Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.
Telepon berdering di waktu yang salah. Angka yang masuk jauh di bawah target, pelanggan mengancam akan pergi, seorang rekan kerja baru saja melakukan kesalahan di depan umum dan semua orang menatapmu, menunggu langkah berikutnya. Jantungmu berdebar lebih cepat. Pikiranmu, yang tadi masih tajam sejam lalu, tiba-tiba terasa seperti berjalan di lumpur. Dan tepat saat itu, dengan waktu terburuk yang mungkin, seseorang memintamu mengambil keputusan.
Inilah rancangan kejam dari momen-momen bertaruh tinggi. Keputusan yang paling penting justru cenderung muncul persis ketika tubuhmu paling tidak siap membuatnya dengan baik. Kabut di kepalamu itu nyata, bukan khayalan. Di bawah tekanan yang sesungguhnya, cara berpikirmu benar-benar berubah, dan bukan ke arah yang menguntungkan. Kabar baiknya, ini bisa diprediksi. Begitu kamu tahu apa yang sedang terjadi, kamu bisa membangun beberapa kebiasaan kecil yang mengembalikan penilaianmu justru saat paling dibutuhkan.
Apa yang dilakukan tekanan pada pikiran yang jernih?
Mari mulai dari apa yang terjadi di balik layar. Ketika tubuhmu membaca situasi sebagai ancaman, ia membanjirimu dengan zat kimia stres yang dirancang untuk membantumu bertahan dari ancaman fisik, seperti lari atau melawan. Sistem ini cepat dan sudah ada sejak zaman purba. Ia tidak peduli apakah ancamannya harimau bergigi tajam atau rapat direksi. Dalam kedua kasus itu, ia menarik sumber daya ke arah tindakan cepat dan menjauh dari pemikiran yang lambat dan hati-hati.
Padahal pemikiran yang lambat dan hati-hati itulah yang justru dibutuhkan keputusan yang baik. Para peneliti yang mengumpulkan puluhan studi tentang stres dan otak menemukan pola yang konsisten: stres akut secara konsisten mengganggu memori kerja, semacam "buku catatan" mental yang kamu gunakan untuk menahan beberapa bagian masalah sekaligus dalam pikiran, dan juga mengganggu fleksibilitas kognitif, kemampuanmu untuk berpindah antar gagasan dan mempertimbangkan sudut pandang lain. Jadi di bawah tekanan, kamu bisa menampung lebih sedikit hal dalam kepalamu, dan kamu lebih mudah terjebak pada satu jalur pikiran. Kombinasi ini adalah racun untuk keputusan yang rumit.
Ada efek kedua yang perlu kamu ketahui. Stres mempersempit perhatianmu. Ia menarik fokusmu erat-erat pada apa pun yang terasa paling mendesak dan mencolok, dan membiarkan sisi-sisi gambaran besar memudar. Dalam keadaan darurat sungguhan, pandangan sempit seperti ini bisa menyelamatkan nyawamu. Tapi dalam rapat, ini membuatmu melewatkan pilihan yang sebenarnya ada tepat di luar sorot perhatianmu. Kamu jadi lebih yakin, tapi pada saat yang sama lebih sering salah.
Ada efek ketiga. Semakin besar tekanan yang kamu rasakan, semakin otakmu kembali mengandalkan kebiasaan, bukan pemikiran baru. Stres mendorongmu ke arah gerakan default, hal yang selalu kamu lakukan, cocok atau tidak dengan situasi ini. Kadang defaultmu memang baik. Tapi justru saat kamu paling butuh jawaban kreatif, seringkali itulah saat otakmu paling enggan mencarinya.
Semua ini bukan berarti kamu lemah atau buruk dalam pekerjaanmu. Ini berarti kamu manusia, dan perangkat dalam dirimu sedang melakukan persis apa yang seharusnya ia lakukan menurut evolusi. Tugasmu adalah mengakalinya dengan lembut.
Jeda yang mengembalikan penilaianmu
Inilah gerakan paling berguna, dan kedengarannya nyaris terlalu kecil untuk berarti apa-apa: beri jarak yang sengaja antara tekanan dan responsmu.
Sebagian besar kerusakan yang ditimbulkan stres pada sebuah keputusan terjadi di detik-detik pertama, saat otakmu yang menyempit dan dikuasai kebiasaan ingin bertindak sekarang juga agar perasaan buruk itu berhenti. Dorongan untuk mengakhiri ketidaknyamanan sering tertukar dengan kebutuhan untuk menyelesaikan masalah. Keduanya tidak sama. Ketidaknyamanan menginginkan kecepatan. Masalah biasanya justru menginginkan kepala yang jernih.
Jeda singkat memutus siklus itu. Ia melakukan dua hal sekaligus. Ia membiarkan lonjakan pertama zat kimia stres mencapai puncaknya lalu mulai turun, dan ia membuka kembali bagian pikiranmu yang tadi terdesak oleh stres. Kamu tidak butuh waktu lama. Satu embusan napas yang perlahan, atau satu kalimat jujur untuk menunda, sudah cukup mengubah kualitas apa yang terjadi setelahnya.
Psikolog dan pelatih eksekutif Carol Kauffman, yang mengajar di Harvard Medical School, membingkai seluruh keterampilan ini di sekitar jeda tersebut. Ia mengutip kalimat yang sering dikaitkan dengan Viktor Frankl: di antara stimulus dan respons ada sebuah ruang, dan di ruang itulah terletak kebebasan kita. Saran praktisnya adalah menggunakan ruang itu untuk melakukan satu hal spesifik, yaitu menghasilkan lebih dari satu pilihan. Di bawah tekanan, otakmu menawarkan satu jawaban dan menyajikannya seolah itu satu-satunya. Memaksa dirimu memikirkan beberapa alternatif, sesingkat apa pun, memecah lorong sempit itu dan mengingatkanmu bahwa kamu sedang memilih, bukan sekadar bereaksi.
Rutinitas yang benar-benar bisa kamu jalankan saat itu juga
Ketika suasana memanas, kamu tidak akan mengingat teori filosofis apa pun. Kamu butuh sesuatu yang cukup sederhana untuk dilakukan saat detak jantungmu naik. Coba ini:
- Tenangkan tubuh lebih dulu. Satu embusan napas perlahan, lebih panjang dari tarikan napasnya. Kaki menapak rata, bahu turun rileks. Kamu tidak bisa berpikir menuju ketenangan selama tubuhmu masih membunyikan alarm, jadi mulailah dari fisik.
- Beli waktu sejenak dengan suara. Katakan sesuatu yang memberimu ruang tanpa menghindari momennya. "Biar aku pikirkan sebentar." "Kasih aku waktu semenit supaya bisa kupikirkan dengan benar." Nyaris tidak ada hal yang benar-benar butuh jawaban dalam tiga detik ke depan, meski rasanya begitu.
- Sebutkan dengan jelas apa yang sebenarnya sedang diputuskan. Katakan pada dirimu sendiri, dalam satu kalimat sederhana. Stres mengaburkan pertanyaannya, dan pertanyaan yang kabur menghasilkan jawaban yang buruk. Memperjelas keputusan yang sebenarnya sudah setengah dari pekerjaan.
- Cari setidaknya satu pilihan lagi. Apa pun yang sedang diteriakkan oleh naluri pertamamu, tanyakan: apa cara kedua untuk menangani ini? Dan cara ketiga? Kamu tidak harus memakainya. Kamu hanya perlu membuktikan pada otakmu yang menyempit bahwa pilihan-pilihan itu memang ada.
- Tanyakan pada dirimu ingin menjadi siapa saat ini. Ini salah satu pertanyaan favorit Kauffman, dan ini pertanyaan yang bagus. Ini mengangkatmu keluar dari refleks dan menghubungkanmu kembali pada bagaimana kamu sebenarnya ingin bersikap, yang jadi pijakan lebih stabil untuk memutuskan dibanding sekadar adrenalin mentah.
Seluruh rangkaian ini bisa selesai dalam kurang dari semenit. Tujuanmu bukan merasa santai. Tujuanmu adalah mengembalikan cukup banyak pemikiran aslimu agar bisa mengambil keputusan yang tidak akan kamu sesali.
Bagaimana cara mengenali keputusan berbasis stres sebelum kamu terlanjur mengambilnya?
Kadang jeda itu tidak tersedia. Ruangan sedang menatapmu, momennya terus bergerak, dan kamu harus mengatakan sesuatu. Dalam situasi seperti ini, membantu untuk mengenali "sidik jari" keputusan yang didorong oleh stres, bukan pemikiran, karena kalau kamu bisa menyadarinya saat itu terjadi, kamu bisa memegangnya dengan lebih longgar.
Beberapa tanda yang umum:
- Terasa hitam-putih. Stres mempersempit situasi yang sebenarnya kaya nuansa menjadi hanya dua pilihan, biasanya melawan atau lari, menang atau kalah. Kalau kamu hanya bisa melihat dua pintu, itu lorong sempit yang berbicara, bukan kenyataan situasinya.
- Sebagian besar soal mengakhiri perasaan. Dengarkan kalimat batin "aku cuma butuh ini berhenti." Itu ketidaknyamanan yang mengambil kendali, dan itu hampir selalu mengarah pada jalan keluar tercepat, bukan yang terbaik.
- Lebih keras dari biasanya. Stres membuat kita condong menyalahkan dan memilih opsi yang menghukum. Kalau langkah yang hendak kamu ambil lebih tajam dari sosokmu yang biasa, itu layak dilihat kembali.
- Kamu yakin, dan kamu jadi yakin dengan sangat cepat. Keyakinan yang sesungguhnya biasanya punya tekstur, ada rasa mempertimbangkan untung-ruginya. Keyakinan akibat stres terasa mulus dan total, dan muncul bahkan sebelum kamu benar-benar menimbangnya.
Kamu tidak akan selalu bisa memperlambat diri. Tapi menyadari bahkan satu dari tanda-tanda ini saja bisa cukup untuk menambahkan satu kalimat penyeimbang, "ini insting pertamaku, biar kucek dulu masuk akal atau tidak," yang menyisakan pintu untuk kembali kalau ternyata yang berbicara tadi adalah alarmmu, bukan penilaianmu.
Tentukan defaultmu sebelum panasnya tiba
Cara paling andal untuk berpikir jernih di bawah tekanan adalah melakukan sebagian pemikiran itu lebih dulu, saat kamu masih tenang. Karena stres mendorongmu ke arah kebiasaan, hal paling bijak yang bisa kamu lakukan adalah memastikan kebiasaanmu memang baik.
Beberapa hal bisa membantu di sini. Perhatikan situasi-situasi spesifik yang selalu memicumu, orang tertentu, disorot tiba-tiba, atau jenis kegagalan tertentu. Situasi yang sudah kamu duga sebelumnya jauh lebih kecil kuasanya atasmu. Tentukan lebih dulu apa saja hal yang tidak bisa ditawar untukmu, batas-batas yang tidak akan kamu langgar sepanas apa pun momennya, sehingga di bawah tekanan kamu mengikuti aturan yang sudah kamu percaya, bukan mengarang nilai-nilai secara dadakan. Dan sebisa mungkin, buat jeda tetap sebagai kebijakan: keputusan besar atau yang tidak bisa dibatalkan wajib menunggu semalam, atau menunggu pendapat kedua, atau jalan kaki sebentar mengelilingi blok. Aturan yang kamu tetapkan sebelumnya melindungimu dari versi dirimu yang sedang kebanjiran dan terburu-buru.
Ada juga manfaat yang lebih halus. Hal-hal dasar yang sering kamu lewatkan saat sibuk, tidur, makan, sedikit gerak tubuh, adalah hal-hal yang sama yang menentukan seberapa banyak stres yang bisa ditampung pikiranmu sebelum akhirnya roboh. Otak yang cukup istirahat mampu menampung lebih banyak, berpindah lebih cepat, dan tetap lapang saat dibebani. Menjaga hal-hal ini bukan bentuk kemewahan. Ini bagian dari merawat kemampuanmu mengambil keputusan.
Tekanan sungguhan versus urgensi buatan
Ada satu pembeda yang layak kamu ingat terus, karena ini bisa membubarkan banyak kepanikan yang sebenarnya tidak perlu. Sebagian besar hal yang terasa mendesak sebenarnya tidak mendesak. Keadaan darurat sungguhan, di mana beberapa detik benar-benar mengubah hasil akhirnya, jarang terjadi dalam pekerjaan sehari-hari. Jauh lebih sering, urgensi itu "dipinjam", kecemasan orang lain yang menekanmu, tenggat waktu buatan, atau sekadar ketidaknyamananmu sendiri yang menuntut segera diakhiri.
Ketika kamu merasa terdesak untuk memutuskan seketika, ada baiknya mengecek sejenak: apakah ini jam yang sungguhan, atau sekadar perasaan seolah-olah ada jam yang berdetak? Kalau jawaban yang cepat tapi salah akan lebih buruk daripada jawaban yang tepat tapi sedikit lebih lambat, urgensinya kemungkinan besar buatan, dan jeda bukan kemewahan. Itu justru pilihan yang bertanggung jawab. Menyebutkan hal ini dengan lantang, bahkan hanya pada dirimu sendiri, mengurangi banyak sekali panasnya momen itu.
Bagaimana kalau tekanannya tidak kunjung reda?
Alat-alat di atas cocok untuk momen sulit yang biasa, lonjakan yang datang dan pergi dalam hidup yang penuh tuntutan pada umumnya. Semua itu nyata dan membantu. Tapi ada batasnya, dan penting untuk jujur di mana batas itu berhenti.
Kalau tekanannya benar-benar tidak pernah mereda, kalau kamu merasa tegang hampir sepanjang waktu, kalau keputusan yang dulunya rutin sekarang membuatmu membeku atau enggan menghadapinya, kalau tidurmu, fokusmu, atau orang-orang yang kamu sayangi ikut terdampak, itu situasi yang berbeda. Tekanan terus-menerus yang menggerogotimu bukan kegagalan pribadi, dan bukan sesuatu yang harus kamu tahan sendirian. Dokter atau terapis bisa membantumu memahami apa penyebabnya dan apa yang benar-benar bisa membantu, dan berbicara tentang itu adalah bentuk kekuatan, bukan pilihan terakhir.
Dan kalau kapan pun semuanya terasa benar-benar terlalu berat untuk ditanggung, tolong hubungi seseorang hari ini juga, orang yang kamu percaya, dokter, atau layanan krisis. Kamu tidak harus berada dalam krisis untuk pantas mendapat dukungan. Kamu hanya perlu sudah lelah menanggungnya sendirian.
Berpikir jernih di bawah tekanan bukan soal menjadi tak tergoyahkan. Ini soal memahami apa yang sedang dilakukan momen itu terhadapmu, dan punya beberapa langkah tenang yang siap dipakai, agar keputusan berikutnya datang dari dirimu yang terbaik, bukan dari dirimu yang paling ketakutan.
Sumber
- National Center for Biotechnology Information, The Effects of Acute Stress on Core Executive Functions: A Meta-Analysis and Comparison with Cortisol
- National Center for Biotechnology Information, Stress and Decision Making: Effects on Valuation, Learning, and Risk-taking
- Harvard Business Review, How to Make Better Decisions Under Pressure