Ada semacam kesunyian yang menyelimuti tim yang takut pada atasannya. Orang-orang menjawab pertanyaan dengan hati-hati. Kesalahan dirapikan diam-diam sebelum ada orang penting yang melihatnya. Rapat selesai dengan semua orang mengangguk, lalu percakapan yang sesungguhnya terjadi di lorong atau di grup chat yang tidak ada atasannya. Dari ruang kerja di pojok kantor, ini bisa terlihat seperti keteraturan. Padahal biasanya justru sebaliknya.
Rasa takut memang manjur. Itulah bagian yang tidak nyaman untuk diakui. Andalkan rasa takut, dan kamu sering kali akan mendapat lonjakan usaha, tenggat waktu yang terkejar, angka yang bergerak naik. Kebanyakan dari kita pernah setidaknya sekali menekan seseorang lewat tekanan dan melihat hasilnya. Masalahnya bukan karena rasa takut tidak berpengaruh. Masalahnya ada pada apa yang harus kamu bayar keesokan harinya, minggu berikutnya, dan apa yang diam-diam hilang dari meja untuk selamanya.
Sebenarnya, apa yang kamu dapatkan dari rasa takut?
Ketika orang merasa takut, perhatian mereka menyempit ke satu hal saja: jangan sampai terjebak di pihak yang salah. Insting ini jauh lebih tua daripada tempat kerja mana pun, dan kekuatannya besar. Dalam budaya yang dipenuhi rasa takut, langkah paling aman hampir tidak pernah sama dengan langkah yang jujur.
Para peneliti Wharton yang mempelajari hal ini menggambarkan sebuah pola yang seharusnya membuat pemimpin mana pun berpikir dua kali. Rasa takut bisa terasa memotivasi dalam jangka pendek karena memenuhi ruangan dengan rasa urgensi. Namun seiring waktu, dampaknya justru berlawanan dengan yang kamu inginkan. Rasa takut meredam kreativitas, memicu kelelahan, dan menghambat kolaborasi yang menjadi tumpuan kerja yang baik. Salah satu temuan yang paling mencolok adalah soal kesalahan. Dalam budaya yang digerakkan oleh rasa takut, orang tidak membuat lebih sedikit kesalahan. Mereka justru membuat lebih banyak, karena mereka menyembunyikan kesalahan yang sudah terjadi, alih-alih mengungkapkannya selagi masih ada waktu untuk memperbaikinya. Masalah yang paling perlu kamu dengar adalah masalah yang paling ditakuti timmu untuk disampaikan.
Itulah hitungan tersembunyi dari rasa takut. Kamu pikir kamu sedang membeli kinerja. Padahal yang sering kamu beli adalah kebisuan atas hal-hal yang paling penting.
Mengapa orang memilih diam?
Amy Edmondson dari Harvard telah menghabiskan puluhan tahun meneliti pertanyaan yang berkaitan: mengapa orang-orang cerdas dan mumpuni tetap memilih diam padahal bicara jelas akan membantu? Jawabannya, diam adalah pilihan yang masuk akal dalam sebagian besar struktur hierarki. Berbicara membawa risiko pribadi yang langsung terasa, yaitu terlihat bodoh atau menyinggung orang yang lebih senior. Sementara manfaat dari berbicara sifatnya menyebar dan baru terasa belakangan, sering kali untuk orang lain. Karena itu kita masing-masing punya ambang batas pribadi soal kapan risiko itu layak diambil, dan kita baru membuka mulut ketika hampir yakin akan disambut baik.
Rasa takut menaikkan ambang batas itu. Kepercayaan menurunkannya.
Edmondson menyebut kondisi ketika ambang batas itu rendah sebagai keamanan psikologis: perasaan bersama bahwa kamu tidak akan dihukum atau dipermalukan karena bertanya, mengakui bahwa kamu bingung, atau melontarkan ide yang belum matang. Ini bukan soal bersikap lembek, dan bukan berarti tidak ada standar. Ini adalah syarat yang memungkinkan kejujuran benar-benar terjadi. Tanpanya, kamu sedang memimpin tim yang diam-diam sudah memutuskan bahwa kamu tidak sanggup menghadapi kebenaran.
Dorongan untuk diam makin kuat semakin rendah posisi seseorang dalam struktur. Orang paling baru di tim, yang justru paling mungkin menyadari hal yang sudah tidak lagi diperhatikan orang lain, adalah juga orang yang paling banyak dipertaruhkan jika ia bicara. Akibatnya, pengamatan terbaik mereka tidak pernah sampai ke kamu. Pemimpin yang mengandalkan rasa takut kehilangan justru masukan yang bisa menyelamatkannya, dan itulah yang hilang lebih dulu.
Lalu, apa yang dilakukan kepercayaan?
Kepercayaan memang terlihat lebih lambat, karena memang begitu adanya. Tidak ada lonjakan adrenalin, tidak ada kepanikan. Tapi kepercayaan mengubah hal-hal yang sama dengan yang diubah rasa takut, hanya dengan arah yang berlawanan.
Ketika orang percaya pada pemimpinnya, mereka menyampaikan masalah sejak dini, bukan menguburkannya. Mereka berani mengambil risiko kecil yang cerdas, yang lama-lama berubah menjadi hasil kerja yang lebih baik. Mereka bertahan. Riset dari para psikolog industri dan organisasi mengaitkan kepercayaan di tempat kerja dengan stres yang lebih rendah, kepuasan kerja yang lebih tinggi, motivasi yang lebih kuat, dan bagian yang paling diperhatikan para pemimpin, produktivitas yang lebih tinggi serta kualitas kerja yang lebih baik. Riset yang sama juga menghubungkan kepercayaan dengan dua dorongan manusia yang paling mendasar: rasa bahwa kamu punya kendali nyata atas pekerjaanmu sendiri, dan rasa bahwa kamu memang mampu melakukannya dengan baik. Beri orang kedua hal itu, dan motivasi cenderung tumbuh dari dalam diri mereka sendiri, bukan sesuatu yang harus terus kamu suntikkan dari luar.
Itulah perbedaan sesungguhnya. Rasa takut adalah tenaga yang harus terus-menerus kamu berikan, karena begitu ia mereda, usaha yang selama ini ditopangnya ikut kendur. Kepercayaan justru bertumbuh. Setiap kali kamu terbukti aman untuk diajak bicara jujur, orang-orang berani mengambil sedikit lebih banyak risiko, tim menjadi sedikit lebih jujur, dan hasil kerja menjadi sedikit lebih baik. Kamu tidak lagi mendorong. Kamu sedang membangun sesuatu yang bisa berjalan dengan sendirinya.
Bagaimana caranya memimpin dengan cara ini secara sengaja?
Semua ini bukan soal bersikap lembek, menurunkan standar, atau tidak pernah kecewa. Kamu bisa memegang standar yang sangat tinggi dan tetap menjadi orang yang aman untuk ditemani gagal. Berikut cara keduanya berjalan bersama dalam praktiknya.
- Perlakukan pembawa kabar dengan baik, setiap saat, tanpa kecuali. Begitu ada orang yang membawa kabar buruk kepadamu lalu malah kena marah karenanya, kamu sudah mengajarkan seluruh tim untuk berhenti bicara. Berterima kasihlah pada orang yang memberi peringatan dini, bahkan ketika peringatan itu merusak sore harimu. Justru pada saat itulah kamu paling perlu berterima kasih.
- Pisahkan standar dari ancaman. Kalimat "Ini harus jadi yang terbaik, dan aku akan bantu kamu mencapainya" menarik orang untuk maju. Kalimat "Ini pokoknya harus bagus" membuat mereka jadi terlalu hati-hati dan menciut. Standarnya sama, tapi bahan bakarnya sama sekali berbeda.
- Akui kesalahanmu sendiri secara terbuka. Pemimpin yang berkata "Keputusanku tadi keliru" memberi semua orang izin untuk jadi manusia biasa yang boleh salah dan bisa memperbaiki diri. Orang-orang akan meniru kejujuran yang mereka lihat dari atas.
- Ajukan pertanyaan yang sungguh-sungguh, lalu benar-benar dengarkan jawabannya. Pertanyaan "Ada yang kulewatkan, ya?" hanya berarti kalau orang yang menjawabnya pergi dengan perasaan lega karena sudah bicara. Tindak lanjutnya jauh lebih penting daripada pertanyaannya sendiri.
- Beri orang ruang untuk memiliki pekerjaannya sendiri. Riset tentang kepercayaan selalu kembali ke soal otonomi. Jelaskan seperti apa hasil yang baik dan mengapa itu penting, lalu biarkan mereka menemukan caranya sendiri untuk sampai ke sana. Dipercaya untuk mengambil keputusan yang nyata adalah salah satu motivator terkuat yang ada, dan itu gratis.
- Jadilah konsisten. Kepercayaan lebih banyak dibangun bukan lewat gestur besar, melainkan dengan menjadi orang yang sama, baik di hari buruk maupun di hari baik. Sifat yang bisa diprediksi inilah yang membuat orang berhenti bersiaga.
Versi yang bertahan lama
Ingat-ingat para pemimpin yang tanpa ragu mau kamu ikuti lagi. Hampir tidak ada dari mereka yang mengandalkan rasa takut. Mereka adalah orang-orang yang tenang, yang berkata jujur padamu dan bisa juga menerima kejujuran itu kembali, yang mempercayakan sesuatu yang nyata padamu dan benar-benar senang ketika kamu berhasil menjalankannya. Kamu bekerja keras untuk mereka, dan itu tidak terasa seperti beban.
Rasa takut bisa membawamu melewati satu kuartal. Ia tidak bisa membawa satu tim melewati bertahun-tahun, karena ia menguras habis satu hal yang menjadi fondasi tahun-tahun itu. Kepercayaan adalah jalan yang lebih lambat, dan hanya jalan itulah yang membuat orang tetap jujur, tetap waspada, dan tetap berdiri di sampingmu ketika hal sulit berikutnya datang. Itu jauh lebih berharga daripada semburan usaha apa pun yang bisa kamu paksa keluar dari mereka lewat rasa takut.
Sumber
- Knowledge at Wharton, Apakah Rasa Takut Memotivasi Pekerja, atau Justru Memperburuk Keadaan?
- Harvard Business Review, Menciptakan Keamanan Psikologis di Tempat Kerja (wawancara dengan Amy Edmondson)
- Society for Industrial and Organizational Psychology, Kepercayaan Organisasi Membawa Hasil Positif bagi Karyawan dan Organisasi