Skip to main content
Donasi

NEGOSIASI · JEDA

Jeda yang memenangkan, dan cara memakai keheningan tanpa main-main

Jeda bukan taktik, jeda adalah berpikir dengan suara dimatikan. Ambil tiga detik sebelum kamu menjawab tawaran apa pun, setiap kali, supaya jedanya sendiri tidak membocorkan apa-apa dan kamu tidak menjawab dengan autopilot.

Meja kayu cokelat di dekat jendela

Foto oleh Minku Kang di Unsplash

Tips singkat

  • Ambil jeda sebelum setiap jawaban, bukan hanya yang sulit.
  • Isi jeda dengan catatan, bukan dengan kata pengisi.
  • Ulangi angka mereka satu kali sebelum kamu menjawab.

Ada satu langkah dalam setiap negosiasi yang tidak memakan biaya apa pun, tidak butuh persiapan, dan tersedia untuk semua orang di meja itu: tiga detik setelah lawan bicaramu berhenti bicara.

Kebanyakan dari kita memberikan detik-detik itu begitu saja. Sebuah tawaran datang, dan sebelum tawaran itu selesai mendarat, kita sudah bilang "iya, itu oke", yang sebenarnya bukan keputusan melainkan cara mengakhiri rasa canggung karena sedang ditatap. Angkanya mungkin memang wajar. Kita tidak akan pernah tahu, karena kita tidak pernah memikirkannya.

Jeda bukan trik dan bukan unjuk kekuatan. Jeda adalah wujud berpikir kalau dilihat dari luar. Jeda juga peningkatan paling murah yang tersedia bagi siapa pun yang bernegosiasi, karena tidak seperti posisi tawar, data pasar, atau tawaran pembanding, jeda sudah jadi milikmu, bekerja dalam bahasa apa pun, dan tidak bisa diambil siapa pun darimu.

Berapa lama sebaiknya aku berhenti sejenak sebelum menjawab sebuah tawaran?

Sekitar tiga detik, dan ambil jeda itu sebelum setiap jawaban, bukan hanya sebelum yang berat. Jeda yang selalu kamu ambil tidak membocorkan apa-apa. Jeda yang hanya kamu ambil saat kamu tidak senang adalah sebuah petunjuk, dan pendengar yang jeli akan membacanya dalam satu kali rapat.

Tiga detik terasa jauh lebih panjang dari dalam daripada tampaknya dari luar, dan itulah sebabnya orang menyerah di detik satu setengah. Latih dulu di tempat yang tidak berisiko. Minggu ini, ambil tiga detik sebelum menjawab pertanyaan mudah di rapat rutin, lalu perhatikan apa yang tidak terjadi: tidak ada yang sadar, tidak ada yang menganggapmu aneh, dan kamu terdengar seperti orang yang berpikir dulu.

Para peneliti di MIT Sloan mempelajari rekaman negosiasi dan memakai perangkat lunak untuk menemukan setiap keheningan yang berlangsung minimal tiga detik. Jeda-jeda itu cenderung muncul tepat sebelum terjadi terobosan, lebih sering daripada di titik mana pun dalam percakapan. Efeknya bukan berasal dari membuat lawan bicara tidak nyaman. Efeknya berasal dari apa yang jeda itu lakukan pada cara berpikir orang yang mengambilnya.

Apakah memakai keheningan dalam negosiasi itu manipulatif?

Tidak, kalau kamu memang sedang berpikir. Keheningan yang dipakai untuk membuat orang gelisah adalah taktik, dan taktik hanya berhasil sekali pada orang yang tidak akan kamu temui lagi. Keheningan yang dipakai untuk berpikir adalah kebiasaan, dan kebiasaan berhasil selama dua puluh tahun pada orang yang kamu temui setiap Senin.

Bedanya kelihatan dari luar, dan itulah bagian yang berguna. Keheningan yang manipulatif punya wajahnya sendiri: alis terangkat, tatapan yang menahan, senyum tipis yang berkata sekarang giliranmu. Berpikir yang sungguhan terlihat sama sekali berbeda. Kamu melepas kontak mata, kamu melihat catatanmu, kamu menulis sesuatu, lalu kamu kembali dengan kalimat yang menanggapi apa yang benar-benar mereka katakan.

Ada juga alasan praktis untuk memilih versi yang jujur. Taktik harus disembunyikan supaya berhasil, artinya sebagian perhatianmu habis untuk mengatur penampilanmu sendiri alih-alih untuk masalah yang ada di depanmu, dan itu mahal justru di saat kamu paling tidak sanggup membayarnya. Jeda yang kamu ambil karena kamu memang butuh tiga detik tidak menuntut akting sama sekali, jadi seluruh perhatianmu tetap pada kesepakatannya.

Risetnya mendukung versi yang jujur, bukan yang teatrikal. Dalam kajian MIT itu, keheningan yang panjang berkaitan dengan kedua pihak sama-sama mendapat hasil lebih baik, bukan dengan satu pihak mengeruk lebih banyak dari pihak lain. Hening memutus anggapan otomatis bahwa kesepakatan adalah kue berukuran tetap yang tinggal dibelah di tengah. Itulah versi keheningan yang layak dipelajari, karena versi itu tetap utuh saat dipakai pada seorang teman.

Apa yang sebenarnya harus kupikirkan selama jeda?

Keterbatasan mereka, bukan gugupmu. Dua pertanyaan cukup untuk mengisi tiga detik: apa yang sebenarnya sedang orang ini kejar, dan apa yang harus ada di dalam tawaran ini supaya aku bilang ya hari ini.

Mengarahkan perhatian ke luar bukan cuma lebih menenangkan, tetapi juga lebih efektif dengan cara yang bisa diukur. Dalam eksperimen klasik tentang tawaran pertama, kekuatan jangkar sebuah angka pembuka paling besar ketika pihak kedua sekadar bereaksi terhadapnya, dan melemah ketika orang itu sengaja memusatkan perhatian pada informasi yang tidak diperhitungkan oleh angka tersebut: target dirinya sendiri, pilihan lain yang ia punya, dan berapa yang sebenarnya sanggup dibayar pihak seberang. Pemusatan perhatian itu tersedia di dalam jeda dan nyaris tidak di tempat lain, karena begitu kamu mulai bicara kamu sudah terikat pada kerangka yang kamu buka sendiri.

Jadi pakai celah itu untuk satu pikiran yang jelas, bukan untuk rasa panik yang samar. Keterbatasan mereka. Targetmu. Lalu jawab.

Bagaimana caraku menahan jeda saat lawan bicara terus bicara?

Biarkan mereka bicara. Jeda bukan lomba, dan orang yang mengisi keheningan biasanya sedang menyerahkan informasi yang tidak perlu kamu minta.

Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Kalau mereka mulai menjelaskan siklus anggaran, atau rentang gaji internal, atau alasan tenggatnya mepet, kamu tidak kehilangan keheningan itu. Kamu baru saja diberi petanya. Biarkan penamu terus bergerak dan biarkan penjelasan itu habis dengan sendirinya.

Kalau heningnya benar-benar jadi canggung untuk kalian berdua, sebut saja dan tetap pertahankan. "Beri aku waktu sebentar untuk itu" tidak memakan biaya apa pun dan langsung membeli sisa jedanya.

Saat itu terjadi, tanggapi hal paling berguna yang mereka katakan, bukan tawaran yang mereka ajukan di awal. "Tadi kamu bilang siklus evaluasinya bulan Maret. Bisakah punyaku dimajukan ke enam bulan?" Kalimat itu ada hanya karena kamu tidak mengisi celahnya, dan kalimat itu menggerakkan variabel yang bahkan tidak ada di meja saat percakapan dimulai.

Apa yang kulakukan dengan tubuhku sambil menunggu?

Beri tubuhmu pekerjaan. Tulis satu baris di buku catatan, letakkan penanya, embuskan napas pelan-pelan, dan biarkan bahumu turun saat napas keluar. Tiga detik kira-kira selama satu embusan napas yang tidak terburu-buru, jadi gampang diukur tanpa perlu menghitung.

Alasan jeda itu bisa kamu ambil sama sekali adalah karena bukan tubuhmu yang memimpin rapat, dan itu bisa dilatih, bukan bawaan lahir. Siapa pun yang rutin berolahraga sudah terbiasa tetap tenang saat detak jantungnya tinggi dan tubuhnya minta berhenti, dan itu keterampilan yang persis sama: tetap bertindak dengan sengaja sementara ada bagian dirimu yang ingin buru-buru. Itu salah satu alasan sederhana kenapa orang yang ambisius tetap berolahraga di kuartal yang berat alih-alih menghentikannya lebih dulu.

Jangan isi celah itu dengan bunyi-bunyi yang terdengar seperti berpikir padahal bukan: "oke, oke", "iya, iya", "jadi gini". Itu semua jeda yang suaranya dibiarkan menyala, dan bunyi-bunyi itu mengembalikan momennya seketika.

Di panggilan video, jeda butuh sedikit bantuan, karena wajah yang diam di layar bisa terbaca sebagai koneksi yang membeku. Sebut kerangkanya sekali dengan suara dan masalahnya hilang: "Beri aku sedetik untuk memikirkannya." Lalu ambil empat, bukan tiga, karena jeda sinyal akan memakan satu.

Jeda yang kamu ambil setiap kali tidak membocorkan apa-apa

Tiga detik per jawaban membelikanmu keputusan yang benar-benar kamu buat sendiri, bukan keputusan yang dibuat sistem sarafmu atas namamu sementara ada orang yang menonton. Itulah seluruh pertukarannya, dan itu tersedia di setiap kesepakatan yang akan pernah kamu buat.

Lakukan di mana-mana. Ambil tiga detik sebelum menjawab pertanyaan di rapat, sebelum membalas pesan yang membuatmu kesal, sebelum bilang ya pada proyek tambahan. Kebiasaannya cuma satu, dilatih berbulan-bulan saat taruhannya kecil, supaya di pagi hari ketika nilainya ribuan, tubuhmu sudah mengenali bentuknya dan tidak memperlakukan hening sebagai keadaan darurat.

Sebuah tawaran datang. Kamu menunduk, kamu menulis satu baris, kamu mengembuskan napas. Lalu kamu menjawab, dan jawaban itu milikmu.

Sumber

Sebelum kamu pergi, sepatah kata soal perawatan

KEEP CALM menyediakan alat bantu diri edukatif yang gratis. Ini bukan nasihat medis, diagnosis, atau terapi, dan bukan pengganti perawatan profesional. Jika ada sesuatu di sini yang terasa lebih dari sekadar stres sehari-hari, menghubungi profesional adalah langkah yang kuat dan masuk akal.

If you are in crisis or thinking about harming yourself, you are not alone. In the US, call or text 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), text HOME to 741741 (Crisis Text Line), or call 911 in an emergency.