Deadline-nya sudah lewat. Hasil diagnosis ternyata baik-baik saja, atau operasinya berjalan lancar, atau pindahan akhirnya selesai. Minggu yang berat itu sudah berakhir. Tapi di sinilah kamu, beberapa hari kemudian, masih terasa panas dan tegang. Tidurnya berantakan. Mudah tersinggung ke orang-orang yang kamu sayang. Lelah dengan cara yang sepertinya tidak bisa disentuh oleh tidur.
Kalau itu yang kamu rasakan sekarang, tidak ada yang salah dengan dirimu. Kamu sedang berada di bagian dari stres yang tidak pernah diceritakan orang.
Kita cenderung menganggap stres sebagai satu kejadian tunggal. Sesuatu terjadi, kamu bersiap, kamu menghadapinya, lalu selesai. Tapi tubuhmu berjalan dengan jam yang lebih panjang. Lonjakan energi yang membawamu melewati masa sulit itu harus dihabiskan, dibersihkan, dan disetel ulang sebelum kamu benar-benar merasa seperti dirimu sendiri lagi. Proses meredanya ini adalah prosesnya sendiri, dan tidak terjadi otomatis hanya karena kalendernya sudah berganti. Pemulihan adalah sesuatu yang kamu lakukan, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja padamu.
Tubuhmu memang dirancang untuk kembali tenang
Ketika sesuatu mengancammu, sistem tubuhmu dibanjiri hormon stres dan langsung berpindah ke gigi yang lebih tinggi. Jantung lebih cepat, indra lebih tajam, otot siap tegang. Itu respons yang semua orang tahu. Bagian yang penting di sini adalah apa yang seharusnya terjadi setelahnya.
Respons stres yang sehat dirancang untuk berakhir. Begitu ancamannya lewat, tubuhmu punya rem bawaan. Hormon yang sama yang membuatmu terpacu itu seharusnya memberi sinyal ke sistem alarm untuk dimatikan, sehingga hormonmu perlahan kembali ke kadar normal dan kamu menetap kembali dalam semacam keseimbangan. Para peneliti menggambarkan sistem stres yang berfungsi baik persis seperti ini: naik ketika dibutuhkan, lalu meredam dirinya sendiri kembali begitu bahayanya sudah tertangani. Masalahnya mulai ketika peredaan itu tidak pernah datang, ketika sumber stresnya terus berlanjut atau menumpuk lebih cepat daripada yang bisa kamu bersihkan, dan sistemnya tetap menyala. Keadaan panjang yang tak pernah selesai itulah titik di mana stres berhenti menjadi berguna dan mulai menggerus tubuh serta pikiranmu.
Sisi yang meredakan ini punya nama. Sistem sarafmu punya dua mode besar. Satu menangani ancaman. Yang lain, kadang disebut "rest and digest" (istirahat dan mencerna), adalah sistem parasimpatik, dan inilah yang benar-benar menurunkan detak jantungmu, meredakan tubuhmu, dan membiarkan perbaikan alami berlangsung begitu kamu merasa aman lagi. Setelah masa stres yang panjang, sisi yang menenangkan ini sudah lama tidak diberi kesempatan. Pemulihan sebagian besar tentang membujuknya kembali mengambil kendali.
Kenapa "aku akan santai kalau semuanya sudah tenang" justru jadi bumerang?
Kebanyakan dari kita memperlakukan pemulihan sebagai hadiah yang baru boleh diterima setelah pantas mendapatkannya. Kita memaksa diri terus, berjanji akan beristirahat nanti setelah semua selesai. Lalu saat "setelah semua selesai" itu tiba, kita langsung mengisinya lagi, karena inbox masih penuh dan cucian masih menumpuk dan selalu ada hal berikutnya yang menunggu.
Di sinilah jebakannya. Kalau kamu tidak pernah memberi sinyal ke tubuhmu bahwa keadaan darurat itu benar-benar sudah selesai, tubuhmu akan terus berperilaku seolah belum. Rasa tegang tapi kehabisan tenaga, mudah marah, tidur yang tidak mau datang meski badan sudah hancur, itu semua sering kali adalah suara dari sistem alarm yang belum diberi tahu untuk berhenti. Kamu tidak bisa keluar dari itu hanya dengan berpikir. Kamu harus menunjukkan pada tubuhmu, lewat apa yang kamu lakukan dan bagaimana kamu menghabiskan waktumu, bahwa ia diperbolehkan untuk melepaskan.
Seperti apa pemulihan yang sesungguhnya?
Istirahat bukan hal yang sama dengan tumbang. Rebahan di sofa sambil scroll tiga jam bisa membuatmu terasa lebih hampa daripada sebelumnya, karena itu membuatmu numb tanpa benar-benar memulihkanmu. Pemulihan yang benar-benar berhasil biasanya punya beberapa ciri: menurunkan tingkat ketegangan bukan sekadar mengalihkan perhatian, dilakukan dengan sengaja, dan memberimu sesuatu kembali, entah energi, ketenangan, atau rasa menjadi manusia lagi.
Ada beberapa hal yang paling banyak berperan.
Lindungi tidurmu lebih dulu
Tidur adalah tempat sebagian besar perbaikan terjadi, secara fisik maupun emosional. Ini juga hal pertama yang direbut oleh stres dan hal terakhir yang kembali. Kalau kamu hanya bisa memperbaiki satu hal, perbaiki ini. Pertahankan jam bangunmu tetap sama, bahkan setelah malam yang berat, karena ritme yang stabil membangun kembali lebih cepat daripada satu malam tidur yang sempurna. Berikan dirimu waktu benar-benar untuk melambat sebelum tidur, bukan terus bekerja sampai lampu dimatikan. Kalau pikiranmu langsung berlari begitu kepala menyentuh bantal, itu adalah sisa muatan yang sedang mencari jalan keluar, bukan tanda bahwa kamu gagal untuk santai.
Bergeraklah, dengan lembut
Ini kedengarannya terbalik saat kamu sudah kehabisan tenaga, tapi bergerak membantu tubuhmu membakar sisa zat kimia stres yang masih beredar di dalam dirimu. Tidak harus olahraga berat. Jalan kaki yang sungguhan di luar rumah, stretching pelan, apa pun yang membuatmu bernapas dan keluar dari pikiranmu sendiri sudah cukup. Tujuannya bukan mendorong lebih keras. Tujuannya adalah melepaskan yang tersangkut dan memberi sinyal ke tubuhmu bahwa ia boleh berganti gigi.
Lakukan sesuatu yang tidak berguna
Pemulihan membutuhkan aktivitas tanpa skor. Waktu yang tidak menghasilkan apa-apa, tidak memperbaiki apa pun, dan tidak membuktikan apa-apa. Memasak dengan santai. Duduk bersama teman. Berendam, membaca buku, tanganmu di tanah. Intinya bukan produktivitas. Intinya adalah membiarkan sisi yang menenangkan dari sistem sarafmu kembali menyala, yang tidak bisa dilakukan selama kamu masih mengukur dirimu sendiri.
Kembali ke orang-orang
Stres cenderung membuat kita menarik diri dan menghadapinya sendirian sambil menggigit gigi. Tapi koneksi yang stabil dan tanpa tekanan adalah salah satu cara paling ampuh bagi manusia untuk kembali tenang. Kamu tidak perlu percakapan dalam tentang semua yang kamu lewati. Kadang cukup berada di ruangan yang sama dengan orang yang nyaman untuk ditemani. Menjangkau orang-orang yang membantumu menghadapi keadaan dengan cara yang sehat adalah salah satu hal yang terus disebut oleh para ahli kesehatan mental.
Kurangi sedikit bebanmu
Pemulihan sulit dijalani kalau tuntutan di sekitarmu masih di titik maksimal. Lihat baik-baik minggu depan dan tanya pada dirimu, apa yang bisa dipotong, ditunda, ditolak, atau dilimpahkan ke orang lain. Pemulihan bukan hanya soal menambahkan hal-hal yang menenangkan. Ini juga soal mengurangi, setidaknya untuk sementara, supaya sistemmu punya ruang untuk menyetel ulang.
Beri waktu lebih lama dari yang terasa wajar
Kita sering sangat meremehkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar meredakan diri. Setelah masa yang berat, apalagi yang panjang, beberapa malam tidur yang baik tidak akan langsung membalikkan keadaan. Bisa butuh berminggu-minggu hidup yang lebih stabil sampai keadaan normalmu benar-benar kembali, dan itu wajar, bukan tanda kelemahan. Kalau kamu terus mengharapkan dirimu bisa langsung bangkit dalam sehari dan terus merasa kurang, jarak itu sendiri bisa jadi sumber stres yang baru. Turunkan standarnya. Kamu sedang berproses memulihkan diri, dan itu adalah kerja yang nyata, meskipun kelihatannya seperti melakukan lebih sedikit.
Perlu diketahui juga, pemulihan hampir tidak pernah berjalan dalam garis lurus. Kamu akan punya hari yang baik, lalu hari yang datar. Malam dengan tidur yang benar-benar lelap, lalu malam yang gelisah lagi. Naik-turun itulah yang sebenarnya terlihat seperti proses penyembuhan, bukan tanda bahwa kamu mundur.
Bagaimana kalau istirahat saja tidak cukup?
Kadang rasa tegang, kehabisan tenaga, dan tidak bisa tenang itu tidak juga hilang, sekeras apa pun kamu merawat dirimu. Itu patut diperhatikan. Hubungi dokter atau profesional kesehatan mental kalau sudah berminggu-minggu berlalu dan kamu masih belum pulih, kalau tidurmu terus berantakan, kalau kamu mulai menggunakan alkohol atau hal lain untuk meredakan diri, atau kalau perasaan sedih, cemas berlebihan, atau hampa mulai menetap dan tidak hilang. Hal yang sama berlaku kalau yang kamu lewati adalah trauma yang nyata, atau kalau stresnya tidak pernah benar-benar berhenti dan belum terlihat "sesudahnya" sama sekali.
Membutuhkan lebih dari sekadar istirahat bukan berarti istirahatmu gagal. Ada beban yang terlalu berat untuk diletakkan sendirian, dan menjadi manusia sebagian artinya adalah tahu kapan harus membiarkan orang lain membantumu memikulnya. Kamu tidak harus dalam krisis untuk pantas mendapat dukungan. Kamu hanya perlu sudah lelah melakukan semua ini sendirian.
Sumber
- Cleveland Clinic, Parasympathetic Nervous System (PSNS): What It Is & Function
- National Institute of Mental Health, I'm So Stressed Out! Fact Sheet
- Future Science OA, The effects of chronic stress on health: new insights into the molecular mechanisms of brain-body communication