup terasa berat, dan kelegaan itu punya batasnya. Lewat titik tertentu, uang berhenti memberi perubahan berarti. Kalau uang jadi satu-satunya cara yang kamu andalkan untuk mengatasi ketidakbahagiaan yang lebih dalam, pada akhirnya cara itu berhenti berfungsi.
Jadi gambarannya bukan bahwa kesuksesan tidak penting. Tapi bahwa satu definisi kesuksesan yang tunggal, pinjaman, dan diukur dari luar, adalah pijakan yang terlalu tipis untuk menggantungkan seluruh hidup.
Ada ongkos dari tidak pernah menuntaskan pertanyaan ini, dan mudah terlewat karena ongkosnya berupa sesuatu yang tidak dilakukan. Tanpa definisi milikmu sendiri, kamu akan kembali ke definisi yang beredar di sekitarmu, dan definisi itu punya bias. Ia tertarik ke apa pun yang kelihatan, mudah dibandingkan, dan mengagumkan di mata orang asing. Ia diam-diam mengabaikan hal-hal yang tidak enak difoto: rumah yang tenang, keahlian yang kamu latih sampai jago, persahabatan yang kamu jaga tiga puluh tahun, tidak adanya rasa cemas di malam Minggu. Kamu bisa menang di setiap babak yang terlihat dan perlahan kehilangan bagian-bagian hidup yang tidak pernah dihitung siapa pun. Orang yang mencapai usia tertentu dengan penuh sesal jarang menyesali jabatan yang lebih kecil. Mereka menyesali tahun-tahun yang dihabiskan untuk mengejar ukuran yang sebenarnya tidak pernah mereka pilih sendiri.
Kenapa garis finish selalu bergeser?
Ada alasan kenapa kemenangan yang susah didapat itu cepat pudar, dan itu bukan kekurangan dalam dirimu.
Manusia beradaptasi. Apa pun yang sudah biasa kamu jalani dengan cepat menjadi "normal yang baru", dan ini luar biasa ketika hidup terasa berat (kamu menyesuaikan diri, kamu bertahan, kamu pulih), tapi menyebalkan ketika hidup terasa baik (kenaikan gaji jadi standar baru, pekerjaan impian jadi rutinitas Selasa biasa). Psikolog menyebut ini adaptasi. Sederhananya, lantai naik mengikuti ke mana pun kamu berdiri, sehingga pemandangan dari atas berhenti terasa seperti pencapaian dan mulai terasa seperti tempat kamu tinggal begitu saja.
Perbandingan menyiram bensin ke situasi ini. Kita tidak menilai hidup kita dalam ruang kosong. Kita menilainya dibanding orang-orang di sekitar kita, dan internet sekarang menyodorkan pasokan tak terbatas orang-orang yang tampak lebih baik dari kita. Peneliti yang mempelajari perbandingan sosial menemukan bahwa ketika kamu mengukur diri terhadap seseorang yang kamu anggap lebih unggul, dan kamu memaknainya sebagai penilaian atas nilai dirimu sendiri, itu cenderung membuatmu merasa lebih buruk, bukan termotivasi. Merasa kurang. Merasa tertinggal. Perbandingan yang sama kadang bisa menginspirasi, tapi hanya kalau kamu memaknainya sebagai bukti bahwa hal itu juga mungkin untukmu, bukan sebagai bukti bahwa kamu kalah.
Gabungkan adaptasi dan perbandingan, dan kamu dapat treadmill yang hampir semua orang sedang berlari di atasnya. Kamu mencapai target, kamu menyesuaikan diri dengannya, kamu melirik ke samping ke orang yang sedikit lebih jauh di depan, dan targetnya bergeser. Kamu bisa berlari di lomba itu selama empat puluh tahun dan tidak pernah merasa sudah tiba, karena garis finishnya memang tidak pernah tetap. Ia selalu hanya "sedikit lebih dari sekarang".
Cara turun dari treadmill itu bukan dengan berhenti menginginkan sesuatu. Tapi dengan memilih, secara sadar, hal-hal apa yang benar-benar kamu inginkan.
Menulis definisimu sendiri
Ini bagian yang kedengarannya lunak tapi ternyata hal paling praktis dalam esai ini. Definisi sukses yang bisa benar-benar kamu sebutkan namanya, punya fungsi nyata. Ia memberitahumu peluang mana yang perlu kamu iyakan. Ia memberitahumu kapan kamu sudah cukup dan bisa berhenti. Ia menstabilkanmu saat kemenangan orang lain mengancam mengguncang keseimbanganmu, karena kamu bisa mengeceknya dengan daftarmu sendiri, bukan dengan standar ruangan.
Berikut cara membangunnya. Ini butuh satu sore, bukan sebuah retret.
- Lihat hari-hari baikmu, bukan pencapaianmu. Ingat kembali setahun terakhir dan temukan beberapa hari biasa yang dengan senang hati ingin kamu ulangi. Bukan momen besar. Hari-hari biasa yang terasa pas. Tulis apa yang kamu lakukan, siapa yang bersamamu, apa isi jam-jam itu sebenarnya. Pola akan muncul dengan cepat, dan jarang sekali itu hal-hal yang ada di CV-mu.
- Sebutkan apa yang sebenarnya kamu perjuangkan, dengan katamu sendiri. Coba selesaikan kalimat ini dengan jujur: "Hidup yang baik, bagiku, punya lebih banyak ____ dan lebih sedikit ____." Mungkin itu lebih banyak kerja mendalam dan lebih sedikit "tampil". Lebih banyak waktu dengan anak-anakmu selagi mereka masih ingin dekat denganmu. Lebih banyak membuat sesuatu, lebih sedikit mengurus orang lain yang membuat sesuatu. Buat cukup konkret agar bisa dijadikan pedoman.
- Bagi ukuran-ukuranmu jadi dua: yang kamu pilih dan yang kamu warisi. Buat dua kolom. Di satu sisi, hal-hal yang tetap kamu inginkan meski tidak ada yang melihatnya. Di sisi lain, hal-hal yang sebagian besar kamu inginkan karena siapa yang akan terkesan. Jujur sejujur-jujurnya soal hal prestise itu masuk kolom mana. Kamu tidak harus melepaskannya. Kamu hanya perlu tahu bahwa itu ada di sana.
- Pilih beberapa hal saja yang benar-benar berarti. Tiga atau empat, bukan lima belas. Definisi yang mencakup segalanya tidak mengukur apa pun. Inilah hal-hal yang akan benar-benar kamu jadikan patokan keputusanmu.
- Tentukan seperti apa "cukup" itu. Ini langkah yang hampir semua orang lewatkan, dan justru inilah yang membuatmu turun dari treadmill. Untuk setidaknya satu bidang penting, sebutkan angka atau keadaan yang benar-benar akan terasa cukup, sehingga saat kamu melewatinya, kamu bisa mengarahkan energimu ke tempat lain, bukan sekadar menaikkan lagi standarnya.
Langkah terakhir itu perlu perhatian lebih, karena "cukup" adalah kata yang sulit diucapkan oleh kebanyakan orang yang ambisius. Kedengarannya bisa seperti menyerah, atau kurang semangat. Padahal bukan keduanya. Menyebutkan "cukup" adalah yang mengubah rasa lapar tanpa batas jadi tujuan yang tuntas, dan tujuan yang tuntas adalah satu-satunya jenis tujuan yang benar-benar bisa kamu capai. Tanpa itu, setiap kemenangan otomatis berubah jadi garis start baru, dan kamu tidak pernah benar-benar merasakan hal yang tadinya kamu perjuangkan. Kamu tidak perlu menyebutkan "cukup" untuk semua hal. Pilih satu atau dua bidang yang kamu curigai akan terus kamu kejar tanpa henti kalau tidak ada yang menghentikanmu, dan tarik garis di sana dengan sengaja. Garis itu bisa bergeser nanti. Cukup jadikan itu keputusan, bukan hanyutan.
Jangan mengejar manifesto yang sempurna. Kejar sesuatu yang cukup benar untuk dipakai, ditulis cukup sederhana sehingga setahun kemudian kamu masih mengenali dirimu di dalamnya.
Bagaimana kalau kamu memimpin orang lain?
Kalau ada orang yang melihatmu sebagai contoh (tim, perusahaan, anak yang mengamati bagaimana kamu menghabiskan hari Sabtu), definisi suksesmu diam-diam menjadi definisi yang mereka jadikan patokan juga. Orang membaca apa yang kamu hargai jauh lebih akurat daripada apa yang kamu katakan. Kalau kamu hanya memuji kemenangan yang terlihat, kamu mengajarkan semua orang di sekitarmu untuk mengejar papan skor pinjaman, papan skor yang sama yang membuatmu kosong. Perhatikan hal-hal yang lebih tenang tapi benar-benar penting, kerja yang teliti, pemulihan setelah masa sulit, orang yang membuat timnya lebih baik tanpa mengambil pujian, dan kamu memberi orang lain izin untuk mendefinisikan permainan yang lebih utuh.
Pemimpin yang paling mantap bukanlah yang punya angka paling keras. Mereka adalah yang tahu jelas untuk apa mereka ada, dan itu membuat mereka bisa berhenti berkompetisi di segala arah sekaligus. Kejelasan itu menular, dengan cara yang baik. Ia memberi orang di sekitarnya ruang untuk melakukan hal yang sama.
Beberapa peringatan jujur
Mendefinisikan ulang kesuksesan itu membebaskan. Tapi bisa juga disalahgunakan, jadi ini dua peringatannya.
Pertama, jangan pakai "mendefinisikan sukses dengan caraku sendiri" sebagai nama yang lebih sopan untuk menyerah pada sesuatu yang sulit, tepat sebelum hal itu mulai membaik. Ada perbedaan nyata antara melepaskan tujuan yang memang bukan milikmu, dan meninggalkan tujuan yang sekadar mulai terasa sulit. Ujinya adalah kejujuran soal alasanmu, dan itu sulit dijalankan sendirian. Teman yang bisa dipercaya, seorang mentor, atau pelatih yang baik bisa membantumu membedakan dua hal itu.
Kedua, definisimu boleh berubah. Versi yang kamu tulis di usia tiga puluh lima tidak seharusnya mengikat orang yang kamu jadi di usia lima puluh. Perlakukan itu sebagai dokumen hidup, ditengok ulang sesekali, bukan sumpah yang terpahat di batu.
Dan kalau pertanyaan yang sebenarnya ada di balik semua ini bukan sekadar "bagaimana aku mendefinisikan sukses" tapi sesuatu yang lebih berat (rasa hampa yang tidak mau hilang, perasaan bahwa tidak ada yang layak diperjuangkan, rasa sudah gagal dalam hidup yang bahkan belum terjadi), itu layak dibawa ke profesional. Terapis bisa membantu ketika masalahnya bukan lagi soal tujuan, tapi soal mood rendah atau kecemasan yang mewarnai segalanya. Itu bukan jalan memutar dari kerja ini. Kadang justru itu yang membuat kerja ini bisa dilakukan.
Hasil tenang dari semua ini sulit dilebih-lebihkan. Ketika kamu tahu, dengan katamu sendiri, apa yang kamu perjuangkan, suara bising pelan yang terus membandingkanmu dengan orang lain akan terasa jauh lebih tenang. Kamu tetap menginginkan sesuatu. Kamu tetap bekerja keras. Kamu hanya berhenti berlari di lomba orang lain, dan mulai berlari di lomba yang benar-benar akan membuatmu senang saat memenanginya.
Sumber
- Harvard Business Review, What Does Success Mean to You?
- Harvard Business Review, Make Your Career a Success by Your Own Measure
- National Center for Biotechnology Information, Income and emotional well-being: A conflict resolved (Killingsworth, Kahneman & Mellers, 2023)
- George Mason University, Center for the Advancement of Well-Being, Social Comparison Processes and Well-Being