Langsung ke konten utama

MEMIMPIN DIRI SENDIRI · ANGKAT BICARA

Cara angkat bicara dengan tenang saat itu penting

Bicara dengan tenang saat menyampaikan pendapat itu skill yang bisa dipelajari, bukan bawaan sejak lahir. Ini cara menyampaikan keberatan, menolak sesuatu, atau berbeda pendapat supaya orang lain benar-benar mendengarmu, dan supaya kamu keluar dari situasi itu dengan lebih tenang dibanding saat masuk: tentukan dulu satu poin utama sebelum bicara, mulai dengan fakta, sampaikan maksudmu, lalu berhenti bicara.

Dua pria duduk di meja di dalam ruangan.

Foto oleh Timur Shakerzianov di Unsplash

Ada satu kalimat yang mengendap di dadamu sekarang. Mungkin itu kekhawatiran soal rencana yang menurut orang lain baik-baik saja. Mungkin itu kata "tidak" yang terus kamu haluskan jadi "mungkin". Mungkin itu masukan yang seharusnya kamu sampaikan ke seseorang, tapi terus kamu tahan. Kamu sudah melatihnya di kamar mandi. Kamu sudah menulis ulang pesannya tiga kali. Lalu saat momennya datang, kalimat itu malah tidak keluar sama sekali, atau keluar lebih keras dari yang kamu maksud.

Jarak antara apa yang ingin kamu katakan dan apa yang benar-benar terjadi itu adalah salah satu sumber stres diam-diam yang paling umum, yang dibawa orang ke tempat kerja maupun ke rumah. Berani bicara dengan tenang adalah keterampilan yang bisa menutup jarak itu. Ini layak dipelajari, karena biaya dari tetap diam tidak hilang begitu saja. Ia hanya berpindah tempat. Ia berubah jadi rasa kesal yang mengendap, atau masalah yang lebih besar nanti, atau malam panjang memutar ulang percakapan yang tidak pernah terjadi.

Dua cara yang biasanya berujung salah

Di bawah tekanan, kebanyakan dari kita jatuh ke salah satu dari dua pola gagal, yang terlihat berlawanan tapi sebenarnya berasal dari sumber yang sama.

Yang pertama adalah memilih diam. Kamu bilang ke diri sendiri, "ah, nggak penting", "nggak usah bikin ribut", "nanti aja dibahasnya". Di baliknya biasanya ada rasa takut: takut konflik, takut salah, takut dianggap menyulitkan. Kekhawatiran itu tidak hilang ke mana pun. Ia hanya mengendap.

Yang kedua adalah meledak. Tekanan menumpuk sampai akhirnya tumpah, dan pesannya keluar dibungkus rasa frustrasi. Lawan bicaramu jadi sibuk membela diri, bukan mendengarkanmu, dan inti sebenarnya justru hilang.

Ada jalan tengah, dan jalan itu punya nama. Para klinisi menyebutnya komunikasi asertif: menyampaikan apa yang kamu pikirkan, butuhkan, atau rasakan secara langsung dan tetap menghargai orang lain, tanpa menggilas siapa pun dan tanpa menghapus dirimu sendiri. Mayo Clinic menggambarkannya sebagai gaya yang berada di antara pasif dan agresif, dan mereka mencatat hal yang mudah terlewat. Belajar bersikap asertif bukan hanya baik untuk percakapannya. Ini baik untukmu. Kaitannya dengan stres yang lebih rendah, kontrol amarah yang lebih baik, dan rasa percaya diri yang lebih stabil, karena kamu berhenti memanggul semua hal yang tidak pernah kamu ucapkan.

Kenapa ketenanganmu menentukan apakah kamu didengar?

Ada alasan mengapa nada bicara sama pentingnya dengan isi pesan. Saat kamu datang dengan panas, respons ancaman pada lawan bicaramu bangun lebih dulu sebelum akal sehatnya. Mereka jadi siaga. Mereka berhenti mendengarkan dan mulai menyiapkan bantahan. Kamu bisa saja sepenuhnya benar, tapi tetap kehilangan perhatian mereka, karena cara penyampaiannya menenggelamkan isinya.

Saat kamu datang dengan tenang, kamu memberi ruang bagi lawan bicaramu untuk tetap berpikir jernih. Ini bukan manipulasi. Ini kesopanan yang membuat kebenaran lebih mudah diterima. Ketenanganmu, dalam arti sebenarnya, adalah bagian dari argumenmu sendiri.

Ada versi yang lebih besar dari ini di level tim. Profesor Harvard Business School, Amy Edmondson, menghabiskan bertahun-tahun meneliti mengapa beberapa tim bisa menangkap masalah lebih dini sementara tim lain membiarkannya membusuk. Perbedaannya, ia temukan, terletak pada keamanan psikologis: keyakinan bersama bahwa kamu bisa menyampaikan kekhawatiran, mengakui kesalahan, atau bertanya tanpa takut dihukum atau dipermalukan. Dalam penelitiannya di puluhan tim kerja, kelompok yang merasa aman untuk bersuara belajar lebih cepat dan berkinerja lebih baik. Kelompok yang menganggap bersuara itu berbahaya, diam-diam menguburkan masalahnya sampai masalah itu jadi mahal.

Ini bagian yang penting untukmu secara pribadi. Kamu tidak perlu jadi bos untuk membentuk suasana itu. Setiap kali kamu menyampaikan sesuatu dengan tenang dan berjalan baik, kamu sedikit membuka jalan bagi orang berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Kamu sedang mengajari ruangan itu apa yang boleh dilakukan.

Sebelum kamu membuka mulut

Ketenangan itu dimulai sebelum percakapan, bukan saat percakapan berlangsung. Beberapa menit persiapan sudah mengerjakan sebagian besar tugasnya.

Perjelas satu hal. Bukan lima hal. Satu. Apa satu poin yang paling penting untuk dipahami atau diputuskan oleh orang ini? Kalau kamu belum bisa mengucapkannya dalam satu kalimat, artinya kamu belum siap. Tulis dulu.

Kenali apa yang sebenarnya kamu inginkan. Apakah kamu meminta perubahan, membagikan informasi, atau sekadar ingin didengar? Menamai tujuannya membuatmu tidak tersesat ke arah menyalahkan, yang biasanya terjadi saat kita sendiri belum jelas mau apa.

Tenangkan tubuhmu dulu. Kamu tidak bisa berpikir tenang selagi sistem tubuhmu masih dalam mode siaga. Sebelum masuk, atau sebelum menelepon, ambil satu tarikan napas panjang lalu embuskan pelan, rasakan kakimu menapak lantai, turunkan bahumu. Embusan napas panjang memberi tahu sistem sarafmu bahwa ancamannya tidak ada di sini. Beri dirimu tiga puluh detik untuk itu, dan pikiranmu akan lebih jernih begitu percakapan dimulai.

Saat momennya tiba

Ketika kamu sudah benar-benar di dalamnya, ada beberapa langkah kecil yang bisa menjaga suhu tetap rendah tanpa membuatmu jadi pihak yang selalu mengalah.

  1. Mulai dari fakta, bukan penghakiman. "Laporannya terkirim dengan angka kuartal lalu" terdengar sangat berbeda dari "Kamu salah kirim angka lagi." Yang satu membuka percakapan. Yang lain memulai pertengkaran.
  2. Bicara dari sudut pandangmu sendiri. "Aku khawatir jadwal ini tidak memberi ruang untuk pengujian" sulit dibantah, karena kamu menyampaikan pandanganmu sendiri, bukan mengklaim kebenaran mutlak. Ini juga menghindarkanmu dari menebak-nebak niat orang lain.
  3. Bersikaplah spesifik dan singkat. Ketidakjelasan justru memancing sikap defensif. Semakin sedikit kata di sekitar poin sesungguhnya, semakin jelas poin itu tersampaikan.
  4. Lalu berhenti bicara. Ini yang paling sulit. Setelah kamu mengatakan apa yang perlu dikatakan, biarkan keheningan itu ada. Jangan terburu-buru melunakkannya, menariknya kembali, atau mengisi jedanya. Beri ruang bagi orang lain untuk merespons.
  5. Ambil waktu sejenak saat kamu merasa terpancing. Kalau ucapan mereka membuatmu tersulut, kamu tidak harus langsung menjawab. "Boleh aku pikirkan dulu sebentar" adalah kalimat yang lengkap, dan hampir selalu bisa dipakai.

Kamu tidak akan melakukan semua ini dengan sempurna. Tidak ada yang bisa. Tujuannya bukan penampilan tanpa cela. Tujuannya adalah tetap cukup terkendali sehingga poin sesungguhnya tetap sampai, apa pun yang terjadi dalam percakapan itu.

Bagaimana kalau tidak berjalan baik?

Kadang kamu sudah melakukan semuanya dengan benar dan tetap saja berantakan. Orang lain jadi defensif, atau meremehkan, atau ruangan tiba-tiba jadi dingin. Ini penting untuk dikatakan secara jujur, karena ketakutan akan hal inilah yang membuat begitu banyak orang memilih diam.

Kalau suasana memanas, kamu bisa mengakuinya tanpa memperkeruh. "Aku rasa kita belum bisa menyelesaikan ini sekarang, boleh kita bahas lagi nanti?" adalah cara keluar yang tenang, bukan kekalahan. Melangkah mundur dari percakapan yang sudah tidak produktif adalah sebuah keterampilan, bukan kegagalan. Kamu selalu bisa kembali ke pembicaraan itu setelah semua orang lebih tenang.

Dan kalau kamu sempat kehilangan kendali? Kebanyakan hubungan bertahan lebih baik dari percakapan yang berantakan, dibandingkan dari rasa kesal yang dipendam terus-menerus. "Tadi aku datang lebih panas dari yang aku maksud, dan aku ingin mencobanya lagi" bisa memperbaiki lebih banyak dari yang kamu kira. Orang lebih mengingat apakah kamu kembali, bukan apakah kamu sempurna.

Bagaimana kalau diam ini soal sesuatu yang lebih besar?

Ada perbedaan antara gugup biasa saat menghadapi percakapan sulit dan sesuatu yang lebih berat. Kalau sekadar memikirkan untuk bersuara saja sudah membuatmu dilanda ketakutan, kalau kamu jadi diam di tempat-tempat yang dulu kamu bisa bersuara, atau kalau diam sudah menjadi cara untuk tetap aman dalam hubungan atau tempat kerja yang sebenarnya tidak terasa aman, itu perlu ditanggapi serius.

Rasa takut untuk bersuara bisa jadi tanda kecemasan yang tidak akan sepenuhnya terjangkau oleh beberapa teknik yang baik saja. Ini juga bisa jadi respons yang wajar terhadap situasi yang benar-benar tidak aman, dan membedakan keduanya kadang butuh sudut pandang orang lain. Terapis bisa membantumu membangun keterampilan ini dalam suasana yang risikonya rendah. Kalau diam sudah menjadi strategi bertahan hidup dalam hubungan di mana kamu merasa dikendalikan atau ketakutan, itu saatnya mencari dukungan yang lebih dari sekadar artikel self-help, dari orang yang kamu percaya atau profesional yang memang menangani hal ini.

Namun, kebanyakan waktu, kalimat yang mengendap di dadamu itu sebenarnya lebih kecil dari ketakutan yang mengelilinginya. Ia hanya perlu diucapkan dengan jelas, oleh seseorang yang cukup tenang untuk mengucapkannya. Orang itu bisa jadi kamu. Ini sebuah keterampilan, dan seperti keterampilan lainnya, setiap kali hal terburuk tidak terjadi, ia akan semakin mudah.

Sumber