Langsung ke konten utama

MEMIMPIN DIRI SENDIRI · PERCAYA DIRI

Percaya diri tanpa sombong

Percaya diri tanpa sombong itu lebih tenang dari yang orang kira. Bentuknya bukan selalu tahu segala jawaban, tapi cukup mantap untuk berkata "aku belum tahu." Ini caranya membangun rasa percaya diri yang bikin orang percaya dengan sendirinya, bukan yang menuntut untuk dipercaya.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Sekelompok gedung tinggi di sebuah kota

Foto oleh FilterGrade di Unsplash

Bayangkan dua orang masuk ke rapat yang sama. Orang pertama bicara duluan, bicara paling keras, dan sepertinya tidak pernah ragu dengan satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Orang kedua mendengarkan, mengajukan satu pertanyaan yang bagus, mengatakan dengan jelas apa yang dia pikirkan, dan mengakui satu hal yang dia sendiri belum yakin. Kebanyakan dari kita diajari untuk membaca orang pertama sebagai sosok yang percaya diri. Tapi setelah cukup lama bekerja bersama keduanya, kamu jadi tahu siapa yang sebenarnya bisa kamu percaya.

Rasa percaya diri punya masalah reputasi. Kita cenderung membayangkannya sebagai suara keras dan kepastian, sosok yang tidak pernah goyah. Jadi ketika seseorang khawatir "terkesan sombong", saran yang biasanya dia terima adalah meredupkan dirinya, mengambil ruang lebih sedikit, membungkus semua kalimat dengan keraguan. Itu solusi yang keliru. Lawan dari sombong bukan mengecil. Lawannya adalah rasa percaya diri yang lebih stabil dan lebih berguna, yang tidak butuh penonton.

Keduanya bukan dua titik di garis yang sama

Kesalahan paling umum adalah menganggap percaya diri dan sombong sebagai hal yang sama, hanya beda kadar. Sedikit itu bagus, terlalu banyak berubah jadi sombong. Dengan logika itu, kamu merasa aman dengan selalu menahan diri.

Padahal keduanya adalah hal yang berbeda, mengarah ke arah yang berbeda pula. Percaya diri sebagian besar soal dirimu dan pekerjaanmu: apakah aku percaya bisa memecahkan ini, dan apakah aku mau mencoba. Sombong sebagian besar soal orang lain: aku lebih baik darimu, aku tidak butuh masukanmu, aku tidak mau dipertanyakan. Yang satu membuatmu terbuka. Yang satu lagi menutupmu. Kamu bisa sangat percaya diri sekaligus sangat rendah hati di saat bersamaan, dan orang-orang terbaik yang pernah kamu ajak kerja biasanya begitu.

Ada versi yang lebih halus dari kesalahan ini. Percaya diri gampang dipalsukan dan gampang tertukar dengan kompetensi. Psikolog bisnis Tomas Chamorro-Premuzic mengatakannya dengan gamblang: kompetensi adalah seberapa bagus kamu sebenarnya dalam sesuatu, sementara percaya diri hanyalah seberapa bagus kamu *merasa* dirimu, dan keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Banyak orang terdengar yakin padahal salah. Banyak orang yang sebenarnya mampu diam-diam merasa dirinya penipu. Jadi orang paling keras suaranya di ruangan bukan jaminan yang aman, dan begitu juga anggapan bahwa keraguan dirimu sendiri berarti kamu tidak cukup baik.

Dari mana rasa percaya diri yang sesungguhnya berasal?

Kalau percaya diri bukan kepribadian yang sudah given, dari mana asalnya? Psikolog Albert Bandura menghabiskan puluhan tahun meneliti gagasan yang berkaitan erat, yang dia sebut *self-efficacy*, keyakinanmu bahwa kamu benar-benar bisa melakukan hal tertentu. Penelitiannya, yang dirangkum oleh American Psychological Association, menunjuk pada beberapa hal yang membangun keyakinan itu, dan tidak satu pun darinya adalah "memutuskan untuk merasa percaya diri".

Yang paling besar adalah sekadar melakukan hal-hal sulit dan berhasil melewatinya. Setiap kali kamu mengambil sesuatu yang sedikit di luar kemampuanmu dan berhasil keluar dari sisi lain, kamu mengumpulkan bukti. Melihat orang-orang seperti dirimu berhasil melakukannya juga membantu. Begitu juga dukungan yang jujur dari seseorang yang penilaiannya kamu percaya. Perhatikan apa yang tidak ada dalam daftar itu: kesombongan diri. Kamu tidak bisa membujuk diri sendiri untuk punya percaya diri yang sesungguhnya. Kamu mendapatkannya lewat latihan kecil demi kecil, dan alasan kenapa itu tidak berubah jadi sombong adalah karena kamu masih ingat betapa baru saja kamu belum bisa melakukannya.

Itulah pembeda paling jelas antara keduanya. Sombong itu rapuh. Ia harus mempertahankan citra seseorang yang sudah tahu segalanya, jadi ia tidak sanggup menghadapi pertanyaan, masukan, atau kesalahan. Percaya diri itu kokoh. Ia bertumpu pada "aku pernah memecahkan hal-hal sulit sebelumnya, dan aku bisa melakukannya lagi", yang artinya tidak ada yang hilang saat berkata "poin bagus, aku belum kepikiran itu".

Bagaimana wujudnya dalam praktik?

Perbedaan antara keduanya bukan sekadar perasaan. Ia terlihat dalam perilaku kecil yang bisa diamati. Beberapa hal yang layak dilatih:

  • Katakan "aku tidak tahu" tanpa canggung. Lalu katakan apa yang akan kamu lakukan untuk mencari tahu. Mengakui batas apa yang kamu ketahui justru terkesan sebagai rasa aman, bukan kelemahan, karena hanya orang yang benar-benar nyaman dengan pijakannya yang bisa melakukannya dengan santai.
  • Minta masukan dan benar-benar gunakan. Sombong bertanya secara retoris, padahal sudah memutuskan sebelumnya. Percaya diri bertanya karena orang lain bisa melihat hal yang tidak bisa kamu lihat, dan mengubah pikiran karenanya adalah kekuatan, bukan kemunduran.
  • Bagikan pujian dengan lapang. Ketika kamu yakin dengan nilai dirimu sendiri, keberhasilan orang lain tidak merugikanmu sama sekali. Menyimpan semua pujian untuk diri sendiri hampir selalu tanda seseorang yang sebenarnya merasa kurang aman daripada yang terlihat.
  • Akui kesalahan dengan terang-terangan. "Aku salah di situ, ini yang akan kuubah" adalah salah satu kalimat paling percaya diri yang bisa diucapkan seseorang, dan salah satu yang paling langka. Riset tentang para pemimpin menemukan bahwa mereka yang bisa mengakui kegagalan justru sering terlihat lebih tulus percaya diri, bukan sebaliknya.
  • Pegang teguh pandanganmu sambil tetap terbuka. Kamu bisa mengatakan persis apa yang kamu pikirkan dan tetap sungguh-sungguh saat bertanya apa pendapat orang lain. Keduanya tidak bertentangan. Kombinasi itulah yang sebagian besar kita maksud dengan orang yang stabil.

Tidak ada satu pun dari ini yang mengharuskanmu bicara lebih keras. Kebanyakan justru lebih pelan.

Bagaimana kalau masalahnya terlalu sedikit, bukan terlalu banyak?

Banyak orang yang reflektif membaca tulisan seperti ini dan malah khawatir pada ujung skala yang salah. Mereka tidak berisiko menjadi sombong. Mereka justru terlalu hati-hati agar tidak terkesan tinggi hati, sampai meremehkan kemampuan nyata mereka, diam saja di ruangan yang sebenarnya membutuhkan pendapat mereka, dan membiarkan suara paling keras menang begitu saja.

Kalau itu kamu, menyembunyikan kompetensimu bukanlah kerendahan hati. Itu hanya biaya yang harus ditanggung seluruh ruangan. Meremehkan apa yang kamu tahu tidak membuatmu lebih disukai, dan itu merampas bantuan yang sebenarnya dibutuhkan orang lain. Percaya diri yang tenang tetap harus terdengar. Katakan apa yang perlu dikatakan. Ambil tugas yang membuatmu sedikit takut. Biarkan dirimu terlihat mampu. Kamu bisa melakukan semua itu dan tetap mendengarkan lebih baik dari siapa pun, tetap memberi kredit pada timmu, tetap bersedia mengubah pikiran. Itulah intinya, keduanya memang tidak pernah bertentangan.

Catatan untuk hari-hari yang lebih berat

Ada perbedaan antara kerendahan hati yang sehat dan suara yang mengatakan padamu bahwa kamu penipu, apa pun yang kamu capai. Kebanyakan dari kita punya sedikit suara itu, dan rentetan keberhasilan kecil lama-kelamaan membuatnya lebih pelan. Tapi bagi sebagian orang, suara itu lebih keras dan lebih terus-menerus, jenis keraguan diri yang tak henti-henti yang merembes ke cara tidurmu, cara kerjamu, dan cara kamu memperlakukan dirimu sendiri.

Kalau suara kritis dalam dirimu sudah berhenti sesekali muncul dan mulai mengambil alih kendali, itu bukan masalah percaya diri yang bisa kamu latih sendirian, dan itu layak ditanggapi serius. Membicarakannya dengan terapis bukan pengakuan kegagalan. Itu justru salah satu langkah paling percaya diri yang ada, memilih mendapatkan dukungan yang nyata alih-alih menahan semuanya sendirian. Tujuannya memang bukan untuk merasa yakin sepanjang waktu. Tujuannya adalah memercayai bahwa kamu bisa menghadapi apa pun yang datang, dan membiarkan orang-orang di sekitarmu ikut membantu memikulnya.

Sumber

  1. Harvard Business Review, Less-Confident People Are More Successful
  2. Harvard Business Review, If Humility Is So Important, Why Are Leaders So Arrogant?
  3. American Psychological Association, Self-efficacy: The theory at the heart of human agency

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi