Langsung ke konten utama

KEPEMIMPINAN · SISI MANUSIAWI

Hadir untuk orang-orang di masa sulit

Hadir untuk orang-orang di masa sulit itu lebih berarti daripada kata-kata yang diucapkan. Mereka akan mengingat siapa yang datang, dan siapa yang datang lagi. Ketika seseorang di timmu sedang berduka, ketakutan, atau diam-diam mulai kewalahan, kamu tidak perlu skrip yang sempurna. Ini caranya jadi sandaran yang stabil tanpa memperburuk keadaan: tawarkan bantuan yang jelas dan spesifik, bukan sekadar "kalau butuh apa-apa bilang aja", lalu tanya kabarnya lagi beberapa minggu kemudian, saat orang lain sudah lupa.

Alat gratis berbasis bukti untuk stres, rasa kewalahan, hubungan, kesehatan, dan kepemimpinan yang mantap. Program dari KEEP CALM Inc., sebuah nirlaba. 501(c)(3) · EIN 33-2117386 Tentang

Fotografi selang waktu padang rumput hijau dan awan

Foto oleh Frantzou Fleurine di Unsplash

Jika kamu sedang krisis atau berpikir untuk menyakiti diri sendiri, kamu tidak sendirian. Di AS, telepon atau SMS 988 (Suicide & Crisis Lifeline, 24/7), SMS HOME ke 741741 (Crisis Text Line), atau telepon 911 dalam keadaan darurat. Di mana pun kamu berada di dunia, findahelpline.com memuat daftar layanan krisis yang gratis dan rahasia di negaramu sendiri dan dalam bahasamu sendiri. Kalau kamu sedang dalam bahaya langsung, hubungi nomor darurat setempat.

Ada rekan kerjamu yang sedang berat banget. Orang tua yang masuk hospice. Pernikahan yang mulai retak. Hasil scan yang masih ditunggu. Anak yang lagi tidak baik-baik saja. Mungkin dia cerita langsung, atau mungkin kamu cuma menyadari sinar matanya meredup saat rapat. Dan sekarang kamu terjebak di titik yang banyak dari kita alami: kamu ingin membantu, tapi takut apa pun yang kamu ucapkan malah salah.

Jadi banyak orang memilih diam. Mereka bilang ke diri sendiri bahwa ini soal menghargai privasi, memberi ruang. Sebagian dari itu memang benar. Tapi sebagian besarnya adalah rasa takut. Kita diam karena momennya terasa rapuh dan kita tidak mau jadi orang yang bikin canggung.

Dan inilah bagian yang melegakan. Standarnya jauh lebih rendah dari yang kamu kira. Orang yang sedang terluka hampir tidak pernah mengingat apakah kamu mengucapkan kalimat yang "benar". Yang mereka ingat adalah apakah kamu hadir, dan apakah kamu kembali lagi.

Yang sebenarnya kamu takutkan

Kalau ditelusuri, rasa takut itu biasanya berakar pada satu keyakinan: bahwa ada naskah yang benar, dan kalau kamu tidak punya naskah itu, kamu akan menyakiti mereka. Kamu membayangkan dirimu keceplosan bicara sesuatu yang kikuk dan membuat orang yang berduka merasa lebih buruk.

Ketakutan itu justru terbalik. Kalimat kikuk tapi tulus seperti "Aku nggak tahu harus bilang apa, tapi aku ikut sedih, dan aku mikirin kamu" jauh lebih berarti daripada diam yang rapi. Yang menyakiti orang di masa berat bukan kata-kata yang tidak sempurna. Yang menyakiti adalah dibiarkan tanpa apa-apa, hari demi hari, oleh rekan-rekan yang jelas tahu tapi jelas memalingkan muka.

Menulis untuk Harvard Business Review, pelatih eksekutif Sabina Nawaz membedakan dua jenis dukungan: *doing* dan *being*. Doing adalah membawakan makanan, menggantikan shift kerja, menawarkan diri untuk menghandle telepon klien supaya dia bisa pulang lebih awal. Being adalah sekadar hadir bersama seseorang dalam kesakitannya, tanpa mencoba memperbaikinya atau mempercepatnya berlalu. Kebanyakan dari kita memilih doing karena itu konkret dan memberi tangan kita sesuatu untuk dikerjakan. Tapi being adalah hadiah yang lebih sulit, lebih jarang diberikan, dan biasanya itulah yang paling dibutuhkan orang.

Kenapa being itu sulit? Karena itu memintamu duduk dalam ketidaknyamanan tanpa jalan keluar. Ketika seseorang menangis di depanmu, semua instingmu langsung menyala: hibur dia, cari sisi positifnya, alihkan topik, sodorkan tisu dan solusi. Tahan semua itu. Membiarkan seseorang bersedih di dekatmu, tanpa mendesaknya cepat keluar dari perasaan itu, mengatakan padanya bahwa perasaan itu boleh ada. Izin seperti itu lebih jarang diberikan daripada nasihat, dan jauh lebih berharga. Kamu tidak harus membuatnya lebih baik. Kamu cuma harus tidak menghindar.

Apa yang sebaiknya diucapkan, dan apa yang sebaiknya dihindari?

Kamu tidak butuh naskah. Kamu butuh beberapa insting, dan beberapa hal yang perlu dihindari.

Mulai dengan sederhana dan hangat. "Aku dengar soal ayahmu. Aku ikut sedih banget." Itu sudah cukup. Kamu sudah menyatakan bahwa kamu tahu, kamu sudah menyatakan bahwa kamu peduli, dan kamu tidak menuntut apa pun sebagai balasan. Kalau mau melangkah lebih jauh, coba "Aku nggak bisa membayangkan gimana rasanya buat kamu." Itu menghormati bahwa pengalamannya adalah miliknya sendiri, bukan versi dari sesuatu yang pernah kamu alami.

Nah, ini bagian yang sering salah. Tahan diri dari keinginan membanding-bandingkan. Saat kamu bilang "Aku ngerti banget perasaanmu, waktu mama aku meninggal dulu..." kamu diam-diam mengalihkan momen itu ke dirimu sendiri, dan orang itu sekarang harus mengurus duka kamu di atas dukanya sendiri. Nawaz juga menyarankan untuk melewatkan interogasi. Hindari "Gimana kabarmu?" dan "Kejadiannya gimana?" sebagai pembuka. Pertanyaan itu memaksa seseorang memutuskan, saat itu juga, seberapa banyak yang harus ditampilkan untukmu, padahal mungkin dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Tawarkan perhatianmu tanpa menempelkan tagihan padanya.

Beberapa hal lagi yang membantu:

  • Sebut nama orang yang meninggal, kalau memang ada yang meninggal. Orang sering berjalan mengendap-endap di sekitarnya, yang malah membuat kehilangan itu terasa tak terucapkan. Mendengar "Aku terus mikirin kakakmu" memberi tahu mereka bahwa aman untuk membicarakannya, dan juga aman untuk tidak membicarakannya.
  • Ganti "Kabarin aja kalau butuh apa-apa" dengan sesuatu yang spesifik. Tawaran terbuka seperti itu terdengar baik, tapi diam-diam malah membebani mereka: memikirkan apa yang dibutuhkan, mencari kata-kata, dan meminta. Kebanyakan orang tidak akan melakukannya. "Aku bawain makan malam hari Kamis, jam enam boleh?" lebih mudah diterima daripada ditolak.
  • Pilih waktumu. Pelukan di lorong saat dia baru mau masuk rapat anggaran bisa membuatnya hancur. Sampaikan belasungkawa secara pribadi, saat istirahat, di tempat dia tidak sedang bersiap untuk tampil.
  • Kalau tidak tahu harus bilang apa, katakan saja itu. "Aku nggak tahu kata yang tepat" itu jujur, dan kejujuran terasa seperti kepedulian.

Kenapa satu kali ngobrol saja tidak cukup?

Di sinilah orang-orang berniat baik sering kehilangan arah. Mereka melakukan satu percakapan yang berat dan baik di awal, merasa lega karena sudah melakukannya, lalu diam-diam melanjutkan hidup. Sementara itu makanan berhenti dikirim, kartu ucapan berhenti datang, sapaan berhenti muncul, dan orang yang berduka ditinggal sendirian justru di saat rasa kebas mulai hilang dan beban sesungguhnya mulai terasa.

Duka dan krisis tidak berjalan sesuai kalender kerja. Cuti duka standar sering hanya beberapa hari. Tapi gangguan sesungguhnya pada fokus, energi, dan rasa percaya diri seseorang bisa berlangsung berbulan-bulan. Dunia mengharapkan mereka "kembali normal" jauh sebelum itu benar-benar terjadi, dan jarak antara dua garis waktu itu adalah salah satu tempat paling sepi yang bisa didiami seseorang.

Jadi hal paling berpengaruh yang bisa kamu lakukan juga adalah hal paling sederhana: terus kembali. Pasang pengingat kalau perlu. Pesan singkat beberapa minggu kemudian, "Masih mikirin kamu, nggak perlu dibalas," bisa berarti lebih dari apa pun yang kamu ucapkan di minggu pertama, justru karena hampir tidak ada orang lain yang masih mengingat. Jangan menguji perkembangan mereka. "Udah mulai baikan belum?" mengubah proses sembuhnya menjadi ujian yang bisa gagal. "Senang lihat kamu" tidak membawa jebakan seperti itu.

Bagaimana kalau kamu hampir tidak mengenalnya?

Tidak semua masa sulit terjadi pada orang yang dekat denganmu. Kadang itu rekan kerja dua meja di sebelah, atau anggota tim yang belum pernah makan siang bersamamu, dan kamu meyakinkan diri untuk tidak bicara apa-apa karena pasti ini bukan tempatmu untuk turun tangan. Pasti ada orang lain yang lebih dekat yang seharusnya mengurus ini.

Alasan itu membuat banyak orang berakhir sendirian. Kenyataannya, duka dan ketakutan mempersempit dunia seseorang dengan cepat, dan teman-teman yang mereka kira akan hadir sering juga tidak muncul, entah karena ketakutan yang sama seperti yang kamu rasakan, atau karena mereka tidak tahu. Sebuah pesan singkat, tanpa beban, dari seseorang yang berada di pinggiran hidup mereka bisa berdampak mengejutkan. "Aku dengar, dan aku cuma mau bilang aku ikut sedih. Aku ada kalau kamu mau ditemani makan siang kapan-kapan." Kamu tidak mengaku-ngaku kedekatan yang tidak kamu miliki. Kamu sekadar membuka pintu dan membiarkan mereka memutuskan sendiri mau melewatinya atau tidak. Kebanyakan orang mengingat betul siapa yang menghubungi mereka padahal tidak wajib melakukannya.

Satu peringatan: jaga agar tetap ringan dan biarkan mereka memimpin. Dengan seseorang yang hampir tidak kamu kenal, kamu menawarkan kehadiran, bukan tekanan. Kalau mereka menjawab seperlunya atau tidak membalas, tidak masalah. Kamu sudah hadir. Itu saja tugasmu.

Bagaimana kalau kamu adalah atasannya?

Kalau kamu adalah manajernya, kehangatanmu punya bobot yang tidak dimiliki oleh sesama rekan kerja, dan itu mengubah segalanya. Seorang anggota tim tidak bisa benar-benar merasa nyaman dengan kebaikanmu kalau di sisi lain dia juga bertanya-tanya apakah kejujurannya nanti akan berakibat padanya. Mereka menghitung-hitung meski kamu berharap mereka tidak melakukannya: seberapa banyak boleh aku menunjukkan kelemahan pada orang ini sebelum itu terbawa ke penilaian kerjaku berikutnya? Jadi dukungan itu harus dibarengi dengan sesuatu yang nyata, atau kalau tidak, itu akan terasa seperti jebakan.

Riset terbaru American Psychological Association, Work in America, menemukan bahwa pekerja yang merasa benar-benar didukung, yang punya hubungan baik dengan manajernya dan percaya bahwa mereka berarti bagi organisasi, melaporkan stres yang jauh lebih rendah dan rasa "beracun" dalam pekerjaan yang jauh lebih kecil. Merasa dihargai bukan sekadar bonus yang manis. Itu terlihat nyata dalam seberapa tenang seseorang saat berada di bawah tekanan.

Ketenangan itulah yang oleh peneliti Harvard, Amy Edmondson, disebut keamanan psikologis: keyakinan bersama bahwa kamu bisa bersuara, mengakui kalau sedang kesulitan, atau bilang "Aku nggak bisa ambil itu minggu ini" tanpa takut dihukum karenanya. Risetnya menemukan bahwa hal ini paling penting justru saat keadaan paling sulit, saat anggaran menipis dan ketidakpastian meningkat. Insting saat masa sulit biasanya adalah menuntut semua orang untuk terus mendorong maju. Tapi para pemimpin yang lebih baik adalah mereka yang tetap membuat ruang aman untuk menjadi manusia, sambil terus mendorong maju.

Dalam praktiknya, bagi seorang manajer, itu terlihat seperti:

  • Mengurangi beban sebelum mereka meminta. Ambil sesuatu dari daftar kerjanya, perpanjang deadline, gantikan satu rapat. Jangan buat mereka harus "berpura-pura sehat" dulu untuk mendapatkan keringanan.
  • Jelas soal aturan mainnya. "Pekerjaanmu aman. Ambil waktu yang kamu butuhkan. Kita akan cari solusi untuk pekerjaannya." Ketidakjelasan adalah sumber stres tersendiri, dan kamu bisa menghapusnya hanya dengan satu kalimat.
  • Melindungi mereka dari perhatian orang-orang yang bermaksud baik. Kadang tindakan paling baik adalah menjawab pertanyaan orang lain supaya mereka tidak harus menceritakan ulang berita paling berat dalam hidupnya sepuluh kali.
  • Menepati apa yang sudah dijanjikan. Seorang pemimpin yang menawarkan keleluasaan tapi lalu mengeluh soal deadline mengajarkan tim bahwa tawaran itu tadi hanya jebakan. Kalau maksudnya serius, buktikan. Kalau tidak, jangan diucapkan.

Kamu pasti akan ada salahnya

Memang begitu. Kamu akan membanding-bandingkan. Kamu akan diam saat sebetulnya ingin menyapa. Kamu akan lupa menanyakan kabar lagi. Itu bukan alasan untuk berhenti mencoba sama sekali, itu hanyalah bagian dari menjadi manusia yang mencoba membantu manusia lain melewati sesuatu yang benar-benar berat.

Saat kamu melewatkannya, sedikit permintaan maaf sudah sangat berarti. "Aku sadar aku jadi diam belakangan ini, dan aku minta maaf. Aku di sini." Orang bisa memaafkan kekikukan. Yang membekas adalah keputusan untuk kembali lagi.

Akan membantu kalau kamu melepaskan gagasan bahwa ada garis akhir di mana kamu sudah "berhasil" mendukung seseorang dan bisa berhenti. Tidak ada garis seperti itu. Yang ada hanyalah rentetan panjang kesempatan biasa untuk berbuat baik, kebanyakan kecil dan mudah terlewat. Kabar baiknya, itu justru mengurangi tekanan. Kamu tidak perlu benar dalam satu momen besar. Kamu punya seratus momen kecil, dan kamu cuma perlu mengambil beberapa saja.

Satu kata terakhir, untuk dirimu sendiri. Mendukung seseorang melewati masa yang panjang dan berat juga bisa membuatmu lelah, apalagi kalau itu orang yang dekat denganmu, atau kalau ada beberapa orang yang sedang berjuang sekaligus. Sadari itu. Bersandarlah pada orang-orang di sekitarmu sendiri. Dan kalau seseorang yang kamu khawatirkan sepertinya tenggelam lebih dalam dari yang bisa dijangkau oleh perhatian dan kesabaran, merasa tanpa harapan, tidak bisa tidur, atau mengisyaratkan tidak ingin ada lagi, jangan coba memikul itu sendirian. Bantu mereka menemui dokter, terapis, atau layanan krisis, dan tetaplah dekat selama mereka melakukannya. Kadang hadir berarti berjalan bersama seseorang sampai ke pintu bantuan yang tidak bisa dia buka sendiri.

Semua ini pada akhirnya lebih ringan dari yang kamu takutkan, dan lebih besar dari yang kamu kira. Perhatikan. Ucapkan sesuatu yang sederhana dan tulus. Lalu terus kembali saat semua orang lain sudah melanjutkan hidup. Itu saja. Itulah tugasnya.

Sumber

  1. Harvard Business Review, How to Offer Support to a Grieving Colleague (Sabina Nawaz)
  2. American Psychological Association, 2025 Work in America: Job security and worker stress
  3. Harvard Business Review, In Tough Times, Psychological Safety Is a Requirement, Not a Luxury (on Amy Edmondson's research)

Gratis, dalam 36 bahasa. Nirlaba, tanpa iklan, tanpa biaya, dan kami tidak pernah menjual data Anda.

Baca perpustakaannya Donasi