Skip to main content
Donasi

Bisnis · Menjual

Cara menjelaskan pekerjaanmu sendiri tanpa merasa malu

Ceritakan apa yang kamu buat seperti kamu menceritakan pekerjaan seorang teman: apa itu, siapa yang terbantu, berapa harganya. Rasa malu itu datang dari mengklaim, bukan dari menceritakan. Jadi ucapkan satu kalimat yang benar, berhenti, dan biarkan mereka yang mengajukan pertanyaan kedua.

Seorang laki-laki dan seorang perempuan duduk di meja sambil mengobrol

Foto oleh Rydale Clothing di Unsplash

Tips singkat

  • Satu kalimat: apa itu, siapa yang terbantu, berapa harganya.
  • Berhenti setelah kalimat itu dan biarkan mereka bertanya.
  • Ucapkan sekali dengan suara keras sebelum kamu membutuhkannya.

Kamu memang jago di bidang itu. Buktinya juga ada: orang sudah membayar untuk itu, atau kamu sudah mengerjakannya cukup lama sampai bagian-bagian sulitnya berhenti berisik. Lalu seseorang di sebuah pesta bertanya kamu kerja apa, dan kamu mendengar dirimu sendiri berkata ah, bukan apa-apa kok, cuma kerjaan sampingan kecil, sementara kalimatnya masih keluar dari mulutmu.

Jarak itu bukan masalah kepercayaan diri yang harus kamu selesaikan dulu sebelum kamu boleh bicara. Itu masalah kalimat, dan kalimat bisa disiapkan jauh sebelumnya. Ada satu versi jawaban yang seratus persen benar, butuh sekitar delapan detik untuk diucapkan, tidak menjual apa pun kepada siapa pun, dan meninggalkan gambaran yang jelas serta satu pertanyaan lanjutan yang gamblang di tangan lawan bicaramu. Tulis sekali dan kamu akan memakainya bertahun-tahun: di pesta, di caption, di telepon, dan di baris pertama setiap pesan yang kamu kirim ke orang yang mungkin membeli.

Kenapa membicarakan pekerjaanku sendiri terasa tidak enak?

Karena kamu sedang berusaha mengklaim, bukan menceritakan, dan klaim itu pertunjukan yang setelahnya harus kamu pertahankan. Menceritakan itu menggambarkan benda yang sudah ada, dan hampir tidak ada orang yang canggung menggambarkan sebuah benda.

Lihat bedanya dalam dua kalimat tentang usaha yang sama. "Aku kreator yang penuh gairah, membuat karya-karya indah yang bisa diwariskan dan punya cerita sendiri" adalah klaim, dan kalimat itu meminta pendengarnya menyetujui sebuah penilaian sebelum mereka tahu satu fakta pun. "Aku bikin tas kerja dari kulit, kebanyakan untuk orang yang naik sepeda ke kantor, harganya sekitar 180 dolar" adalah gambaran. Yang kedua lebih gampang diucapkan, lebih gampang didengar, dan jauh lebih sulit bikin malu, karena tidak ada yang bisa dipersoalkan di dalamnya.

Ada penelitian tentang jurus yang biasanya kita pakai sebagai gantinya. Sezer, Gino, dan Norton meneliti humblebragging, yaitu pamer yang dibungkus keluhan atau kerendahan hati palsu, lewat tujuh studi, dan menemukan bahwa jurus itu secara konsisten kurang efektif dibanding pamer yang lugas dan apa adanya: orang jadi kurang menyukai si pembicara dan menilainya kurang kompeten. Bungkus merendahkan diri yang kita tambahkan supaya sebuah klaim terasa bisa ditanggung justru bekerja terbalik dari yang kita harapkan. Yang apa adanya bukan cuma lebih nyaman. Hasilnya juga lebih baik.

Kalimatnya persisnya seperti apa?

Tiga bagian, dengan urutan ini: apa itu, untuk siapa, dan berapa harganya. Tanpa kata sifat soal kualitas, tanpa cerita asal-usul, tanpa pernyataan misi.

Enam contoh nyata:

  • "Aku bikin pot keramik, kebanyakan untuk orang yang tanamannya selalu mati di pot plastik. Harganya 40 sampai 90 dolar."
  • "Aku pegang pembukuan untuk kontraktor bangunan kecil, biar pemiliknya tidak lagi bikin faktur jam sebelas malam. Sekitar 300 sebulan."
  • "Aku memotret makanan untuk menu restoran. Setengah hari 600 dolar dan kamu dapat sekitar tiga puluh foto."
  • "Aku memperbaiki dan menjual lagi sepeda tua. Harganya 150 sampai 400 dan sudah diservis."
  • "Aku menulis halaman produk untuk toko yang produknya bagus tapi kata-katanya payah. Biasanya 250 per halaman."
  • "Aku mengajar gitar untuk orang dewasa yang berhenti main sejak remaja. Tiga puluh lima per jam, di tempatku atau online."

Setiap contoh memuat angka. Harga bukan percakapan canggung terpisah yang kamu lakukan belakangan: harga adalah bagian dari gambarannya, harga langsung memberi tahu pendengarnya apakah dia calon pembeli atau bukan, dan memasukkannya adalah cara tercepat untuk berhenti merasa seolah kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Simpan satu versi tanpa harga untuk saat kamu memang sedang tidak menjual, dan pakai versi lengkapnya di tempat lain.

Kata-kata mana yang sebaiknya kuhapus?

"Cuma" dan "agak", setiap kali tanpa kecuali, ditambah kata apa pun yang hanya bisa dipahami kalau orangnya ada di dalam bidangmu. Penghapusan itu lebih berpengaruh pada cara kalimatmu mendarat daripada latihan sebanyak apa pun.

"Aku cuma bikin beberapa lilin, agak iseng-iseng aja" mengandung satu permintaan maaf yang utuh, dan orang yang kamu ajak bicara akan mengikuti bingkai yang barusan kamu serahkan. Bilang aku bikin lilin, lalu dia tanya lilin jenis apa. Bilang kamu cuma bikin beberapa, lalu dia bilang bagus ya dan berbalik ke orang di sebelah kirinya. Kamulah yang mengajarinya seberapa besar dia perlu peduli.

Masalah jargon itu soal lain dan sama mahalnya. Riset dari Nielsen Norman Group menemukan bahwa bahasa yang sederhana justru lebih disukai bahkan oleh pembaca ahli, jadi menyederhanakan itu bukan merendahkan siapa pun, melainkan dipahami lebih banyak orang sekaligus. Kalau kalimatmu membawa kata yang kamu pelajari di tempat kerja, tukar dengan kata yang dipakai pelanggan pertamamu waktu dia menceritakan hal yang sama kembali kepadamu.

Ada sisi praktisnya juga. Panduan Federal Trade Commission (komisi perdagangan federal Amerika Serikat) untuk usaha kecil menyebutkan bahwa klaim tentang apa yang bisa dilakukan sebuah produk harus benar dan didukung bukti. Gambaran selalu bisa dipertahankan. "Terbaik" tidak.

Setelah mengucapkannya, aku harus apa?

Berhenti bicara. Kalimatnya sudah selesai, dan giliran berikutnya milik lawan bicaramu, yang hampir selalu akan mengambilnya.

Inilah bagian yang tidak sanggup dilakukan orang dan inilah bagian yang membuat semuanya bekerja. Dorongan setelah mengucapkan sesuatu yang benar dan sederhana tentang pekerjaan sendiri adalah mengisi ruang kosongnya: menambahkan catatan pengecualian, cerita bagaimana kamu terjun ke sana, penegasan bahwa penghasilanmu dari situ belum banyak. Setiap tambahan itu mengembalikan persis apa yang baru saja kalimatmu berikan kepadamu.

Keheningan itu tidak kosong. Itu lawan bicaramu yang sedang memutuskan mau bertanya apa. Pertanyaannya lebih berharga daripada apa pun yang akan kamu ucapkan untuk mengisi jeda itu, karena pertanyaan itu memberi tahu apa yang sebenarnya dia pedulikan, dan sekarang kalian sedang mengobrol, bukan menyampaikan presentasi jualan. Otot yang sama inilah yang nanti membuat percakapan soal harga terasa bisa ditanggung, saat sebuah angka menggantung di udara dan godaannya adalah menjelaskannya sampai hilang sebelum ada yang keberatan.

Bagaimana aku melatih ini tanpa berlatih pada diriku sendiri?

Gambarkan dulu pekerjaan orang lain dengan suara keras, di depan umum, dan sebutkan persis apa yang dia kerjakan. Kalimat itu gampang kalau soal orang lain, ototnya sama, dan bagi orang yang kamu ceritakan nilainya jauh lebih besar daripada ongkosnya bagimu.

Lakukan dengan spesifik atau tidak usah sekalian. "Karyanya luar biasa" itu kebisingan dan semua orang pernah menerimanya. "Dia membangun ulang halaman pemesanan toko roti di ujung jalan dan pesanan akhir pekan mereka jadi dua kali lipat" adalah kalimat yang mungkin diulang seseorang di rapat yang tidak akan pernah kamu hadiri. Pujian yang samar itu perasaan. Pengakuan publik yang spesifik itu bukti, dan bukti berjalan sendiri.

Tiga cara melakukannya minggu ini, tidak ada yang butuh lebih dari satu menit:

  • Sebutkan apa yang dikerjakan seseorang, lengkap dengan namanya, di ruangan tempat orang-orang yang bisa merekrutnya sedang mendengarkan.
  • Tulis versi satu kalimat dari karya kreator lain di caption, dan tandai dia di situ.
  • Kalau ada yang minta rekomendasi darimu, berikan gambarannya, bukan kata sifatnya: apa yang dia buat, untuk siapa, berapa harganya.

Lalu perhatikan apa yang baru saja terjadi pada kalimatmu sendiri. Kamu membangun struktur yang persis sama untuk orang lain, dengan suara keras, tanpa rasa malu sedikit pun, artinya strukturnya memang tidak pernah jadi masalah. Ucapkan punyamu dengan cara yang sama.

Tiga versi yang perlu disiapkan

Tulis kalimatmu selagi masih segar, lalu buat tiga versinya dan simpan di tempat yang bisa kamu temukan lagi.

Versi caption, yang boleh melepas harga kalau harganya sudah tertera di halaman itu dan wajib mempertahankan bagian untuk siapa. Versi untuk orang asing, ketiga bagiannya lengkap, diucapkan dengan suara keras dalam kecepatan normal. Dan versi untuk ibumu, atau siapa pun di hidupmu yang selalu memperkenalkanmu dengan keliru, cukup pendek supaya dia bisa mengulanginya dengan benar ke orang lain di pestanya sendiri.

Ucapkan masing-masing satu kali sekarang, sendirian, sebelum kamu membutuhkannya. Kalimat yang belum pernah kamu ucapkan terdengar seperti kebohongan di mulutmu sendiri saat pertama kali, dan yang pertama kali itu sebaiknya bukan di depan orang yang bisa saja jadi pelanggan. Ucapkan empat kali dan kalimat itu jadi hal biasa, yang memang persis kamu inginkan. Kamu tidak sedang berusaha terdengar mengesankan. Kamu sedang berusaha dipahami dengan tepat oleh lebih banyak orang, lebih cepat, supaya mereka yang menginginkan apa yang kamu buat bisa tahu bahwa kamu membuatnya.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.