Ada rasa cemas tertentu yang muncul dari hubungan kerja yang sudah rusak. Rasanya tidak ribut. Ia hidup di momen-momen kecil. Kamu melihat nama orang itu di undangan rapat dan perutmu langsung mengencang. Kamu membaca pesannya dua kali, mencari-cari sindiran yang kamu yakin ada di situ. Kamu mulai menghindar, melibatkan orang lain, memilih kata-kata seolah sedang melangkah di ladang ranjau. Perselisihan sebenarnya mungkin sudah berbulan-bulan berlalu. Tapi rasa dinginnya sudah membentuk cuacanya sendiri.
Kebanyakan dari kita mengira tujuannya adalah mengembalikan hubungan itu seperti semula. Padahal seringkali itu tidak mungkin, dan mengejarnya justru membuatmu terjebak. Tujuan yang lebih berguna itu lebih kecil dan lebih jujur: sampai ke titik di mana kamu bisa bekerja sama tanpa rasa cemas itu, di mana hubungannya berfungsi meski tidak pernah kembali hangat. Itu sudah kemenangan yang nyata. Dan itu lebih mudah dicapai daripada yang terasa saat ini.
Keretakan bukan bukti hubungan itu rusak
Ada satu hal yang sudah lama disampaikan riset tentang hubungan dekat, sejak lima puluh tahun lalu, meski secara diam-diam. Hubungan yang sehat bukanlah yang tanpa konflik. Hubungan yang sehat adalah yang orang-orang di dalamnya terus menemukan jalan kembali setelah konflik itu terjadi.
Psikolog perkembangan Edward Tronick menghabiskan kariernya meneliti hal ini dalam bentuk hubungan yang paling dasar, yaitu orang tua dan bayi. Penelitiannya yang terkenal, "still face", menunjukkan bahwa bahkan pada pasangan yang baik dan penuh cinta sekalipun, keduanya kerap tidak selaras. Satu pihak mengulurkan tangan, yang lain meleset. Sinyal jadi bersilangan. Yang membedakan ikatan yang aman dari yang rapuh bukanlah ketiadaan ketidaksesuaian itu. Yang membedakannya adalah bahwa ketidaksesuaian itu diperbaiki, berulang kali, dan proses perbaikan itulah yang sebenarnya membangun kepercayaan. Dalam buku yang ditulisnya bersama dokter anak Claudia Gold, seluruh argumennya sudah ada di judulnya: kekuatan itu ada pada perselisihan, yang diikuti oleh proses kembali bersatu.
Orang dewasa di tempat kerja jelas bukan bayi. Tapi polanya tetap sama. Dua orang yang bekerja sama secara dekat pasti akan saling menginjak. Ada salah paham. Seseorang mengambil pujian yang bukan haknya, atau merasa tidak mendapat pengakuan yang seharusnya. Satu komentar terdengar salah di rapat dan tidak pernah bisa ditarik kembali. Semua itu tidak berarti hubungannya berakhir. Artinya, ada perbaikan yang belum dilakukan, dan itu masih menjadi utang.
Kerangka berpikir ini penting, karena apa yang kita katakan pada diri sendiri saat suasana jadi hening setelah konflik. Kita memutuskan bahwa orang itu memang sulit, atau bahwa mereka sudah menyerah pada kita, atau bahwa membicarakannya hanya akan memperburuk keadaan. Jadi kita membiarkannya mengeras. Kebisuan itulah yang justru menimbulkan luka yang tidak pernah benar-benar ditimbulkan oleh pertengkaran aslinya.
Kenapa layak menghadapi ketidaknyamanan ini?
Mari jujur soal godaan untuk sekadar menghindari orang itu sampai salah satu dari kalian keluar dari perusahaan. Kadang cara itu bahkan berhasil. Tapi lebih sering, ongkosnya lebih besar dari yang kamu kira.
Hubungan yang tegang tidak akan tinggal diam di tempatnya. Ia merembes ke pekerjaan. Keputusan jadi lambat karena kalian berdua tidak bisa berbicara terus terang. Informasi berhenti mengalir, sehingga kalian berdua membuat keputusan yang lebih buruk dengan gambaran yang lebih tidak lengkap. Orang lain merasakan ketegangan itu dan mulai mengatur-atur agar tidak terkena imbasnya, yang diam-diam menguras energi semua orang. Ketika sebuah tim di Harvard Business Review meninjau sekitar 300 studi tentang hubungan di tempat kerja, benang merahnya adalah bahwa hubungan yang retak merugikan baik orang-orang di dalamnya maupun organisasi di sekitarnya. Kekesalan yang dibiarkan begitu saja tidak akan memudar. Ia menyebar.
Ada juga ongkos pribadinya, dan itu lebih berat daripada ongkos profesionalnya. Membawa-bawa konflik ringan itu melelahkan. Rasa siaga terus-menerus, latihan berdebat di kepala saat mandi, cara satu email dingin bisa merusak suasana sore harimu. Kamu menghabiskan perhatian yang sesungguhnya untuk masalah yang tidak akan selesai hanya dengan dihindari. Perbaikan, meski hanya sebagian, mengembalikan perhatian itu kepadamu.
Ada juga keuntungan yang mudah terlewat. Orang mengingat siapa yang cukup besar hati untuk kembali setelah keadaan memburuk. Hubungan yang sudah kamu bangun kembali seringkali lebih kokoh daripada hubungan yang tidak pernah retak, karena kalian berdua sekarang punya bukti bahwa hubungan itu bisa menghadapi guncangan dan pulih. Ini bukan sekadar kalimat penghibur. Ini temuan yang sama dari riset kelekatan (attachment), hanya diterapkan pada orang dewasa: ikatan yang bertahan dari keretakan lalu diperbaiki, pada akhirnya lebih dipercaya daripada ikatan yang tidak pernah teruji sama sekali.
Bagaimana sebenarnya cara memulainya?
Tidak ada naskah yang bisa membuat ini terasa nyaman. Tapi ada urutan langkah yang biasanya berhasil, diambil dari orang-orang yang meneliti dan melatih hal ini sebagai pekerjaan mereka. Ambil pelan-pelan.
Redakan dulu sebelum melakukan apa pun
Kalau kamu masih panas soal ini, kamu belum siap. Apa pun yang kamu katakan saat masih dipenuhi rasa frustrasi akan membawa muatan itu, dan orang lain akan mendengar muatannya sebelum mendengar kata-katamu. Beri waktu. Biarkan dorongan untuk "menang" dalam perdebatan itu mengendur dulu. Perbaikan bukan hal yang sama dengan membuktikan bahwa kamu benar.
Cari tahu sisi mereka
Sebelum menyusun apa yang akan kamu katakan, luangkan usaha nyata untuk memahami bagaimana konflik itu terlihat dari sudut pandang mereka. Apakah mereka sedang di bawah tekanan yang tidak kamu lihat? Apakah sesuatu yang kamu lakukan terdengar seperti sindiran padahal tidak pernah kamu maksudkan begitu? Apakah mereka, mungkin, sama malunya dengan kamu tentang bagaimana semuanya berjalan? Kamu tidak harus setuju dengan versi mereka. Tapi kamu harus mampu membayangkannya. Ini bukan soal jadi lembek. Ini satu-satunya cara agar apa yang kamu katakan benar-benar bisa mereka terima.
Ada jebakan cepat yang perlu diwaspadai di sini. Kebanyakan dari kita, saat hubungan mendingin, membangun cerita yang rapi di mana kita yang masuk akal dan mereka yang jadi masalah. Cerita itu terasa seperti fakta. Ada baiknya diuji lagi. Tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang akan dikatakan orang luar yang adil kalau ia menonton seluruh kejadian itu lewat rekaman. Tanyakan, apa yang ingin kamu harapkan orang lain anggap tentang dirimu kalau posisinya terbalik. Kamu bukan sedang mencoba melepaskan mereka dari tanggung jawab. Kamu sedang mencoba berhenti berdebat dengan versi mereka yang sebenarnya hanya ada di kepalamu sendiri.
Akui bagianmu dulu, dan hanya bagianmu
Ini titik engsel dari semuanya. Hampir semua perbaikan yang berhasil dimulai dengan satu pihak mengakui bagiannya dalam kekacauan itu, sebelum meminta apa pun sebagai balasan. Bukan permintaan maaf ala sandera. Bukan "maaf kamu merasa begitu". Melainkan sesuatu yang spesifik dan jujur: "Aku rasa aku terlalu mendominasi kamu di rapat itu, dan aku sudah memikirkannya." Menyebut bagianmu sendiri melakukan dua hal sekaligus. Ini menurunkan kewaspadaan orang lain, karena mereka tidak perlu lagi membela diri. Dan ini menunjukkan, bukan sekadar mengklaim, bahwa kamu mendekat dengan niat baik.
Satu peringatan. Akui bagianmu, bukan bagian mereka, dan jangan mengakui keseluruhan masalah kalau itu bukan sepenuhnya salahmu. Terlalu banyak meminta maaf demi meredakan suasana biasanya justru membuatmu kesal di kemudian hari, yang malah menanam bibit keretakan berikutnya.
Bertemu di tempat netral, dan jangan pasang target terlalu tinggi
Jangan lakukan ini di ruang rapat yang terasa seperti sidang pengadilan. Secangkir kopi, jalan santai, atau telepon santai sudah cukup. Turunkan suhu tempatnya, maka kamu menurunkan taruhan percakapannya. Dan jangan mencoba menyelesaikan semuanya dalam satu pertemuan. Tujuan dari percakapan pertama itu sederhana: membuka pintu, memberi sinyal bahwa kamu ingin keadaan membaik, menemukan satu hal yang bisa kalian sepakati bersama. Penulis soal konflik di tempat kerja, Amy Gallo, mengatakannya dengan jelas. Perbaikan lebih sering terjadi bukan lewat satu obrolan besar, melainkan lewat hal-hal kecil sehari-hari sesudahnya.
Lalu buktikan pelan-pelan
Kata-kata membuka pintu. Perilakulah yang benar-benar melewatinya. Cara tercepat untuk kehilangan lagi kemajuan yang sudah kamu bangun adalah dengan meminta maaf lalu bertindak persis seperti sebelumnya. Jadi lakukan hal-hal kecil yang bisa terlihat. Tepati apa yang sudah kamu katakan. Berikan pengakuan secara terbuka. Ajak mereka masuk sejak awal, bukan menyodorkan keputusan yang sudah final. Kepercayaan dibangun kembali lewat setoran-setoran kecil, bukan pernyataan besar, dan waktu untuk memulihkannya lebih lama daripada waktu untuk merusaknya. Itu bukan hukuman. Memang begitulah cara kerja kepercayaan.
Bagaimana kalau percakapannya memang harus berat?
Kadang keretakan itu bukan sekadar salah paham. Ada orang yang benar-benar melakukan sesuatu yang melewati batas, dan ngobrol santai sambil ngopi hanya akan berpura-pura seolah itu tidak terjadi. Kamu tetap bisa memperbaiki hubungan sambil tetap tegas bahwa suatu perilaku memang tidak benar. Peneliti Amy Edmondson, yang mempelajari apa yang membuat tim cukup aman untuk bersikap jujur, tegas soal ini: rasa aman psikologis tidak pernah berarti apa pun boleh dilakukan. Rasa aman yang sesungguhnya justru mencakup keberanian menyebut perilaku yang melewati batas. Melewatkan itu tidak membuat tempat kerja jadi lebih ramah. Itu justru membuatnya kurang aman, karena orang yang menjadi korban belajar bahwa luka mereka akan diam-diam ditelan begitu saja.
Jadi ketika perlu, sebutkan dampaknya tanpa menilai karakter mereka. "Ketika tenggat waktu diubah tanpa memberi tahu aku, tim jadi kelabakan dan aku terlihat tidak siap di depan klien." Itu berbicara tentang perilaku dan dampaknya, dua hal yang bisa berubah. "Kamu ceroboh dan tidak menghargai waktu siapa pun" berbicara tentang siapa mereka sebagai orang, yang hanya akan mengundang pertengkaran. Jelaskan apa yang terjadi, katakan bagaimana dampaknya bagimu, dan beri ruang untuk tanggapan mereka. Kamu bisa mempertahankan sikap sekaligus tetap membuka pintu.
Bagaimana kalau orang lain tidak mau menemuimu di tengah jalan?
Ini bagian yang sering dilewatkan kebanyakan nasihat. Kamu bisa melakukan semua ini dengan baik dan tetap tidak mendapatkan hubungan yang kamu inginkan. Perbaikan butuh dua orang, dan kamu hanya mengendalikan satu di antaranya.
Kalau kamu sudah benar-benar mengakui bagianmu, tetap berusaha memahami, dan terus bersikap berbeda, tapi orang itu tetap tidak bergeming, itu adalah informasi, bukan kegagalan. Ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui di sini:
- Kamu tidak wajib terus-menerus meminta maaf pada orang yang terus-menerus menolak permintaan maaf itu. Satu pengakuan yang tulus sudah cukup. Setelah itu, mengulanginya hanya melatih kalian berdua untuk menganggap kamulah satu-satunya pihak yang salah.
- Targetkan hubungan yang santun dan berfungsi, bukan hubungan yang dekat. Kamu bisa tetap profesional dengan konsisten pada orang yang tidak akan pernah kamu percayai sepenuhnya. Itu adalah titik akhir yang sah, bukan hadiah hiburan.
- Jaga posisimu sendiri. Terus tunjukkan kerja yang baik dan terlihat. Catat apa yang perlu dicatat. Tetap bersikap baik dengan cara yang bisa dilihat orang lain, agar ketegangan hubungan itu tidak diam-diam menjadi masalah bagi reputasimu.
- Kalau dinamikanya lebih dari sekadar gesekan biasa, kalau itu merendahkan, terus-menerus, atau membuatmu takut menjalani hari-harimu, itu bukan lagi masalah perbaikan hubungan. Itu layak diangkat ke atasan, HR, atau seseorang yang kamu percaya dan bisa membantu, dan itu layak ditanggapi dengan serius, bukan ditelan sendiri.
Ada perbedaan antara hubungan yang butuh diperbaiki dan situasi yang butuh kamu lindungi. Perbaikan itu untuk keretakan yang jujur antara dua orang yang, di dasarnya, sama-sama ingin bekerja sama. Ini bukan alat untuk memperbaiki seseorang yang memperlakukanmu dengan buruk, dan bukan tugasmu untuk memperbaikinya sendirian.
Satu pemikiran kecil terakhir
Kamu mungkin sudah mencoba semua ini dan berakhir di tempat yang belum sepenuhnya selesai. Sopan, tapi tidak dekat. Bisa berfungsi, tapi tidak hangat. Rasanya seperti perbaikannya tidak berhasil. Padahal berhasil. Kebanyakan hubungan yang membawa kita melewati karier bukanlah hubungan yang dalam. Hubungan itu adalah puluhan hubungan biasa yang berfungsi, di mana dua orang yang pernah bertengkar menemukan cara untuk tetap berguna satu sama lain. Mengembalikan salah satu hubungan itu dari kebekuannya diam-diam menjadi salah satu hal paling dewasa yang bisa kamu lakukan di tempat kerja. Dan semuanya dimulai dari satu percakapan yang mungkin sudah kamu hindari lebih lama dari yang seharusnya.
Sumber
- Harvard Business Review, How to Mend a Work Relationship
- Harvard Business Review, How to Repair a Broken Relationship at Work
- Trauma Research Foundation, Edward Tronick's "The Power of Discord"
- Harvard Business School, The Fearless Organization (Amy C. Edmondson)