Bayangkan dua pertengkaran. Yang pertama, dua orang dalam satu tim berdebat bolak-balik soal sebuah rencana selama dua puluh menit. Mereka saling menyela. Suara makin meninggi. Dan begitu selesai, mereka ngopi bareng, sedikit masih berdebar, tapi lega karena sudah tuntas membahasnya. Yang kedua, kata-katanya lebih tenang dan ruangannya lebih sepi, tapi satu orang pergi dengan perasaan kecil. Bodoh. Diam-diam dicoret begitu saja.
Pertengkaran pertama membantu. Yang kedua merusak. Dari luar, keduanya bisa terlihat hampir sama, dan itulah masalahnya. Kebanyakan dari kita tidak pernah diajari perbedaannya, jadi kita menganggap semua konflik sebagai satu hal yang harus dimenangkan atau dihindari. Padahal konflik bukan satu hal saja. Dan garis antara yang membantu dan yang merusak itu bisa dipelajari.
Dua jenis pertengkaran yang sangat berbeda
Para peneliti yang mempelajari tim menarik batas yang tegas di sini, dan begitu kamu melihatnya, kamu tidak akan bisa mengabaikannya lagi.
Jenis pertama adalah konflik tugas. Ini adalah ketidaksepakatan soal pekerjaan itu sendiri, strategi, angka-angka, apakah tanggal peluncuran realistis, opsi mana yang sebenarnya lebih baik. Jenis kedua adalah konflik hubungan. Ini terjadi saat gesekan itu berubah jadi personal: nada bicara yang meremehkan, perasaan bahwa orang lain adalah masalahnya, arus bawah tentang siapa yang lebih pintar atau siapa yang salah.
Sebuah meta-analisis besar oleh Carsten De Dreu dan Laurie Weingart, yang merangkum puluhan tahun riset, menemukan bahwa konflik hubungan selalu bersifat merusak. Konflik hubungan menurunkan kinerja tim dan kepuasan orang di dalamnya, setiap kali. Hasil penelitian mereka soal konflik tugas lebih mengejutkan dibanding cerita lama di buku teks. Bahkan berdebat soal pekerjaan cenderung merugikan kinerja, bukan membantunya, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan pemikiran rumit. Tapi inilah titik penting yang terus muncul dalam penelitian ini: konflik tugas menimbulkan kerugian paling kecil, dan kadang malah bermanfaat, ketika keterkaitannya dengan konflik hubungan *lemah*. Singkatnya, perdebatan masih bisa ditoleransi, bahkan berguna, selama belum menyerang pribadi. Begitu itu terjadi, kerusakan pun mulai.
Jadi keterampilannya bukan menghindari ketidaksepakatan. Orang-orang yang tidak pernah berbeda pendapat bukan berarti damai, mereka justru punya tim yang diam-diam mengangguk setuju pada ide yang buruk. Keterampilan sebenarnya adalah menjaga percakapan sulit soal ide agar tidak diam-diam berubah menjadi percakapan soal orangnya.
Kenapa konflik bisa cepat berubah jadi personal?
Mengetahui perbedaannya dan benar-benar menjaga batas itu adalah dua hal yang berbeda, karena begitulah cara stres bekerja pada kita.
Saat kamu merasa ditantang, apalagi di depan orang lain, tubuhmu membacanya sebagai ancaman kecil. Jantungmu berdebar lebih cepat. Fokusmu menyempit. Bagian otak yang dibuat untuk berpikir hati-hati dan terbuka jadi lebih pelan, sementara bagian yang dibuat untuk membela diri jadi lebih kuat. Rasa ingin tahu biasanya yang pertama hilang. Begitu percakapan mulai terasa sulit, kamu sering sudah bergeser dari “ayo kita cari solusinya bersama” menjadi “aku tidak boleh kalah di sini.”
Di titik pergeseran itulah niat baik mulai luntur. Kamu berhenti mendengarkan maksud orang lain dan mulai mencari-cari kesalahan di dalamnya. Ketidaksepakatan soal anggaran berubah jadi penilaian atas kemampuan berpikir mereka. Semua ini biasanya tidak disengaja. Itu hanya cara kerja sistem saraf yang sedang aktif. Itulah sebabnya solusi yang benar-benar berhasil bersifat konkret dan fisik, bukan sekadar pengingat samar untuk “lebih baik-baik saja”.
Bagaimana caranya menjaga agar tetap bersih?
Ini bukan soal jadi lunak. Kamu bisa tetap tegas, bahkan gigih, soal idenya, sambil tetap lembut pada orangnya. Beberapa hal yang benar-benar membantu:
- Sebutkan sasaranmu dengan jelas. Katakan apa yang sedang kamu soroti, supaya jelas bahwa yang kamu kritik adalah hal itu, bukan orangnya. “Aku khawatir soal linimasa ini” terasa jauh berbeda dibanding kerutan dahi dan helaan napas panjang. Sampaikan ketidaksepakatanmu dengan kata-kata, supaya orang itu tahu yang kamu tekan adalah masalahnya, bukan dirinya.
- Mulailah dengan pertanyaan yang tulus, bukan sanggahan. Sebelum menjelaskan kenapa menurutmu mereka salah, cari tahu dulu kenapa mereka merasa benar. “Ada yang mungkin aku lewatkan di sini?” Kalau ditanyakan dengan tulus, ini mengerjakan dua hal sekaligus: bisa mengubah pandanganmu, dan menunjukkan bahwa kamu di sini untuk memahami, bukan sekadar untuk menang.
- Ulangi dulu apa yang kamu dengar. Pengulangan singkat dan jujur sebelum kamu menyampaikan pendapatmu, “Jadi menurutmu kita bisa kehilangan kesepakatan ini kalau menunggu, benar begitu?”, membuktikan bahwa kamu benar-benar mendengarkan. Orang jadi jauh lebih jarang bersikap defensif begitu mereka merasa didengar. Para peneliti komunikasi menemukan bahwa jenis pengakuan seperti ini adalah salah satu hal yang mencegah ketidaksepakatan mengeras jadi konflik.
- Cari bagian yang kamu setujui, dan katakan itu. Hampir tidak ada pendapat yang sepenuhnya salah. Menyebut bagian yang sama-sama kamu setujui, sebelum bagian yang tidak, memberi percakapan itu tempat berpijak yang aman. Itulah bedanya antara dua orang yang berhadap-hadapan dan dua orang yang sama-sama menghadapi satu masalah.
- Perhatikan tubuhmu sendiri, bukan hanya kata-katamu. Embuskan napas panjang, lepaskan rahang yang mengeras, jaga suara tetap rendah. Saat kamu merasa emosi mulai naik, itu tanda untuk melambat, bukan mempercepat. Kamu tidak bisa berdebat dengan baik saat tubuhmu dalam mode alarm.
- Beri jarak sebelum membalas dengan tajam. Semuanya sering bergantung pada jarak antara merasa tersinggung dan langsung membalas. “Biar aku pikirkan dulu sebentar” adalah kalimat yang lengkap, dan sudah menyelamatkan lebih banyak hubungan dibanding balasan cerdas apa pun.
Semua ini bukan berarti menelan apa yang kamu pikirkan. Berbeda pendapat tanpa merusak bukan berarti berbeda pendapat tanpa kejujuran. Ini soal menyampaikan hal yang jujur dengan cara yang bisa benar-benar diterima orang lain, bukan dengan cara yang membuat mereka berhenti mendengarkan.
Memperbaiki lebih penting daripada rekam jejak yang sempurna
Kamu akan salah kadang-kadang. Semua orang begitu. Kamu akan bersikap ketus pada seseorang, atau menyadari nada tajam dalam suaramu sendiri sedikit terlambat. Tujuannya memang bukan rekam jejak yang bersih tanpa cela.
Yang orang ingat adalah apakah kamu kembali untuk memperbaikinya. Kalimat sederhana seperti “Aku terlalu tajam tadi, itu tidak adil untukmu” membangun kepercayaan lebih besar dibanding tidak pernah salah sama sekali. Ini menunjukkan bahwa konflik di sini bisa dilalui, bahwa momen sulit tidak akan mengakhiri hubungan kerja. Amy Edmondson dari Harvard sudah bertahun-tahun menunjukkan bahwa tim terbaik bukanlah tim dengan gesekan paling sedikit. Mereka adalah tim yang punya cukup rasa aman secara psikologis sehingga orang berani bersuara, berbeda pendapat, mengakui kesalahan, dan tetap merasa diterima. Rasa aman itu tidak dibangun dengan menghindari percakapan sulit. Ia dibangun dengan menunjukkan, lagi dan lagi, bahwa sebuah percakapan sulit bisa dilalui dan keduanya tetap keluar dengan utuh.
Kalau konflik terus melukai dalam-dalam
Ada perbedaan antara konflik yang menyakitkan sesaat dan konflik yang perlahan menguras dirimu. Kalau ketidaksepakatan di kantor, atau di rumah, terus-menerus membuatmu cemas selama berhari-hari, takut menghadapi interaksi berikutnya, atau mulai meragukan nilai dirimu sendiri, itu patut diperhatikan. Sikap meremehkan yang terus-menerus, merasa harus selalu berhati-hati agar tidak memicu masalah, merasa makin kecil setiap kali berinteraksi dengan orang tertentu, semua ini bukan sekadar masalah komunikasi yang bisa diselesaikan dengan berlatih keterampilan, dan kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bisa begitu.
Terapis yang baik bisa membantumu membedakan gesekan biasa dalam bekerja dengan sesama manusia, dari pola yang diam-diam merugikanmu. Kalau sebuah hubungan sudah berubah menjadi sesuatu yang terasa menakutkan atau mengontrol, tolong bicaralah dengan orang yang kamu percaya, atau profesional yang menangani hal ini. Kamu tidak perlu yakin dulu bahwa keadaannya “cukup buruk” untuk minta bantuan. Ingin merasa lebih aman saja sudah alasan yang cukup.
Menjadi terampil dalam hal ini butuh latihan, dan latihan terbaik dimulai dari hal-hal kecil. Ketidaksepakatan ringan soal makan siang, keputusan sepele di kantor. Jaga agar tetap bersih di situ, lagi dan lagi, maka kata-kata yang tepat akan siap menantimu ketika percakapan yang sesungguhnya penting datang.
Sumber
- PubMed (Journal of Applied Psychology), Task versus relationship conflict, team performance, and team member satisfaction: a meta-analysis
- Harvard Business Review, What Is Psychological Safety?
- Harvard Graduate School of Education, How to Disagree Better: Strategies for Constructive Conversations
- Greater Good Science Center, How to Stay Open and Curious in Hard Conversations