Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.
Ada satu jenis “macet” yang dari luar kelihatannya biasa saja. Kamu duduk diam, mungkin sambil menatap ponsel atau kopi yang setengah dingin, tapi di dalam kepala semuanya berisik. Semua terasa harus dikerjakan. Tidak ada satu pun yang kelar. Tagihan, pesan yang belum dibalas, hal yang sudah kamu janjikan akan kamu urus, hal yang bahkan tidak bisa kamu beri nama. Semuanya datang bersamaan dan menekan, dan makin lama kamu menatapnya, makin berat rasanya.
Kalau ini yang sedang kamu rasakan sekarang, tarik napas dulu sebelum lanjut membaca. Kamu tidak rusak, dan kamu tidak sedang tertinggal dalam lomba yang sedang dimenangkan semua orang lain. Kamu hanya sedang kebanjiran hal yang harus dikerjakan. Itu terjadi pada orang-orang yang sedang menanggung banyak hal, yang, kalau dipikir-pikir, biasanya berarti kamu memang sedang memikul lebih dari bagianmu.
Yuk, pelan-pelan dulu.
Kenapa semuanya bisa menumpuk begini?
Kewalahan sebenarnya bukan soal jumlah tugas. Ini soal sistem alarm tubuhmu yang macet dalam posisi menyala.
Begini ringkasnya. Jauh di dalam otakmu ada struktur kecil bernama amigdala. Tugasnya memindai bahaya, dan ia bekerja cepat, lebih cepat dari pikiran sadarmu. Saat ia mendeteksi ancaman, ia langsung mengirim sinyal bahkan sebelum kamu sadar ada yang salah, dan tubuhmu dibanjiri hormon stres. Detak jantung naik. Napas jadi cepat. Otot menegang. Ini yang dikenal sebagai respons fight-or-flight, dan untuk keadaan darurat sungguhan, ini adalah anugerah. Ini bisa membuatmu melompat menghindar sebelum mobil itu benar-benar menabrakmu.
Masalahnya, alarm yang sama juga berbunyi untuk kotak masuk email yang bikin tegang, tenggat waktu yang menghantui, atau percakapan sulit yang terus kamu bayangkan berulang-ulang. Tubuhmu tidak selalu bisa membedakan antara binatang buas yang mengejar dan tinjauan kinerja triwulanan. Jadi ia bereaksi terhadap tekanan hidup modern yang biasa saja dengan cara yang sama seperti menghadapi bahaya sungguhan, dan kalau tekanan itu tidak kunjung reda, alarmnya terus berbunyi. Harvard Health menjelaskan bagaimana aktivasi berulang seperti ini, hari demi hari, membuat mesin stres tubuh terus bekerja terlalu tinggi terlalu lama, dan ini sebagian alasan kenapa stres kronis begitu menguras.
Dengungan pelan itu punya harga yang bisa kamu rasakan. Saat alarmnya keras, bagian otak yang bertugas berpikir, merencanakan, dan menentukan prioritas jadi lebih pelan suaranya. Jadi bukan cuma perasaanmu saja kalau kamu susah menentukan mana yang harus dikerjakan lebih dulu saat kewalahan. Sistem yang seharusnya kamu pakai untuk menyortir tumpukan itu justru yang diredam oleh stres. Kamu sedang mencoba merapikan kamar dalam gelap.
Dan kalau kamu pernah merespons piring yang terlalu penuh dengan cara tidak melakukan apa-apa sama sekali, mati rasa, main scroll, dan membiarkan jam-jam berlalu sementara rasa cemas mengendap di dada, itu juga layak dipahami. Fight-or-flight punya “setelan” ketiga yang jarang dibicarakan orang: freeze, alias membeku. Saat ancaman terasa terlalu besar untuk dilawan atau dihindari, tubuh kadang justru terkunci diam. Dari dalam, ini bisa terasa seperti malas. Padahal bukan. Ini refleks bertahan hidup lama yang salah sasaran menghadapi masalah modern, dan menyalahkan diri sendiri karena ini hanya menambah satu beban lagi ke tumpukan. Jalan keluar dari freeze sama dengan jalan keluar dari pusaran kewalahan: satu tindakan kecil dan bisa dilakukan, yang membuktikan pada tubuhmu bahwa ia bisa bergerak lagi.
Ini penting untuk direnungkan sejenak, karena ini mengubah apa yang seharusnya kamu lakukan selanjutnya. Naluri saat kewalahan adalah mendorong lebih keras, memaksakan diri menembus daftar tugas dengan kemauan semata. Tapi kamu tidak bisa berpikir jalan keluar selama tubuhmu masih dalam mode alarm. Urutannya penting. Tenangkan tubuh dulu sedikit. Baru sortir tumpukannya.
Pertama, angkat dirimu ke atas permukaan air
Saat kamu tenggelam, kamu tidak butuh rencana. Kamu butuh udara. Tujuan langkah pertama ini bukan memperbaiki apa pun. Ini hanya untuk menurunkan alarm satu tingkat, supaya pikiranmu yang sesungguhnya bisa kembali menyala.
Pilih salah satu dari ini, dan lakukan sekarang, sebelum mengerjakan apa pun yang produktif:
- Buang napas lebih lama dari saat menarik napas. Coba tarik napas hitungan empat, lalu buang selama enam sampai delapan hitungan, selama sekitar satu menit. Napas buang yang panjang inilah yang memberi tahu sistem sarafmu bahwa keadaan darurat sudah berlalu. Kamu tidak perlu melakukannya dengan sempurna. Cukup lakukan saja.
- Injak lantai dengan telapak kaki rata, lalu sebutkan lima hal yang bisa kamu lihat. Kedengarannya terlalu sederhana. Tapi ini berhasil karena menarik perhatianmu keluar dari pusaran "bagaimana kalau..." dan mengembalikannya ke ruangan yang benar-benar kamu tempati sekarang, yang, untuk saat ini, aman.
- Bergeraklah selama dua menit. Jalan ke ujung lorong lalu balik lagi. Kibas-kibaskan tanganmu. Gerakan fisik membakar sebagian zat kimia stres yang baru saja dilepaskan tubuhmu ke aliran darah, dan memberi alarmnya jalan untuk mereda.
Itu saja. Jangan lewati ini karena terasa terlalu kecil dibanding besarnya masalah. Ukuran alatnya memang tidak harus sesuai dengan ukuran masalahnya. Tujuannya hanya membuatmu cukup stabil untuk menghadapi masalah itu sama sekali.
Setelah itu, kecilkan tumpukan jadi sesuatu yang bisa kamu genggam
Setelah gemuruh terburuk mereda, tumpukan itu masih ada di sana. Kabar baiknya: tumpukan itu hampir tidak pernah sekacau dan sebesar seperti yang terasa semenit lalu. Kewalahan mengaburkan segalanya menjadi satu gumpalan raksasa yang terasa mustahil. Tugasmu sekarang adalah memecah gumpalan itu kembali jadi bagian-bagian kecil.
Coba ini, di atas kertas kalau bisa. Ada sesuatu yang terjadi ketika kamu mengeluarkan semuanya dari kepala dan meletakkannya di depan mata, kekuatannya jadi berkurang.
- Kosongkan isi kepalamu ke atas kertas. Tulis semua yang sedang menekanmu. Hal besar, hal kecil, kekhawatiran yang samar, semuanya. Jangan diurutkan dulu. Cukup keluarkan saja. Sering kali daftarnya lebih pendek dari perasaan yang kamu rasakan, dan menyadari itu saja sudah melegakan.
- Lingkari yang benar-benar jadi tanggung jawabmu hari ini. Sebagian besar dari yang tertulis di kertas itu belum jatuh tempo sekarang, atau bukan tanggunganmu untuk dipikul, atau memang tidak bisa diselesaikan malam ini, bagaimanapun caranya. Jujur saja soal ini. Coret yang sebenarnya urusan minggu depan, atau urusan orang lain, atau bahkan bukan urusan siapa-siapa.
- Pilih satu hal kecil, dan kerjakan hanya itu. Bukan hal yang paling penting. Hal terkecil yang bisa dikerjakan. Kirim satu pesan itu. Cuci satu piring itu. Telepon satu orang itu. Intinya bukan soal piringnya. Intinya membuktikan pada sistem sarafmu sendiri bahwa kamu masih bisa memengaruhi dunia, bahwa kamu sebenarnya tidak benar-benar membeku. Tindakan itulah yang memberi tahu alarmnya bahwa ia boleh mereda.
Momentum itu nyata, dan hampir selalu dimulai lebih kecil dari yang kamu kira. Satu tugas yang selesai membuat tugas berikutnya terasa mungkin dikerjakan. Kamu tidak sedang berusaha membereskan seluruh tumpukan malam ini. Kamu sedang berusaha mengubahnya dari mustahil menjadi sekadar sulit, lalu mengikis bagian sulit itu sedikit demi sedikit.
Kalau membuat daftar saja sudah terasa terlalu berat, tidak apa-apa. Lewati saja. Lakukan satu hal kecil, dan biarkan itu jadi seluruh rencanamu untuk sekarang.
Jangan tanggung sendirian
Saat kewalahan, kebanyakan dari kita justru menarik diri. Kita membatalkan rencana, berhenti membalas pesan, dan mencoba bertahan sendirian karena menjangkau orang lain terasa seperti satu tugas tambahan, atau seperti mengakui kita sedang gagal. Ini naluri yang sangat manusiawi, dan biasanya justru memperburuk keadaan.
Terhubung dengan orang lain adalah salah satu peredam stres terbaik yang ada. Mayo Clinic menyebutkan bahwa kontak sosial bisa memberi pengalihan, dukungan, dan membantumu melewati masa-masa sulit, dan bahwa punya satu teman baik yang mau mendengarkan saja bisa mengubah rasanya sebuah masa sulit. Kamu tidak perlu menjelaskan semuanya atau meminta sesuatu diselesaikan. Kadang yang perlu kamu minta hanyalah, “Bisa nggak kamu ngobrol sama aku sepuluh menit aja, aku lagi berat banget hari ini.” Membiarkan seseorang duduk bersamamu dalam keadaan itu meringankan cengkeramannya.
Orang-orang yang menyayangimu hampir selalu lebih memilih untuk tahu. Coba bayangkan kalau posisinya terbalik, kalau seseorang yang kamu sayangi diam-diam tenggelam selama berminggu-minggu tanpa mengatakan apa pun. Kamu pasti berharap mereka bilang. Hal yang sama berlaku sebaliknya.
Beberapa hal yang melindungimu dari waktu ke waktu
Langkah-langkah di atas untuk melewati satu jam berat atau satu hari yang berat. Tapi kalau semuanya sudah terasa terlalu berat untuk waktu yang cukup lama, ada baiknya kamu juga merawat fondasi di bawahnya, karena sistem saraf yang sudah kelebihan beban pulih jauh lebih lambat kalau ditambah kurang tidur dan lupa makan.
Tidak ada satu pun dari ini yang jadi obat penyembuh, dan kamu tidak perlu melakukan semuanya. Pilih yang realistis buatmu:
- Jaga tidurmu seolah itu obat, karena sebenarnya memang begitu. Stres dan tidur yang buruk saling memberi makan, dan memutus lingkaran itu di titik mana pun akan membantu.
- Makan pada waktu yang teratur, meski kamu tidak selera. Gula darah rendah membuat semuanya terasa lebih sulit dihadapi.
- Gerakkan tubuhmu dengan cara apa pun yang sanggup kamu lakukan. Jalan kaki sebentar saja sudah terhitung. Endorfin itu nyata, dan tidak perlu pergi ke gym.
- Kurangi kafein dan doomscrolling larut malam. Keduanya diam-diam menyalakan lagi alarmnya.
- Perhatikan pikiran “aku harus mengerjakan semuanya, dan sekarang juga.” Pikiran itu hampir selalu tidak benar, dan itu salah satu alasan besar kenapa beban yang sebenarnya bisa ditangani terasa menghancurkan. Pertanyakan pikiran itu saat muncul.
Ini hal-hal dasar yang terkesan membosankan, dan memang membosankan karena memang berhasil. Kamu bukan gagal menjalani hidup kalau hal-hal ini sempat terlewat. Semua orang bisa kehilangan kebiasaan ini saat keadaan sedang berat. Kamu bisa mengambilnya kembali satu per satu.
Kapan ini lebih besar dari sekadar minggu yang berat?
Ada garis batas yang jujur perlu disebutkan. Kewalahan sehari-hari datang dan pergi mengikuti apa yang sedang kamu hadapi, dan mereda saat tekanannya juga mereda. Tapi kadang, rasa berat itu tidak kunjung hilang bahkan setelah pemicu-pemicu jelas sudah berlalu. NIMH membuat pembedaan ini dengan jelas: stres adalah responsmu terhadap sesuatu yang sedang terjadi, dan biasanya mereda begitu situasinya selesai, sementara rasa cemas yang menetap dan tidak kunjung hilang adalah sesuatu yang lain.
Jadi perhatikan apakah rasa itu mereda atau tidak. Kalau kewalahannya terus-menerus, kalau membuatmu menghindari hal-hal yang perlu kamu kerjakan, kalau merusak tidurmu, nafsu makanmu, atau hubunganmu dengan orang lain, kalau kamu mendapati dirimu takut menghadapi hari-hari yang sebenarnya tidak seburuk itu di atas kertas, itu semua tanda bahwa ini butuh dukungan lebih dari sekadar latihan napas dan daftar tugas. Itu bukan kegagalan usaha. Itu informasi.
Bicara dengan dokter atau terapis bukan pilihan terakhir atau tanda keadaan sudah gawat. Itu cuma soal mendapatkan alat yang tepat untuk ukuran beban yang sedang kamu pikul. Profesional yang baik bisa membantumu menemukan apa yang sebenarnya menyebabkan kewalahan itu, dan memberimu cara menghadapinya yang sesuai dengan kehidupan nyatamu. Banyak orang mencari bantuan seperti ini, dan mereka bersyukur telah melakukannya.
Dan kalau beratnya pernah sampai membuatmu merasa tidak sanggup lagi melanjutkan, atau merasa orang-orang di sekitarmu akan lebih baik tanpamu, tolong perlakukan itu sebagai keadaan darurat yang memang ia adanya, dan hubungi segera, lewat hotline krisis, dokter, atau seseorang yang kamu percaya. Kamu lebih berarti dari apa pun yang ada di daftar itu. Daftar itu bisa menunggu. Kamu yang tetap bertahan adalah satu-satunya bagian yang tidak bisa menunggu.
Untuk hari ini, mungkin cukup melakukan satu hal kecil, buang napas pelan-pelan, dan biarkan sisanya jadi urusan besok. Tumpukan itu akan tetap ada di sana. Kamu juga akan tetap ada di sana. Dan kamu bisa menghadapinya sedikit demi sedikit.
Sumber
- National Institute of Mental Health, I'm So Stressed Out! Fact Sheet
- Harvard Health Publishing, Understanding the stress response
- Mayo Clinic, Stress relievers: Tips to tame stress