Ada satu jenis minggu di mana hal yang benar untuk dilakukan itu jelas, tapi kamu tetap tidak melakukannya. Kamu sedang tenggelam. Seorang teman mengirim pesan "gimana kabarnya?" dan kamu balas "baik, sibuk!" sambil duduk di mobil di tempat parkir, tidak ke mana-mana. Kamu tahu siapa yang bisa kamu hubungi. Kamu tidak menghubunginya. Kamu bilang ke diri sendiri akan mengurusnya nanti kalau sudah tenang, padahal itu cara menjanjikan bantuan pada diri sendiri justru di saat kamu sudah tidak merasa membutuhkannya lagi.
Minta dukungan adalah salah satu hal paling sederhana yang bisa dilakukan seseorang, dan sekaligus salah satu yang paling sulit. Bukan karena kata-katanya rumit. Tapi karena apa yang kita percaya akan terjadi begitu kita mengucapkannya.
Sebagian besar keyakinan itu salah. Bukan sedikit salah. Salah secara terukur, berulang kali, dengan arah yang membuat kita tetap sendirian padahal sebenarnya tidak perlu.
Hitungan di kepalamu itu keliru
Saat kamu membayangkan minta bantuan pada seseorang, pikiranmu diam-diam menjalankan kalkulasi. Seberapa merepotkan ini buatnya? Apakah dia akan diam-diam kesal? Apakah dia akan bilang iya karena sungkan, lalu memandangku lebih rendah? Kalkulasi itu terasa seperti realita. Padahal itu sebenarnya kesalahan yang sudah terdokumentasi dengan baik.
Dalam serangkaian studi yang dipublikasikan tahun 2022, psikolog Xuan Zhao dan Nicholas Epley meneliti apa yang sebenarnya terjadi saat orang minta bantuan, dibandingkan apa yang dibayangkan si peminta akan terjadi. Dari lebih dari dua ribu partisipan, orang yang minta bantuan konsisten meremehkan seberapa besar kesediaan orang lain untuk membantu, meremehkan seberapa baik perasaan si penolong setelahnya, dan melebih-lebihkan seberapa merepotkan permintaan itu. Sederhananya: kamu merasa jadi beban. Padahal orang lain, lebih sering daripada tidak, justru senang kamu bertanya.
Ini bukan sekadar berpikir positif. Ini sejalan dengan sesuatu yang sudah kamu tahu dari sisi sebaliknya. Coba ingat kapan terakhir kali seorang teman mempercayaimu dengan sesuatu yang penting, memintamu datang, mendengarkan, membantunya pindahan, atau sekadar menemaninya di telepon. Kamu tidak menganggapnya sebagai "beban". Kamu justru mungkin merasa lebih dekat dengannya. Sedikit merasa berguna. Diam-diam merasa dihormati karena dialah yang kamu pilih untuk dihubungi.
Perasaan yang sama itu juga menunggu di ujung pesanmu. Kamu hanya belum bisa melihatnya dari posisimu sekarang.
Kenapa kita lebih suka berjuang sendiri daripada minta bantuan?
Ada beberapa alasan jujur mengapa meminta tolong terasa semahal itu, dan menyebutnya satu per satu bisa mengurangi kekuatannya.
Yang paling keras adalah takut terlihat lemah. Entah bagaimana, banyak dari kita terbiasa dengan gagasan bahwa kompeten berarti tidak butuh siapa pun, bahwa orang yang layak dikagumi adalah yang serba bisa sendiri. Jadi minta bantuan bisa terasa seperti mengakui gagal, bukan hal wajar dari menjadi manusia di antara manusia lain. Ironisnya, studi-studi soal minta bantuan itu justru menemukan bahwa orang sering lebih menghormati si peminta, bukan sebaliknya. Permintaan yang disampaikan dengan pemikiran matang justru terbaca sebagai rasa percaya diri, bukan keruntuhan. Itu menunjukkan kamu paham apa yang sedang kamu hadapi dan cukup gigih untuk melibatkan orang lain. Sebaliknya, mengandalkan diri sendiri sepenuhnya bisa diam-diam terbaca sebagai tembok yang menutup diri.
Ada juga rasa takut ditolak. "Bagaimana kalau dia bilang tidak, atau ragu, atau menjauh." Kemungkinan itu cukup menyakitkan sampai tidak bertanya terasa lebih aman daripada mengambil risiko. Dan ada satu lagi yang lebih halus di baliknya: kekhawatiran bahwa masalahmu terlalu besar, terlalu membosankan, terlalu berulang, seolah kamu sudah menghabiskan jatah kesabaran orang lain.
Semua ini bukan kekurangan karakter. Ini adalah prediksi. Dan seperti kebanyakan prediksi dari otak yang cemas, arahnya condong ke skenario terburuk. Biaya minta bantuan digelembungkan. Biaya tidak minta bantuan, beban perlahan yang harus dipikul sendiri, diam-diam diabaikan karena sudah terasa familier.
Perlu dikatakan dengan jelas: dukungan bukan kemewahan yang baru boleh kamu terima setelah membuktikan diri tidak sanggup lagi. Banyak riset menghubungkan dukungan sosial dengan kesehatan mental yang lebih baik, kecemasan yang lebih rendah, dan daya tahan yang lebih kuat terhadap stres. Satu tinjauan yang menggabungkan puluhan studi menemukan kaitan yang stabil dan cukup kuat antara dukungan yang dimiliki seseorang dan seberapa baik kondisi psikologisnya. Koneksi bukan hadiah setelah kamu membaik. Koneksi sering justru bagian dari cara seseorang membaik.
Bagaimana cara minta bantuan yang sebenarnya?
Tahu kamu harus minta bantuan dan tahu caranya adalah dua hal yang berbeda. Permintaan yang samar sulit dijawab, jadi biasanya berujung pada respons yang juga samar ("kabarin aja kalau perlu apa-apa"), lalu tidak terjadi apa-apa. Permintaan yang baik itu kecil, spesifik, dan mudah untuk dijawab iya.
- Pilih satu orang dan satu hal. Kamu tidak perlu menumpahkan semuanya ke semua orang. Pilih orang yang sudah pernah ada untukmu, dan pilih satu permintaan konkret. "Boleh aku telepon kamu nanti malam?" lebih mudah dikabulkan daripada "aku butuh bantuan."
- Sebutkan jenis dukungan yang kamu inginkan. Orang lain tidak bisa membaca pikiranmu, dan sering menebak salah, langsung masuk mode "cari solusi" padahal kamu hanya ingin didengar. Coba satu kalimat yang mengarahkan mereka: "Aku nggak butuh saran, aku cuma perlu curhat sebentar," atau "Aku sebenarnya ingin dengar pendapatmu soal ini."
- Buat spesifik dan ada batas waktunya. "Bisa jagain anak-anak Sabtu jam dua sampai jam empat?" jauh lebih baik daripada "aku butuh istirahat sekali-kali." Permintaan yang spesifik lebih mudah masuk ke kehidupan orang yang sebenarnya, jadi lebih mungkin dijawab iya.
- Biarkan mereka boleh bilang tidak tanpa itu menjadi bencana. Memberi jalan keluar yang halus ("nggak apa-apa kalau kamu sibuk banget") justru membuat mereka lebih mau membantu, karena itu menunjukkan kamu memperlakukannya sebagai manusia, bukan menagih balas jasa.
- Lewati permintaan maaf yang berlebihan. Sederet "maaf banget ganggu, ini konyol, abaikan aja" tidak membuat permintaanmu lebih sopan. Itu hanya menandakan kamu merasa sudah melakukan kesalahan karena butuh sesuatu. Kamu tidak salah. Sekadar "terima kasih, ini artinya banyak buatku" jauh lebih bermakna.
Perhatikan, semua ini tidak menuntutmu memiliki kata-kata yang sempurna atau harus terlihat benar-benar hancur agar diperhatikan. "Hai, minggu ini berat banget. Ada waktu buat jalan-jalan?" sudah jadi permintaan yang lengkap dan bagus.
Kadang permintaan tidak berjalan sesuai harapan. Ada yang sedang tidak fokus, salah bicara, atau memang benar-benar tidak bisa hadir saat itu. Itu menyakitkan, dan bisa membuatmu tergoda menyimpannya sebagai bukti bahwa minta bantuan itu memang berbahaya. Coba jangan biarkan satu respons yang kurang pas menulis ulang seluruh aturan. Orang bisa melewatkan momen karena alasan yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, harinya sendiri yang berat, ponsel yang tidak dilihat, atau tebakan yang salah soal apa yang kamu butuhkan. Satu "tidak" hanyalah informasi soal satu orang di satu waktu. Bukan putusan soal apakah kamu layak dibantu. Solusinya biasanya bukan mundur. Tapi bertanya pada orang lain, atau bertanya lagi pada orang yang sama dengan lebih jelas.
Kalau minta bantuan sekecil apa pun rasanya mustahil
Kadang jarak antara kamu dan ponselmu terasa terlalu jauh untuk dilewati. Kalau begitu, kecilkan permintaanmu sampai terasa hampir memalukan kecilnya. Jangan coba menjelaskan seluruh situasinya. Kirim tiga kata: "Kepikiran kamu terus." Balas satu pesan yang selama ini kamu hindari. Duduk di dekat seseorang, jangan sendirian. Koneksi tidak harus dimulai dengan pengakuan berat. Bisa dimulai hanya dengan kedekatan, dan percakapan yang lebih berat bisa menyusul nanti, setelah kamu tidak memulainya dari nol seorang diri.
Dan kalau kamu memang tipe yang biasa jadi penolong, yang jadi sandaran semua orang, minta bantuan bisa terasa sangat asing. Orang yang paling cepat mendukung orang lain sering justru paling lambat menerima dukungan untuk dirinya sendiri. Kalau itu kamu, coba pikirkan bahwa membiarkan seseorang hadir untukmu bukan berarti mengambil. Itu memberi mereka hadiah yang sama seperti yang selama ini kamu berikan dengan cuma-cuma.
Belajar menerima ketika bantuan itu datang
Minta bantuan hanya separuh dari keahliannya. Separuh lainnya adalah membiarkan bantuan itu benar-benar sampai padamu, dan ternyata cukup banyak orang lebih pandai melakukan yang pertama daripada yang kedua. Tawaran itu datang, dan secara reflek kamu menolaknya. "Oh, nggak usah kok." "Aku baik-baik aja, serius." "Aku nggak mau merepotkan." Setiap penolakan itu terasa sopan. Tapi kalau ditumpuk terus, itu mengajarkan orang-orang yang menyayangimu bahwa dukungan mereka selalu terpental, dan akhirnya mereka berhenti menawarkan.
Menerima dengan baik adalah latihan tersendiri yang sunyi. Ketika seseorang hadir untukmu, respons paling murah hati sering yang paling sederhana: "terima kasih, ini benar-benar membantu." Tanpa menolak, tanpa panik ingin segera membalas jasa, tanpa bersikeras kamu sebenarnya bisa mengatasinya sendiri. Biarkan itu sampai. Duduk saja dengan sedikit rasa tidak nyaman karena diperhatikan. Kalau menerima bantuan membuatmu merasa punya utang yang harus segera dibayar, sadari perasaan itu, lalu lepaskan. Hubungan bukan buku kas. Timbal baliknya seimbang dalam hitungan tahun, bukan dalam hitungan sore, dan orang-orang yang layak dipertahankan tidak menghitung-hitung.
Ada juga bentuk menerima yang berarti mengatakan apa yang benar-benar kamu rasakan setelahnya. "Aku sedang punya hari yang buruk banget dan teleponmu bikin semuanya jadi lebih baik" memberi tahu seseorang bahwa usahanya berarti. Itu menutup lingkaran. Itu membuatnya lebih mungkin menghubungimu lagi lain kali, dan membuat seluruh pertukaran itu terasa lebih seperti apa adanya, yaitu dua orang bergiliran menopang satu sama lain.
Membangun dukungan sebelum kamu benar-benar terdesak
Waktu terburuk untuk mulai membangun jaringan dukungan adalah saat pertama kali kamu membutuhkannya. Hubungan yang hanya kamu hubungi saat krisis bisa terasa berat sebelah untuk dijaga dan janggal untuk diaktifkan. Solusinya tidak perlu besar. Cukup kontak kecil, teratur, dan tanpa tekanan, saat semuanya baik-baik saja.
Kirim meme itu. Tanya bagaimana wawancaranya berjalan. Jadwalkan ngopi rutin walau tidak ada apa-apa yang perlu diceritakan. Mayo Clinic mencatat bahwa persahabatan yang kuat dikaitkan dengan stres lebih rendah, mood lebih baik, dan umur lebih panjang, dan bahwa kualitas hubungan itu lebih penting daripada jumlahnya. Kamu tidak perlu banyak orang. Kamu perlu beberapa orang yang tetap hangat karena kamu terus menjaga jalur komunikasinya tetap terbuka.
Anggap saja seperti menjaga api kecil tetap menyala, bukannya mencoba menyalakan api saat hujan. Kabar-kabar biasa itulah kayu bakarnya. Itulah yang membuat permintaan yang sebenarnya, saat waktunya tiba, terasa seperti langkah selanjutnya, bukan mulai dari nol yang dingin.
Kapan dukungan yang kamu butuhkan sebaiknya dari profesional?
Teman dan keluarga penting, dan mereka punya batas. Mereka tidak terlatih untuk segalanya, dan menyandarkan semuanya pada satu orang bisa membuat hubungan itu tergerus. Ada hal-hal yang memang butuh seseorang yang seluruh pekerjaannya memang untuk membantu.
Kalau kamu sudah berjuang lebih dari beberapa minggu, kalau tidurmu, pekerjaanmu, atau hubunganmu benar-benar terdampak, kalau orang-orang yang menyayangimu sepertinya tidak bisa menjangkaumu, atau kalau bebannya sudah terasa lebih berat dari yang bisa kamu pikul, itu saatnya memperluas lingkaran ke dokter atau terapis. Mencari bantuan profesional bukan tanda bahwa teman-temanmu gagal, atau bahwa kamu gagal menghadapinya sendiri. Itu keterampilan yang sama seperti minta bantuan lainnya, hanya diarahkan pada seseorang yang memang dilengkapi untuk menampung apa yang kamu bawa. Dan kalau kapan pun keadaan terasa benar-benar tidak aman atau tidak tertahankan, kamu tidak perlu menunggu atau mencari kata-kata yang sempurna. Bantuan memang seharusnya dicari lebih awal, bukan hanya saat sudah di ambang batas.
Kebenaran yang diam-diam mengalir di bawah semua ini: orang-orang di sekitarmu hampir selalu lebih bersedia hadir daripada yang membuatmu percaya ketakutanmu. Kamu tidak akan tahu itu dengan menebak-nebak. Kamu akan tahu dengan mencoba bertanya. Mulai dari satu orang, satu hal kecil, hari ini.
Sumber
- Stanford Report, Why asking for help is hard, but people want to help more than we realize
- Zhao, X. & Epley, N., Psychological Science, Surprisingly Happy to Have Helped: Underestimating Prosociality Creates a Misplaced Barrier to Asking for Help
- Mayo Clinic, Friendships: Enrich your life and improve your health
- Harandi, T. et al., PMC, The correlation of social support with mental health: A meta-analysis