Langsung ke konten utama

MEMAHAMI · STRES & KECEMASAN

Apa sebenarnya stres itu

Stres adalah respons tubuhmu terhadap tekanan atau ancaman, ini sistem bertahan hidup, bukan tanda ada yang rusak. Kita sering pakai kata ini untuk apa saja, dari minggu yang berat sampai ban kendaraan yang kempes. Memahami cara kerja sistem ini bisa mengubah caramu menghadapinya.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Pemandangan gunung dan matahari terbit dari ketinggian

Foto oleh Tadej Skofic di Unsplash

Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.

Ucapkan kata itu keras-keras dan perhatikan apa yang muncul. Bagi kebanyakan orang, itu adalah perut yang mengencang, kotak masuk yang penuh, seseorang yang mereka hindari, perasaan bahwa semuanya terlalu banyak dan waktu terlalu sedikit. Kita memakai kata "stres" untuk dua hal sekaligus: tekanan yang datang dari luar dan cara tubuh kita bereaksi terhadapnya. Itu sebagian alasan mengapa stres terasa begitu sulit dipegang. Kamu tidak bisa membenahi sesuatu yang tidak benar-benar kamu lihat.

Jadi mari kita lihat langsung.

Stres adalah respons tubuhmu terhadap suatu tuntutan atau ancaman. Itu saja definisinya. Sesuatu muncul, otakmu membacanya sebagai penting atau berbahaya, lalu tubuhmu berpindah gigi untuk menghadapinya. Ini bukan kerusakan. Ini salah satu sistem tertua dan paling berguna yang kamu miliki, dan di hari-hari baik, kamu justru akan kesulitan tanpanya.

Ini sistem bertahan hidup, dan sistem ini bekerja

Bayangkan leluhurmu mendengar suara ranting patah di kegelapan. Dalam sepersekian detik, sebelum sempat berpikir sadar, tubuhnya sudah siap untuk melawan atau lari. Jantung lebih cepat. Napas lebih cepat. Otot siap siaga. Indra lebih tajam. Kesiapan itulah respons stres, dan itulah alasan garis keturunanmu bertahan cukup lama hingga akhirnya melahirkanmu.

Urutannya cepat dan otomatis. Sebuah wilayah kecil berbentuk almond di otak bernama amigdala bertindak sebagai alarm. Saat mendeteksi ancaman, ia mengirim sinyal ke hipotalamus, yang oleh para klinisi Harvard digambarkan sebagai semacam pusat komando. Hipotalamus lalu menginjak gas: ia mengaktifkan sistem saraf simpatik, dan kelenjar adrenal membanjiri aliran darahmu dengan adrenalin (juga disebut epinefrin). Dalam hitungan detik, jantungmu memompa lebih keras, darah mengalir deras ke otot-otot besar, saluran napasmu terbuka, dan cadangan energi mengalir ke darah supaya kamu punya bahan bakar untuk bergerak.

Jika ancaman itu bertahan lebih lama, gelombang kedua yang lebih lambat pun muncul. Otak melepaskan rangkaian hormon yang berujung pada kortisol dari kelenjar adrenal. Kortisol menjaga kadar energimu tetap tinggi dan membuatmu terus waspada, mempertahankan tubuh dalam keadaan siaga. Inilah hormon yang membuatmu terus berlari saat sprint berubah jadi maraton.

Ini bagian yang penting untuk diingat: seharusnya semua ini bisa dimatikan. Ketika bahaya berlalu, cabang lain dari sistem sarafmu, yaitu sistem parasimpatik, bekerja seperti rem. Kortisol turun. Jantung melambat. Tubuh kembali ke urusan biasanya: beristirahat, mencerna, dan memperbaiki diri. Respons stres yang sehat itu seperti gelombang. Ia naik, menjalankan tugasnya, lalu surut.

Mengapa sistem yang berguna ini bisa terasa begitu buruk?

Masalahnya, alarm dalam dirimu tidak bisa membedakan antara ranting yang patah dan email yang menyindir. Amigdala dibuat untuk kecepatan, bukan ketepatan. Ia lebih memilih membunyikan seratus alarm palsu daripada melewatkan satu beruang sungguhan. Jadi tenggat waktu, percakapan yang tegang, tagihan yang belum dibayar, atau berita yang menakutkan, semuanya bisa memicu sirkuit yang sama, yang dulu berevolusi untuk menghadapi bahaya fisik.

Dan kebanyakan ancaman modern tidak berakhir dengan berlari kencang. Tubuhmu sudah siap untuk melawan atau lari, tapi kamu malah duduk di meja kerja membalas pesan lagi. Energi itu tak punya tempat untuk pergi. Gelombangnya naik dan tak pernah benar-benar surut. Ketidakcocokan itu, respons kuno yang bertemu dunia yang tak dirancang untuknya, adalah sebagian besar dari apa yang kita maksud saat berkata "aku lagi stres."

Saat itu terjadi, gejalanya bersifat fisik karena responsnya memang fisik. Jantung berdebar kencang. Dada sesak. Napas pendek. Rahang atau bahu yang tidak mau rileks. Perut yang mules atau bergejolak. Pikiran yang berputar-putar dan tak mau melambat. Semua itu bukan berarti ada yang salah denganmu. Itu berarti sistem bertahan hidupmu sedang aktif dan menunggu bahaya yang, lebih sering daripada tidak, bukan jenis yang bisa kamu pukul atau kalahkan dengan lari.

Mengapa hari yang sama bisa membuat satu orang jatuh dan orang lain tidak?

Kamu pasti pernah melihat ini. Dua orang menerima kabar buruk yang sama, jadwal yang sama-sama mustahil, atasan yang sama sulitnya. Satu orang hancur. Yang lain hanya mengangkat bahu dan lanjut bekerja. Perbedaan itu bukan soal kemauan, dan bukan juga karena salah satunya pura-pura tenang. Itu karena stres tidak tinggal di dalam peristiwanya. Ia tinggal di ruang antara apa yang dituntut darimu dan apa yang kamu rasa mampu kamu hadapi.

Psikolog Richard Lazarus menghabiskan puluhan tahun meneliti hal ini, dan karyanya menjadi dasar cara sebagian besar peneliti memahami stres hingga kini. American Psychological Association merangkumnya sebagai sebuah transaksi. Pikiranmu menjalankan dua pemeriksaan cepat, yang sebagian besar tidak disadari, terhadap setiap situasi. Pertama: apakah ini mengancam sesuatu yang aku pedulikan? Lalu: apakah aku punya yang aku butuhkan untuk menghadapinya? Ketika tuntutan terasa lebih besar dari sumber dayamu, alarm pun berbunyi. Ketika kamu merasa siap, tuntutan yang sama nyaris tak terasa.

Itulah sebabnya minggu yang padat bisa terasa menyemangatkan saat kamu cukup istirahat, punya dukungan, dan yakin pada dirimu sendiri, tapi terasa menghancurkan saat kamu sudah kehabisan tenaga, sendirian, atau kurang tidur. Jumlah tumpukan pekerjaannya tidak berubah. Yang berubah adalah caramu menilai apakah kamu sanggup memikulnya. Ini juga sebabnya dukungan begitu penting. Hal berat yang dibagikan dengan seseorang yang mendukungmu dinilai secara berbeda dibanding hal berat yang sama tapi dihadapi sendirian, dan tubuhmu merespons perbedaan itu.

Ini bukan cara untuk mengatakan bahwa stres hanya ada di kepalamu, atau bahwa kamu bisa berpikir keluar begitu saja dari hidup yang benar-benar kewalahan. Ada tuntutan yang memang terlalu besar untuk siapa pun, dan tidak ada cara pandang ulang yang bisa membenahi situasi yang memang perlu diubah. Tapi ini berarti ada dua hal yang terbuka untukmu, yang tidak akan terlihat kalau kamu hanya melihat dari sisi peristiwanya saja. Kamu bisa membangun sumber dayamu, lewat istirahat, keterampilan, dan orang-orang di sekitarmu. Dan kamu bisa mempertanyakan penilaian pertamamu, karena penilaian ancaman awal itu berlangsung cepat dan sering kali keliru soal seberapa berbahaya sesuatu sebenarnya.

Stres jangka pendek dan stres jangka panjang

Inilah perbedaan yang paling penting, dan yang selalu jadi sorotan dalam penelitian. National Institute of Mental Health menarik garis yang jelas antara dua jenis stres ini.

Stres akut bersifat jangka pendek. Ia melonjak lalu mereda. Kamu menginjak rem mendadak untuk menghindari tabrakan, kamu masuk ke ruang wawancara kerja, kamu punya percakapan berat dengan orang yang kamu sayangi. Tubuhmu menyala, menangani momen itu, lalu tenang kembali. Jenis stres ini tidak berbahaya, dan sering kali justru benar-benar membantu. Ia mempertajam fokusmu, memberimu suntikan energi, bahkan bisa membuatmu sedikit lebih tangguh sesudahnya. Rasa gugup sebelum tampil yang dirasakan musisi dan atlet adalah sistem yang sama, yang justru memberi mereka keunggulan.

Stres kronis adalah cerita yang berbeda. Ini stres yang tak kunjung selesai, yang berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan tanpa sakelar "mati" yang sesungguhnya. Uang yang selalu pas-pasan. Pekerjaan yang menggerus. Merawat orang lain tanpa jeda. Hubungan yang menyakitkan. Sakit yang tak kunjung sembuh. Di sinilah alarm terus menyala, kortisol tetap tinggi, dan sistem yang dibangun untuk keadaan darurat sesaat malah terjebak dalam posisi "menyala" terus-menerus.

Dari sinilah bahayanya muncul. Bukan dari stres itu sendiri, melainkan dari respons stres yang tak pernah sempat surut. Literatur medis konsisten pada titik ini: aktivasi sistem stres yang berkepanjangan dikaitkan dengan masalah nyata di seluruh tubuh. Para peneliti menunjuk pada tekanan darah yang lebih tinggi dan beban pada jantung, sistem imun yang melemah, gangguan tidur dan pencernaan, serta kaitan yang jelas dengan kecemasan dan depresi. Para klinisi Harvard mengatakannya dengan gamblang: aktivasi kronis dari mekanisme bertahan hidup ini merusak kesehatan.

Mesinnya tidak rusak. Ia hanya diminta untuk terus menyala jauh lebih lama daripada yang seharusnya.

Sedikit tekanan itu justru baik untukmu

Ada sisi lain yang mudah terlewat saat stres terasa seperti musuh. Hidup tanpa tuntutan sama sekali bukanlah impian seindah yang terdengar. Para peneliti sudah memetakan hubungan antara tekanan dan performa selama lebih dari satu abad, dan pola itu cenderung membentuk kurva. Dengan tekanan yang terlalu sedikit, kamu jadi melayang tanpa arah. Kamu bosan, datar, tidak bersemangat, mesinnya menyala tapi diam di tempat. Seiring tekanan meningkat, fokus dan energimu pun ikut naik, sampai ke titik terbaik di mana kamu tajam, terlibat penuh, dan menghasilkan sebagian karya terbaikmu. Lewati puncak itu, dan semuanya jatuh drastis: kamu terjerumus ke dalam kewalahan, cara berpikirmu menyempit, kesalahan pun mulai muncul.

Gagasan berharga yang tersembunyi dalam kurva itu adalah bahwa tujuannya bukan nol stres. Sedikit tekanan itulah yang membuatmu bangun dari tempat tidur, mengejar tenggat waktu, bersiap untuk percakapan sulit, dan cukup peduli untuk mencoba. Tujuannya adalah lebih sering berada di dekat puncak kurva itu, dan mengenali saat kamu sudah bergeser melewati batas, ke bagian di mana usaha yang lebih keras justru memperburuk keadaan, bukan memperbaikinya. Titik itulah saat istirahat berhenti menjadi kemewahan dan berubah menjadi langkah yang cerdas.

Apa yang berubah bagimu dengan mengetahui semua ini?

Mengetahui cara kerjanya tidak dengan sendirinya membuat minggu yang berat jadi lebih ringan. Tapi ini memberi beberapa hal berguna secara diam-diam.

Ini melepaskan unsur pribadi dari gejalanya. Jantung yang berdebar kencang sebelum presentasi bukan tanda bahwa kamu lemah atau rusak. Itu tubuhmu sedang memberimu energi. Kamu bahkan bisa membaca ulang perasaan itu sebagai kesiapan, bukan ketakutan, dan pergeseran kecil dalam cara berpikir itu benar-benar mengubah bagaimana rasa berdebar yang sama itu terasa.

Ini menunjukkan ke mana harus menuju. Jika inti masalah dari stres yang merusak adalah gelombang yang tak kunjung surut, maka keterampilan paling penting bukanlah menghindari stres, yang toh mustahil dilakukan. Melainkan membantu tubuhmu kembali tenang, dengan sengaja dan secara rutin. Itulah logika di balik embusan napas panjang, jalan kaki, tidur yang cukup, waktu bersama orang-orang yang membuatmu tenang, dan menggerakkan tubuh untuk membakar bahan bakar yang sudah dikucurkan alarm ke dalam darahmu. Kamu bukan mencoba untuk tidak merasakan apa-apa. Kamu sedang menutup lingkaran yang dibuka oleh respons itu.

Dan ini membantumu memisahkan dua jenis stres tadi. Sore hari yang penuh tekanan lalu berlalu adalah tanda sistemmu bekerja dengan baik. Tekanan yang sudah membebani dadamu selama berbulan-bulan, mengikis tidurmu, kesabaranmu, dan kesehatanmu, adalah hal yang berbeda, dan itu butuh respons yang berbeda pula.

Kapan stres membutuhkan lebih dari sekadar cara mengatasi?

Perawatan diri yang baik bisa meringankan banyak beban. Tapi ia punya batas, dan tidak ada yang memalukan saat kamu mencapainya.

Ada baiknya kamu bicara dengan dokter atau terapis ketika stres berhenti menjadi sesuatu yang kamu lewati dan mulai menjadi cuaca yang kamu tinggali sehari-hari. Beberapa tanda yang jujur: kamu cemas atau gelisah hampir sepanjang waktu. Sulit tidur, atau tidak bisa tidur nyenyak. Kamu makin bergantung pada alkohol, makanan, atau hal lain untuk meredakan tekanan. Sakit kepala, gangguan lambung, atau jantung yang berdebar terus muncul. Hal-hal dan orang-orang yang dulu kamu nikmati kini terasa terlalu berat. Kamu jadi mudah marah pada orang-orang yang kamu sayangi dan tidak bisa mengerem diri.

Semua itu bukan berarti kamu gagal mengelola stres. Itu berarti bebannya sudah melebihi apa yang seharusnya dipikul sendirian, dan ada orang-orang yang memang bertugas membantumu meletakkannya. Dokter umum bisa jadi tempat awal yang baik. Begitu pula terapis. Jika perasaan itu berubah menjadi keputusasaan, atau kamu mulai berpikir akan lebih baik jika kamu tidak ada, tolong perlakukan itu sebagai keadaan darurat yang memang begitu adanya, dan hubungi layanan siaga krisis atau seseorang yang kamu percaya hari ini juga. Kamu tidak perlu yakin dulu bahwa keadaannya serius untuk layak mendapatkan bantuan.

Stres akan terus muncul sepanjang sisa hidupmu. Itu harga dari peduli terhadap sesuatu, dan memiliki tubuh yang ingin menjagamu tetap aman. Tujuannya bukan untuk melenyapkannya sama sekali. Tapi untuk membiarkan gelombang itu naik saat memang perlu, dan tahu cara membantunya surut kembali.

Sumber

  1. Harvard Health Publishing, Understanding the stress response
  2. National Institute of Mental Health, I'm So Stressed Out! (fact sheet)
  3. StatPearls / National Library of Medicine, Physiology, Stress Reaction
  4. American Psychological Association, Transactional model of stress and coping
  5. PubMed Central, The inverted-U relationship between stress and performance in elite shooting

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi