Rasa takut itu biasanya sudah muncul jauh sebelum kamu tiba di gate. Kamu memesan tiket, dan tiba-tiba saja rasa itu ada: dengungan kecil di kepala, yang makin keras seiring tanggal keberangkatan makin dekat. Kamu membayangkan pintu pesawat menutup. Kamu membayangkan turbulensi. Begitu kamu duduk di kursimu, jantungmu berdebar kencang, tanganmu berkeringat, dan orang asing yang terlihat tenang di sebelahmu asyik membaca buku seolah semua ini bukan hal besar.
Hal pertama yang perlu kamu tahu. Kamu tidak berlebihan, dan kamu tidak sendirian. Takut terbang adalah salah satu jenis fobia spesifik yang paling umum dialami orang. Perkiraannya cukup beragam tergantung cara menghitungnya, tapi kira-kira satu dari empat hingga satu dari tiga orang dewasa mengaku benar-benar merasa tidak nyaman saat naik pesawat, dan sebagian kecil bahkan menghindari terbang sama sekali. Beberapa dari mereka adalah orang yang tidak pernah kamu duga. Rasa takut ini tidak ada hubungannya dengan seberapa berani atau bijaksana kamu dalam hal-hal lain di hidupmu.
Rasa takut ini juga punya nama klinis kalau sudah cukup parah hingga mengganggu hidupmu: aerofobia, atau aviofobia. Itu hanya sebutan singkat untuk fobia spesifik yang berpusat pada penerbangan. Memberi nama pada rasa takut ini bukan untuk melabelimu. Ini berguna karena fobia termasuk salah satu kondisi kesehatan mental yang paling bisa diobati, dan mengetahui apa yang kamu hadapi akan menuntunmu ke cara yang benar-benar bisa membantu.
Kenapa rasa takut ini tetap melekat, walau kamu tahu datanya?
Ini bagian anehnya, yang sebenarnya sudah disadari kebanyakan orang yang takut terbang. Secara nalar, kamu bisa tahu bahwa terbang itu sangat aman. Kamu mungkin sudah membaca bahwa bagian paling berbahaya dari perjalanan justru perjalanan mobil menuju bandara. Tapi rasa takut tidak peduli dengan semua itu.
Itu karena fobia tidak tinggal di bagian otak yang berpikir logis. Fobia tinggal di sistem alarm yang lebih tua dan lebih cepat, yang berevolusi untuk menjagamu tetap hidup, bagian yang bereaksi sebelum kamu punya kesempatan untuk berpikir. Ciri utama fobia, seperti yang dijelaskan para klinisi, ada di jarak ini: rasa takutnya nyata dan terasa di tubuh, tapi tidak sebanding dengan bahaya sesungguhnya di depanmu. Alarmmu berbunyi keras. Ancamannya kecil. Kedua hal ini sama-sama benar.
Pesawat juga hampir seperti mesin sempurna untuk memicu alarm itu. Kamu tidak bisa keluar begitu saja. Kamu bukan yang mengendalikan. Ada suara-suara asing, sesekali getaran yang tidak bisa kamu jelaskan, dan bagian dari otakmu yang bersikeras bahwa hilangnya kendali berarti bahaya. Semua ini bukan kekurangan karaktermu. Ini cuma masalah kabel lama di otak.
Dan inilah jebakan yang membuat rasa takut ini tetap kuat: menghindar. Setiap kali rasa takut berhasil membuatmu membatalkan perjalanan, kamu merasa lega, dan diam-diam otakmu mencatat itu sebagai bukti bahwa bahayanya memang nyata dan menghindar itu menyelamatkanmu. Rasa takutnya jadi sedikit lebih kuat, dan duniamu jadi sedikit lebih sempit. Memutus lingkaran ini adalah bagian terbesar dari usahanya.
Sebelum kamu terbang
Beberapa hal paling berguna terjadi bahkan sebelum kamu tiba di bandara.
- Pelajari cara kerja pesawat yang sebenarnya. Banyak rasa takut terbang sebenarnya adalah takut pada hal yang tidak diketahui. Turbulensi terasa seperti pesawat mau rusak, padahal lebih mirip perahu melewati ombak, tidak nyaman tapi masih sepenuhnya dalam kemampuan pesawat. Mengetahui apa arti setiap suara (roda pendaratan, flap sayap, mesin yang melambat setelah lepas landas) bisa menghilangkan kesan menakutkan dari banyak suara itu.
- Pesan tiket dengan memberi ruang untuk dirimu sendiri. Penerbangan pagi, kursi di lorong atau di atas sayap tempat pergerakannya lebih halus, rute langsung supaya bagian sulitnya hanya kamu lalui sekali. Pilihan kecil, tapi bedanya nyata.
- Lewati kopi kental dan bar di bandara. Kafein mendorong tubuhmu ke kondisi tegang yang serupa dengan kecemasan, dan alkohol biasanya membuat efek baliknya lebih buruk beberapa jam kemudian. Minum air putih saja.
- Siapkan rencana untuk tanganmu dan matamu. Unduh serial yang bikin kamu ketagihan, playlist panjang, podcast, atau buku tebal. Tujuannya supaya perhatianmu punya tempat yang jujur untuk dituju.
Satu hal yang perlu kamu ketahui. Banyak orang meminta obat penenang seperti diazepam ke dokter agar bisa melewati penerbangan, dan banyak tenaga medis, termasuk di lingkungan NHS, kini menolak meresepkannya justru karena alasan ini. Obat penenang bisa menumpulkan kemampuanmu bereaksi jika terjadi keadaan darurat yang jarang terjadi, bisa memperlambat napasmu di kabin yang oksigennya sudah rendah, meningkatkan risiko pembekuan darah karena kamu duduk terlalu lama tanpa bergerak, dan pada beberapa orang malah memicu gelisah, bukan tenang. Kalau kamu berpikir untuk memakai obat, itu percakapan jujur yang harus kamu lakukan dengan doktermu sendiri soal apa yang aman, bukan solusi cepat yang bisa diandalkan begitu saja.
Di udara, ketika rasa takut menyerang
Ketika rasa takut muncul di tengah penerbangan, kamu tidak bisa langsung melogikanya hilang, tapi kamu bisa bekerja sama dengan tubuhmu, yang bisa tenang lebih cepat daripada pikiranmu.
- Perlambat embusan napasmu. Tarik napas hitungan sekitar empat, lalu embuskan lebih lama, hitungan enam. Embusan napas yang panjang inilah yang memberi sinyal ke tubuhmu untuk mulai tenang. Lakukan selama satu menit. Tidak perlu sempurna.
- Injakkan kedua telapak kakimu dan rasakan lantainya. Tekan punggungmu ke kursi. Kamu sedang mengingatkan tubuhmu di mana ia berada, yang bisa memutus pusaran bayangan-bayangan menakutkan di kepalamu.
- Sebutkan apa yang ada di sekitarmu. Lima hal yang bisa kamu lihat, empat yang bisa kamu dengar, tiga yang bisa kamu sentuh. Kedengarannya hampir terlalu sederhana. Tapi ini menarik perhatianmu keluar dari bayangan kecelakaan dan kembali ke kabin yang sebenarnya, yang membosankan, dan aman.
- Biarkan turbulensi jadi sekadar turbulensi. Saat mulai terasa, coba katakan pada dirimu sendiri kenyataan sederhananya: ini normal, pilot terbang menghadapi ini terus-menerus, dan pesawat dirancang untuk kondisi yang jauh lebih buruk. Kamu tidak harus benar-benar percaya dengan sepenuh hati. Kamu cuma perlu mengucapkannya.
- Beri tahu awak kabin. Ini salah satu langkah yang paling jarang dipakai, padahal sangat membantu. Mereka sudah bertemu penumpang yang gelisah ribuan kali, sama sekali tidak terganggu, dan banyak yang akan mengecek keadaanmu atau menjelaskan suara yang kamu dengar. Kamu tidak perlu menahan semuanya sendirian di kursimu.
Gelombang adalah cara yang tepat untuk memahaminya. Kecemasan naik, memuncak, lalu turun sendiri kalau kamu membiarkannya, biasanya lebih cepat dari yang kamu kira. Kamu tidak perlu menghentikan gelombangnya. Kamu hanya perlu bertahan melewatinya, lalu gelombang berikutnya.
Bagaimana rasa takut ini benar-benar mengecil seiring waktu?
Cara-cara di atas membantumu melewati satu perjalanan. Tapi itu saja tidak menyembuhkan rasa takutnya. Kabar baiknya, cara yang benar-benar berhasil sudah dipahami dengan baik dan sungguh efektif bagi kebanyakan orang yang mencobanya.
Perawatan dengan hasil paling meyakinkan adalah terapi eksposur, biasanya sebagai bagian dari terapi perilaku kognitif (CBT). Idenya lebih lembut dari kedengarannya. Bukannya langsung melemparkanmu ke penerbangan lintas negara, terapis membantumu menghadapi rasa takut terbang lewat langkah-langkah kecil yang bisa kamu tangani, dan membiarkan sistem alarmmu belajar, melalui pengalaman nyata bukan argumen, bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi. Kamu mungkin mulai dengan melihat foto kabin pesawat, lalu mengunjungi bandara, lalu naik penerbangan singkat, meningkat bertahap sesuai kemampuanmu. Banyak program sekarang menggunakan realitas virtual untuk melatih seluruh pengalaman ini dulu di darat. CBT menambahkan sisi lainnya: menangkap pikiran-pikiran yang lepas kendali (“suara itu berarti ada yang salah”) dan belajar menjawabnya dengan fakta yang sebenarnya.
Kalau mengatur terapi terasa berat, ada jalan tengah yang sudah banyak dicoba orang. Beberapa maskapai penerbangan punya program terstruktur untuk mengatasi takut terbang, memadukan pilot dan ahli penerbangan dengan spesialis kecemasan, dan sering diakhiri dengan penerbangan sungguhan yang didampingi. NHS mengarahkan orang ke program semacam ini dan mencatat bahwa hasilnya cenderung lebih baik daripada obat, dengan efek yang bertahan setelah programnya selesai. Ini bisa jadi titik awal yang kuat, bahkan kalau kamu tidak pernah menemui terapis.
Kapan sebaiknya kamu mencari bantuan lebih lanjut?
Sedikit gugup sebelum terbang itu wajar dan tidak perlu diperbaiki. Tapi sudah waktunya mencari bantuan sungguhan kalau rasa takut ini yang mengendalikan keputusanmu: ketika kamu menolak perjalanan, pekerjaan, pernikahan, atau kesempatan bertemu orang-orang yang kamu sayangi karena terbang rasanya tidak mungkin, atau ketika ketakutan itu menghabiskan berminggu-minggu hidupmu sebelum perjalanan yang tidak bisa kamu hindari.
Itu bukan tanda kamu rusak. Itu tanda bahwa rasa takut ini sudah tumbuh lebih besar daripada alat yang kamu punya untuk menghadapinya, dan terapis yang menangani fobia bisa membantumu mengecilkannya lagi. Bicaralah dengan dokter atau tenaga profesional kesehatan mental, dan kalau kecemasan atau panik sudah merambah ke bagian lain hidupmu, sampaikan juga hal itu. Fobia merespons pengobatan sebaik hampir semua kondisi lain di bidang ini. Dunia di sisi lain dari rasa takut ini, perjalanan, orang-orang, dan tempat-tempat itu, layak diperjuangkan untuk kamu raih kembali.
Sumber
- Cleveland Clinic, Aerophobia (Fear of Flying): Causes, Symptoms & Treatment
- National Institute of Mental Health, Phobias and Phobia-Related Disorders
- NHS (Goldsworth Medical Practice), Fear of Flying
- National Library of Medicine / PMC, Overcoming Fear of Flying: A Combined Approach of Psychopharmacology and Gradual Exposure Therapy